Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Gelombang Laut NTT Meningkat, Aktivitas Laut Terancam

Jumat, 13 Februari 2026 | Februari 13, 2026 WIB Last Updated 2026-02-13T12:13:50Z

 

Ilustrasi gelombang laut. BMKG memperingatkan potensi gelombang sedang hingga tinggi di perairan Nusa Tenggara Timur pada 14–17 Februari 2026.

Kupang, NTT, 13 Februari 2027– Aktivitas laut di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi terganggu seiring meningkatnya gelombang laut dalam beberapa hari ke depan. BMKG secara resmi mengeluarkan peringatan dini gelombang laut dengan ketinggian mencapai 1,25 hingga 2,5 meter, yang dinilai dapat mengancam keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir.


Peringatan tersebut berlaku mulai 14 Februari 2026 pukul 08.00 WITA hingga 17 Februari 2026 pukul 08.00 WITA, sebagaimana disampaikan oleh Stasiun Meteorologi Maritim Tenau. Kondisi ini diprediksi berdampak langsung pada nelayan tradisional, kapal penyeberangan, hingga aktivitas distribusi logistik laut antarwilayah di NTT.


BMKG mencatat, gelombang laut dengan kategori sedang hingga tinggi berpeluang terjadi di sejumlah perairan strategis, antara lain Selat Sape bagian selatan, Perairan Utara Flores, Selat Flores–Lamakera, Selat Pantar, Selat Alor, Perairan Selatan Flores, Perairan Selatan Alor–Pantar, Selat Sumba bagian barat dan timur, Laut Sawu, Selat Ombai, Perairan Selatan Sumba, Perairan Utara dan Selatan Sabu–Raijua, Perairan Utara Kupang–Rote, hingga Perairan Selatan Timor–Rote.


Meningkatnya gelombang laut ini dipengaruhi oleh kehadiran pusat tekanan rendah di wilayah utara Australia (Darwin). Sistem ini menyebabkan pertemuan dan belokan angin di atas wilayah NTT, sehingga memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat, disertai kilat, petir, dan angin kencang.


Secara umum, pola angin di wilayah Nusa Tenggara Timur bergerak dari Barat Daya hingga Barat Laut dengan kecepatan berkisar 6 hingga 30 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di beberapa perairan utama seperti Selat Sape, Selat Pantar, Laut Sawu, Selat Ombai, Selat Sumba, Perairan Sabu–Raijua, Kupang–Rote, hingga Perairan Selatan Timor–Rote, yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut secara signifikan.


Dalam saran keselamatan, BMKG menegaskan bahwa perahu nelayan berisiko tinggi apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter, sementara kapal tongkang berisiko ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter. Selain itu, masyarakat pesisir diminta mewaspadai awan Cumulonimbus (awan gelap menyerupai bunga kol) yang dapat memicu perubahan arah dan kecepatan angin secara tiba-tiba serta meningkatkan gelombang laut dalam waktu singkat.


BMKG mengimbau seluruh pelaku aktivitas laut untuk meningkatkan kewaspadaan, membatasi pelayaran saat cuaca memburuk, serta secara rutin memantau informasi cuaca maritim terbaru guna meminimalkan risiko kecelakaan di laut.


Meningkatnya gelombang laut menjadi pengingat penting bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di perairan NTT. Dengan mengikuti peringatan dini BMKG, masyarakat pesisir diharapkan dapat menghindari risiko dan kerugian akibat cuaca laut yang tidak bersahabat.

✒️: kl

Sumber: BMKG – Stasiun Meteorologi Maritim Tenau