Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

TKA SDI RSS Oesapa: Dari Indikator Merah ke Hijau, Literasi Jadi Kunci

Rabu, 25 Februari 2026 | Februari 25, 2026 WIB Last Updated 2026-02-25T09:05:45Z

 


Proktor SDI RSS Oesapa, Firdaus A. Pasutan, S.Pd, menegaskan pentingnya literasi dan numerasi sebagai kunci keberhasilan TKA

.

Kota Kupang,NTT,25 Februari 2025-Pelaksanaan TKA di SDI RSS Oesapa menjadi perhatian serius pihak sekolah. Firdaus A. Pasutan, S.Pd, selaku Proktor SDI RSS Oesapa, membagikan pengalamannya terkait perkembangan kemampuan siswa sejak diberlakukannya sistem asesmen terbaru tersebut.


Menurutnya, kemampuan adik-adik kita sejauh ini seperti apa, menjadi pertanyaan besar karena TKA ini pertama kali dilakukan. Ia menjelaskan, mungkin yang bisa saya bagikan itu pengalaman waktu ANBK, karena saya mendengar dari tingkat atas yaitu SMA dan SMK yang sudah menjalankan TKA, prosesnya tidak beda jauh dengan ANBK.


Bahkan, saat mengikuti bimbingan teknis (bimtek), disampaikan bahwa NBK sudah dihilangkan. Karena dulu NBK itu bersifat sentral saja untuk melihat wajah sekolah. Sekarang diganti menjadi TKA yang merupakan satu keseluruhan murid tingkat akhir yang harus mengikuti dan prosesnya sama dengan NBK. “Di sini saya melihat kemampuan anak itu beragam,” ujarnya.


Sebagai proktor, Firdaus mengaku terlibat langsung dalam pelaksanaan di lapangan, baik di ruang kelas maupun di lingkungan sekolah. Ia menilai, jika dilihat dari tahun ke tahun sejak dirinya menjadi proktor, banyak perubahan pada anak-anak.


Ketika mengikuti UNBK pertama di sekolah ini secara mandiri, saat hasil keluar, masih terdapat beberapa kelemahan. Namun kelemahan itu sudah dimaksimalkan kepada anak-anak. Contohnya, sekolah memperkuat literasi dan numerasi karena itu menjadi bekal mereka di SMP.


“SD ini fokusnya literasi dan numerasi saja,” tegasnya. Anak-anak benar-benar digenjot agar saat lulus dari SD, semua sudah tahu membaca.


Hasilnya terlihat nyata. Tahun pertama masih ada indikator yang merah. Tahun ke-2 berubah menjadi kuning, bahkan yang kuning berubah menjadi hijau.


“Kami berusaha supaya hasil yang merah di tahun berikut tidak boleh lagi ada yang merah, harus hijau,” katanya.


Ia menambahkan, dengan berbagai pengalaman dua atau tiga tahun terakhir, dampaknya sangat terasa bagi sekolah dan keberhasilan asesmen berikutnya.


Firdaus juga mengungkapkan tantangan besar dalam ujian berbasis komputer. Anak-anak yang mengikuti ujian dengan kertas akan berbeda hasilnya dengan ujian secara online. Faktor gugup, kebiasaan mengoperasikan perangkat, hingga asal klik sangat memengaruhi nilai.


“Bukan hanya kemampuan akademik mereka, tetapi faktor perasaan dan karakter mereka di dalam ruangan juga mempengaruhi,” jelasnya.


Karena itu, pihak sekolah sebagai proktor maupun teknisi bekerja keras menggabungkan literasi dan numerasi dengan fasilitas yang ada. Anak-anak dibiasakan menggunakan perangkat agar tidak canggung saat ujian.


Menjelang simulasi bulan Maret dan pelaksanaan nasional pada April, Firdaus berpesan kepada siswa SD maupun SMP yang akan melaksanakan TKA:


Sering-sering latihan menggunakan perangkat, baik laptop maupun komputer di rumah.


Dengan latihan yang cukup, siswa tidak akan gugup saat berada di ruang ujian sehingga pelaksanaan bisa berjalan baik.


Terkait kemampuan membaca dan menulis siswa kelas 6, ia memastikan seluruh siswa sudah mampu. Ia juga menyinggung bahwa di beberapa tempat, bahkan hingga SMP masih ada yang belum lancar membaca, sehingga penguatan di tingkat SD menjadi sangat penting. “Dapat dipastikan semua sudah bisa membaca,” tutupnya.

✒️: kl