![]() |
| Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) menunjukkan produk Mi Kelor hasil inovasi mereka yang berhasil menembus ajang nasional KMI Expo 2026. |
Kota Kupang, NTT –Mi Kelor Undana sukses mencuri perhatian nasional setelah inovasi pangan karya mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) ini lolos ke ajang KMI Expo 2026 di Magelang, Jawa Tengah. Dengan harga hanya Rp10 ribu per porsi, Mi Kelor Undana bukan sekadar produk kuliner, tetapi juga solusi nyata untuk menekan angka stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mi Kelor Undana dikembangkan oleh tim “Sahabat Kelor” yang beranggotakan Aditia Cahya Saputra, Aurelia Esem, Dominikus Arcarius Depha Daki, dan Hector Abu Bakar Abdullah. Berangkat dari keresahan terhadap masalah gizi di daerah, mereka mengolah daun kelor menjadi produk yang lebih ramah dikonsumsi semua kalangan.
Hasilnya tidak main-main. Mi Kelor Undana berhasil menembus seleksi nasional dan menjadi satu dari tiga perwakilan universitas yang tampil di KMI Expo 2026, bersaing dengan sekitar 270 perguruan tinggi se-Indonesia.
Ini bukan sekadar prestasi kampus—ini bukti bahwa inovasi dari daerah juga bisa bersaing di level nasional.
Menurut Aurelia Esem, pemilihan kelor bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal sebagai superfood karena kandungan gizinya yang tinggi, namun selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Mi adalah makanan universal yang disukai semua orang. Kami ingin menghadirkan kelor dalam bentuk yang lebih diterima masyarakat, sekaligus tetap terjangkau,” jelasnya.
Dengan harga Rp10 ribu, Mi Kelor Undana menjadi alternatif pangan sehat yang tidak membebani kantong. Bahkan, tim juga mengembangkan produk turunan seperti kompiang kelor untuk memperluas jangkauan pasar.
Mi Kelor Undana tidak hanya berhenti sebagai inovasi mahasiswa. Produk ini juga menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi lokal. Tim Sahabat Kelor melibatkan masyarakat di wilayah Penfui sebagai pemasok bahan baku daun kelor.
Langkah ini menciptakan ekosistem yang saling menguatkan: mahasiswa berinovasi, masyarakat mendapat manfaat ekonomi.
Ketua tim, Aditia Cahya Saputra, mengungkapkan bahwa perjalanan mereka tidak mudah. Mulai dari uji coba produk hingga pelatihan kewirausahaan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), semua dilalui dengan proses panjang.
“Kami mendapat dukungan penuh dari kampus, mulai dari mentor, pelatihan, hingga bantuan untuk ikut kompetisi. Itu sangat membantu kami berkembang,” ujarnya.
Mi Kelor Undana hadir bukan hanya untuk bisnis. Di balik produk ini, ada misi sosial yang kuat: membantu mengatasi persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di NTT.
Dengan kandungan gizi tinggi dari daun kelor, produk ini diharapkan bisa menjadi alternatif pangan sehat yang mudah diakses masyarakat.
Meski harus membagi waktu antara kuliah dan usaha, tim tetap konsisten mengembangkan produk ini. Bagi mereka, ini bukan sekadar proyek kampus—ini adalah kontribusi nyata.
Dari dapur kecil di Penfui, Mi Kelor Undana membuktikan bahwa solusi besar bisa lahir dari ide sederhana yang dikerjakan dengan serius.
Inovasi tidak selalu harus mahal—kadang cukup Rp10 ribu, tapi dampaknya bisa sampai nasional.
✒️: kl
