![]() |
| Mahasiswa dari GMNI dan PMKRI menggelar aksi di depan Polres Sikka, Rabu (4/3/2026), menuntut aparat kepolisian mengusut tuntas kasus kematian Adik Noni di Rubit secara transparan dan tanpa kompromi. |
Maumere,NTT – Mahasiswa kepung Polres Sikka dalam aksi yang digelar Rabu (4/3/2026) sebagai bentuk desakan keras kepada aparat kepolisian agar segera mengusut tuntas kasus kematian Adik Noni di Rubit secara transparan dan tanpa kompromi.
Gelombang tekanan publik terhadap aparat penegak hukum di Kabupaten Sikka kini semakin kuat. Dua organisasi mahasiswa besar di daerah ini, yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere Santo Thomas Morus, menyatakan sikap tegas bahwa keadilan bagi korban tidak boleh ditunda.
Aksi yang dipusatkan di Mapolres Sikka tersebut menjadi simbol tekanan moral mahasiswa terhadap aparat penegak hukum agar bekerja profesional, objektif, dan tidak tebang pilih dalam mengungkap kasus yang telah menyita perhatian luas masyarakat.
Mahasiswa menilai bahwa transparansi dalam proses penyelidikan menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
GMNI Cabang Sikka menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan konsisten dan terbuka.
Menurut mereka, lambannya penanganan perkara justru menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat dan berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.
Melalui aksi ini, GMNI menyuarakan tuntutan agar seluruh pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut diperiksa secara menyeluruh.
Dengan mengusung tagar #AparatLambat, GMNI menegaskan bahwa tidak boleh ada aktor yang luput dari proses hukum.
Seruan yang terus menggema dalam aksi tersebut adalah:
“Usut tuntas tanpa kompromi!”
Sementara itu, PMKRI Cabang Maumere Santo Thomas Morus menyebut aksi mahasiswa ini sebagai Aksi Duka untuk Keadilan Adik Noni.
Menurut PMKRI, peristiwa ini tidak hanya menyangkut persoalan hukum semata, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang lebih dalam.
Bagi mereka, setiap korban berhak mendapatkan keadilan, dan negara memiliki kewajiban untuk memastikan proses hukum berjalan secara adil dan transparan.
PMKRI juga menegaskan bahwa penyelidikan kasus ini harus dilakukan secara objektif serta bebas dari intervensi pihak mana pun.
Keadilan bagi korban, menurut mereka, merupakan bagian penting dari upaya menjaga martabat hukum dan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.
Aksi gabungan dua organisasi mahasiswa ini diprediksi menjadi salah satu bentuk tekanan publik terbesar dalam beberapa waktu terakhir di Kabupaten Sikka.
Dengan mengusung semangat perjuangan mahasiswa seperti: “Merdeka! GMNI Jaya! Marhaen Menang!”
para mahasiswa menegaskan bahwa perjuangan mereka tidak akan berhenti sampai kebenaran benar-benar terungkap.
Gerakan ini sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa tetap memegang peran penting sebagai penjaga moral publik dan pengawal keadilan sosial.
Akankah tuntutan mahasiswa dijawab dengan langkah konkret? Ataukah gelombang aksi akan semakin membesar jika penanganan kasus ini dinilai tidak transparan?
Satu hal yang pasti, suara keadilan untuk Adik Noni di Rubit kini semakin menggema, dan mahasiswa memilih berdiri di barisan terdepan untuk mengawal proses hukum tersebut.
Mahasiswa kepung Polres Sikka. GMNI dan PMKRI mendesak polisi mengusut tuntas kematian Adik Noni di Rubit secara transparan.
