![]() |
| Ana Waha Kolin, Sekretaris Komisi IV DPRD NTT, saat memberikan keterangan kepada media terkait kerusakan mangrove di Kota Uneng, Maumere, Kamis (26/3/2026). |
Maumere, NTT— Ana Waha Kolin DPRD NTT buka suara terkait kerusakan mangrove di Kota Uneng, Kabupaten Sikka, yang diduga akibat pembabatan dan aktivitas penambangan liar, Kamis, 26 Maret 2026.
Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi NTT, Ana Waha Kolin, kepada media ini menegaskan bahwa kondisi mangrove di Kota Uneng tidak bisa dianggap sepele.
Ia menyebut, pembabatan mangrove yang terjadi menunjukkan adanya masalah serius dalam pengelolaan kawasan pesisir.
“Kalau mangrove dirusak, dampaknya besar bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ana Waha Kolin DPRD NTT, salah satu akar persoalan adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang fungsi mangrove.
Mangrove bukan sekadar pohon biasa, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir.
“Artinya masyarakat belum diberi pemahaman yang betul tentang fungsi mangrove,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti lemahnya kehadiran pemerintah dalam menangani persoalan ini.
Padahal, pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan edukasi sekaligus pengawasan.
“Kalau pemerintah hadir, masyarakat pasti tahu pentingnya mangrove,” katanya.
Ana Waha Kolin DPRD NTT juga mengungkap adanya dugaan aktivitas penambangan liar di kawasan mangrove Kota Uneng.
Menurutnya, hal ini tidak mungkin terjadi jika pengawasan berjalan dengan baik.
“Kalau sampai ada penambangan liar, itu sudah keterlaluan,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ini sangat bertolak belakang dengan upaya penghijauan di Nusa Tenggara Timur.
Di satu sisi pemerintah mendorong penghijauan, namun di sisi lain mangrove justru dirusak.
Ana Waha mendesak Pemerintah Kabupaten Sikka, khususnya dinas kehutanan, untuk segera turun tangan.
Ia menekankan pentingnya pendekatan persuasif kepada masyarakat pesisir.
“Harus lebih soft, lakukan advokasi supaya masyarakat paham,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran pemerintah tingkat bawah, termasuk RT, dalam menjaga kawasan mangrove.
Tanpa pengawasan dari level terkecil, kerusakan akan terus terjadi.
Kerusakan mangrove di Kota Uneng menjadi alarm serius bagi semua pihak. Tanpa langkah cepat, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.
Mangrove bukan sekadar pohon.
Ia pelindung kehidupan pesisir.
Saat dirusak, yang hilang bukan hanya hutan.
Tapi juga masa depan.
Dan itu tidak boleh dibiarkan.
✒️: kl
