![]() |
| Kadin Rote Ndao bersama petani dan mitra meninjau sekaligus menunjukkan hasil tanaman sorgum di Kecamatan Landu Leko yang akan dipanen pada awal Mei 2026 sebagai bagian dari pengembangan komoditas unggulan daerah. |
Rote Ndao, NTT —Gerak cepat langsung ditunjukkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Rote Ndao. Baru sehari setelah resmi dilantik, jajaran pengurus langsung turun lapangan untuk memastikan kesiapan panen perdana sorgum di Kecamatan Landu Leko.
Lahan seluas 15 hektare yang akan dipanen ini merupakan bagian dari program kolaboratif antara Diaspora Rote Ndao, Kadin Rote Ndao, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Pemerintah Kabupaten Rote Ndao dalam mendorong penguatan sektor pertanian berbasis komoditas unggulan.
Panen perdana tersebut dijadwalkan berlangsung pada awal Mei 2026 dan diproyeksikan menjadi momentum penting dalam pengembangan sorgum sebagai komoditas strategis daerah.
Kehadiran Kadin Rote Ndao dalam program ini tidak hanya sebatas dukungan administratif, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam menghubungkan petani dengan pasar.
Sorgum dipilih bukan tanpa alasan. Tanaman ini dinilai adaptif terhadap kondisi lahan kering seperti di Rote Ndao, serta memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar yang terus berkembang, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kolaborasi lintas pihak ini menunjukkan keseriusan dalam menjadikan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Panen perdana sorgum ini rencananya akan dihadiri oleh Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, sebagai bentuk dukungan pemerintah provinsi terhadap pengembangan komoditas lokal.
Selain itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia juga dijadwalkan turut hadir apabila tidak ada halangan. Kehadiran pejabat nasional ini dinilai akan memperkuat posisi sorgum sebagai bagian dari potensi pangan dan budaya lokal yang layak dikembangkan secara lebih luas.
Tidak hanya itu, Sorghum Foundation juga dipastikan hadir untuk melihat langsung hasil produksi petani sekaligus memperkuat jejaring pemasaran.
Salah satu poin paling penting dalam program ini adalah adanya kepastian pasar bagi petani. Pada saat panen perdana, seluruh hasil panen akan langsung dibeli di lokasi oleh pihak pembeli dan dibayar secara tunai.
Skema ini menjadi solusi konkret atas persoalan klasik yang sering dihadapi petani, yakni kesulitan pemasaran dan ketidakpastian harga.
Dengan adanya jaminan pembelian langsung, petani tidak lagi bergantung pada rantai distribusi panjang yang seringkali merugikan.
Hal ini juga menjadi sinyal kuat bahwa sorgum memiliki permintaan nyata di pasar nasional.
Kadin Rote Ndao menegaskan komitmennya untuk terus memperluas pengembangan sorgum. Target yang dicanangkan adalah penambahan lahan sebesar 200 hektare setiap tahun.
Dengan strategi tersebut, dalam kurun waktu lima tahun ke depan, luas lahan sorgum di Rote Ndao ditargetkan mencapai 1.000 hektare.
Target ini tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga tentang transformasi ekonomi masyarakat berbasis pertanian produktif.
Jika terealisasi, Rote Ndao berpotensi menjadi salah satu sentra produksi sorgum di Indonesia.
Program ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat petani lokal untuk mengembangkan komoditas alternatif yang lebih menjanjikan.
Dengan dukungan pemerintah, kepastian pasar, serta keterlibatan lembaga dan diaspora, sorgum diyakini dapat menjadi solusi ekonomi jangka panjang bagi masyarakat.
Petani tidak lagi hanya menanam untuk bertahan hidup, tetapi mulai diarahkan untuk menjadi pelaku ekonomi yang mandiri dan berdaya saing.
Langkah cepat Kadin Rote Ndao sejak hari pertama pelantikan menjadi sinyal kuat bahwa arah pembangunan ekonomi daerah mulai difokuskan pada sektor riil yang langsung menyentuh masyarakat.
Ketika pertanian dikelola dengan kolaborasi dan kepastian pasar, yang tumbuh bukan hanya hasil panen—tetapi masa depan ekonomi daerah.
✒️: kl
