Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Clarista Lucitra Lahir Selamat di Tengah Laut, Aksi Heroik Bidan Muda Viral di Media Sosial

Jumat, 22 Mei 2026 | Mei 22, 2026 WIB Last Updated 2026-05-22T11:19:27Z

 


MAUMERE, NTT, 22 Mei 2026 —  Nama bayi perempuan Clarista Lucitra mendadak menjadi perhatian publik setelah kisah persalinannya di tengah laut viral di media sosial. Bayi tersebut lahir dengan selamat berkat aksi heroik seorang bidan muda bernama Theresa Arias Viviyanti di atas KM Dharma Rucitra VII saat kapal berlayar dari Surabaya menuju Maumere.


Peristiwa dramatis itu terjadi ketika kapal sedang berada di tengah perjalanan dan jauh dari fasilitas kesehatan maupun jaringan komunikasi. Dalam kondisi darurat, Theresa memberanikan diri membantu seorang ibu hamil yang mengalami kontraksi hebat di atas kapal.


Dalam wawancara bersama Media News Daring.com di kediamannya di Waidoko, Kabupaten Sikka, Jumat (22/05/2026), Theresa menceritakan detik-detik menegangkan saat dirinya membantu proses persalinan tersebut.


Theresa mengaku awalnya mendapat informasi dari salah satu kernet mobil ekspedisi bahwa ada seorang ibu yang akan melahirkan di atas kapal. Ia kemudian menuju ruang medis kapal dan mendapati seorang petugas kesehatan laki-laki sudah berada di lokasi, namun terlihat gugup menghadapi situasi persalinan darurat tersebut.


Saat masuk ke ruangan, kondisi ibu hamil itu sudah sangat kesakitan dan terus berteriak karena panik menghadapi proses persalinan anak pertamanya.


“Saya bilang ke ibu itu, ‘Ibu, saya mau bantu ibu, tapi ibu harus dengar arahan saya. Kalau sakit jangan terus berteriak, tarik napas yang dalam.’ Saya coba tenangkan sambil ajarkan cara atur napas,” kisah Theresa.


Sebelum proses persalinan dilakukan, Theresa mengaku sempat menanyakan kondisi kesehatan ibu hamil tersebut, termasuk riwayat tekanan darahnya. Dari hasil pemeriksaan awal, diketahui tekanan darah sang ibu mencapai 160 yang menandakan kondisi hipertensi atau tekanan darah tinggi.


Theresa mengatakan, ibu tersebut juga mengaku selama masa kehamilan hanya satu kali melakukan pemeriksaan kesehatan. Kondisi itu membuat dirinya semakin khawatir karena persalinan dengan riwayat hipertensi memiliki risiko tinggi bagi ibu maupun bayi.


“Sebelum saya bantu persalinan, saya sempat tanya soal tensi darahnya. Ternyata tensinya 160, artinya darah tinggi, dan pasien mengaku selama ini baru satu kali periksa kehamilan. Itu yang membuat letak patologisnya dan membuat saya bingung karena kasusnya berisiko tinggi,” ungkap Theresa.


Ia menjelaskan, dalam prosedur pelayanan kesehatan, ibu hamil dengan tekanan darah tinggi biasanya harus dirujuk ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis yang lebih lengkap dan aman.


“Biasanya kalau di puskesmas, ibu hamil dengan tensi tinggi harus dirujuk ke rumah sakit terdekat. Jadi waktu itu saya sempat takut karena kalau tidak ditolong kasihan, tapi kalau ditolong juga penuh risiko tinggi,” jelasnya.


Situasi berubah semakin dramatis ketika dirinya melakukan pemeriksaan dan mendapati kepala bayi sudah mulai terlihat.


“Saya langsung keluar dan panggil Pak Mantri sambil bilang, ‘Pak, tolong bantu saya, bayinya sudah mau keluar!’”


Dengan peralatan seadanya dan suasana penuh kepanikan, proses persalinan akhirnya berhasil dilakukan. Namun ketegangan belum berakhir setelah bayi lahir.


“Ketika bayinya sudah keluar, saya langsung kasih ke Pak Mantri untuk dilap dan dikeringkan. Saya juga minta AC dimatikan karena takut bayinya kedinginan,” ujarnya.


Theresa mengaku sempat panik saat melihat kondisi bayi yang tampak kebiruan dan belum menangis.


“Saya lihat badan bayinya agak kebiruan dan diam. Mungkin pernapasannya sedikit terganggu. Saya langsung coba tepuk beberapa kali. Puji Tuhan akhirnya bayi perempuan yang sangat cantik itu langsung menangis,” katanya haru.


Setelah bayi lahir dengan selamat, suasana haru langsung terasa di ruang medis kapal. Theresa mengungkapkan, kapten kapal sempat menuliskan nama bayi tersebut di selembar kertas.


“Setelah bayi lahir, kapten kapal memang sempat tulis nama bayinya di kertas. Kalau tidak salah namanya Clarista Lucitra, lalu Clau itu ditambahkan karena nama ibunya,” ungkap Theresa kepada media ini.


Tangisan pertama Clarista Lucitra sontak membuat suasana ruang medis kapal berubah emosional. Theresa mengaku keputusan untuk membantu persalinan di tengah laut menjadi pilihan paling berat yang pernah ia hadapi.


“Dengan peralatan yang sangat terbatas saya hanya pasrah. Mau menolong takut, tapi kalau tidak menolong saya merasa sangat bersalah. Saya lakukan ini murni karena kemanusiaan,” ungkapnya.


Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap kondisi ibu pasca melahirkan, Theresa menilai kondisi sang ibu tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan panjang hingga Maumere. Ia pun meminta agar ibu dan bayi dirujuk saat kapal bersandar di Labuan Bajo untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.


Theresa juga menjelaskan bahwa ibu yang melahirkan tersebut diketahui berasal dari Paga, Kabupaten Sikka, sementara suaminya berasal dari Kabupaten Malaka.


Terkait foto dan kisah persalinan yang kemudian viral di media sosial, Theresa menjelaskan bahwa awalnya ia hanya membagikan momen tersebut melalui status WhatsApp pribadinya saat kapal bersandar di Labuan Bajo.


“Soal foto yang beredar itu, awalnya saya posting di story WA pribadi. Waktu itu ada teman yang meminta foto tersebut lalu saya bagikan karena ini pengalaman pertama saya membantu persalinan di atas kapal di tengah laut,” ungkap Theresa.


Namun dirinya mengaku tidak menyangka unggahan tersebut kemudian menyebar luas hingga viral di berbagai platform media sosial dan menuai perhatian publik.


Meski mendapat banyak pujian dan dukungan dari masyarakat, Theresa menegaskan bahwa tindakan yang dilakukannya bukan untuk mencari popularitas ataupun validasi di media sosial.


“Saya membantu dengan ikhlas, bukan mau cari validasi atau apa pun. Saya hanya membantu selayaknya yang saya bisa,” tegasnya.


Theresa sendiri diketahui baru saja menyelesaikan Pendidikan Profesi Bidan di Universitas Kadiri dan mengikuti prosesi wisuda serta sumpah profesi kebidanan pada 9 Mei 2026 di Hotel Insumo Palace sebelum kembali ke Maumere.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik viralnya sebuah kisah inspiratif, ada keberanian, ketulusan, dan nilai kemanusiaan yang jauh lebih penting daripada sekadar popularitas di media sosial.

✒️: Albert Cakramento