![]() |
| Siswi SD di Manggarai Timur, Myscha, menunjukkan surat tulis tangannya yang ditujukan kepada Presiden RI, berisi harapan dan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belum menjangkau sekolahnya di wilayah 3T. |
Manggarai Timur, NTT —Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah hingga kini belum merata menjangkau seluruh wilayah, khususnya daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Kondisi ini disuarakan langsung oleh seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Adalah Myscha, siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, yang menulis surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Surat tersebut berisi pengalaman, kekhawatiran, sekaligus harapan terkait belum hadirnya program MBG di sekolahnya serta kondisi pendidikan di daerahnya yang masih terbatas.
Berikut isi surat asli yang ditulis Myscha tanpa perubahan:
Kepada Yth,
Bapak Presiden Prabowo Subianto
di Jakarta
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk Bapak Presiden.
Nama saya Myscha, saya murid kelas 5 di SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
Sekolah saya jauh di pelosok, termasuk daerah 3T.
Bapak Presiden, saya mau cerita. Di saat menonton TV milik keluarga dan nonton YouTube, saya sering lihat berita tentang makanan bergizi gratis (MBG) dari Bapak. Katanya program Bapak bagus sekali. Tapi Pak, sampai hari ini MBG belum sampai di sekolah kami.
Teman-teman di daerah lain sudah lama makan, tapi kami di sini belum. Kami juga sering lihat berita anak-anak yang keracunan habis makan MBG. Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Takut keracunan kayak di TV.
Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan, Pak.
Bapak Presiden, boleh tidak uangnya saja dikasih langsung ke sekolah atau ke mama bapak kami? Biar kami yang atur sendiri. Soalnya kami tahu mana yang paling enak dan aman.
Saya juga mau kasih saran:
- Lebih baik uangnya dipakai untuk beli tas, buku, sepatu, dan perlengkapan sekolah lainnya buat kami.
- Kasih gaji yang cukup buat ibu bapak guru kami, supaya mereka bisa hidup layak. Mereka juga butuh makan.
- Perbaiki sekolah kami. Atap seng bekas, dinding rapuh, kursi meja banyak yang rusak, dan atap kelas bocor. Perpustakaan kekurangan buku dan masih banyak kekurangan lainnya, Pak.
Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar, Pak.
Itu saja surat dari saya, Pak Presiden. Maaf kalau ada kata-kata saya yang salah. Saya cuma anak SD yang ingin sekolah dengan aman dan nyaman.
Tolong bantu sekolah kami di pelosok ya, Pak. Kami juga anak Indonesia. Kami juga mau pintar buat bantu Bapak bangun Indonesia.
Terima kasih Bapak Presiden, kiranya Bapak sehat selalu.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hormat saya,
Myscha
Surat tersebut menjadi gambaran nyata bahwa implementasi program nasional belum sepenuhnya menjangkau wilayah terpencil.
Selain menyoroti belum hadirnya MBG, Myscha juga mengangkat persoalan mendasar di dunia pendidikan, mulai dari fasilitas sekolah yang rusak hingga keterbatasan perlengkapan belajar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai belum terealisasinya program MBG di sekolah tersebut.
Surat Myscha rencananya akan dikirimkan ke Istana Negara dan disebarluaskan melalui media sosial dengan harapan dapat menjadi perhatian para pengambil kebijakan.
Di tengah berbagai program nasional yang terus digencarkan, suara dari daerah 3T ini menjadi pengingat bahwa pemerataan masih menjadi tantangan besar.
Suara kecil dari pelosok negeri ini sederhana—namun cukup kuat untuk mengingatkan bahwa setiap anak Indonesia berhak didengar dan diperhatikan.
✒️: Albert Cakramento/ Redaksi
