Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Kesal Menunggu Janji Pemerintah, Warga Empat Desa di Ende Bangun Jalan Secara Swadaya

Minggu, 07 Juni 2026 | Juni 07, 2026 WIB Last Updated 2026-06-07T00:41:00Z

 


ENDE, NTT – Kesal menunggu perhatian dan janji pembangunan yang tak kunjung terealisasi, warga dari empat desa di Kabupaten Ende akhirnya memilih bergerak sendiri. Pada Sabtu (6/6/2026), masyarakat Desa Pise, Hangalande, Lokaoja, dan Tiwusora bergotong royong memperbaiki ruas jalan penghubung antarwilayah yang telah mengalami kerusakan selama puluhan tahun.


Aksi swadaya tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus kritik terbuka terhadap pemerintah yang dinilai belum serius menangani infrastruktur dasar di wilayah pedalaman. Jalan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat itu diketahui telah dibuka sejak tahun 1999, namun hingga kini belum mendapatkan penanganan memadai.


Dengan alat sederhana dan tenaga seadanya, warga bahu-membahu menimbun lubang, meratakan badan jalan, serta memperbaiki sejumlah titik yang selama ini membahayakan pengguna jalan. Kondisi jalan yang berlumpur saat musim hujan dan berbatu saat musim kemarau membuat akses transportasi masyarakat sangat terganggu.


Tokoh masyarakat Desa Liselande, Rofinus Kale, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung terlalu lama dan telah menimbulkan berbagai persoalan bagi masyarakat.


“Di lokasi ini sudah tiga kali terjadi kecelakaan mobil terbalik. Sampai hari ini kami merasa pemerintah seolah menutup mata terhadap kondisi jalan yang setiap hari kami gunakan,” ujar Rofinus.


Menurutnya, masyarakat selama ini terus berharap adanya perhatian pemerintah daerah karena jalan tersebut menjadi akses utama yang menghubungkan empat desa sekaligus mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial masyarakat.


Senada dengan itu, tokoh masyarakat Desa Tiwusora, Lukas Lengga, meminta Pemerintah Kabupaten Ende lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat di daerah pedalaman yang hingga kini masih tertinggal dari sisi pembangunan infrastruktur.


“Pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota. Masyarakat di pelosok juga berhak menikmati akses jalan yang layak dan aman. Jangan sampai warga terus berjuang sendiri menghadapi kondisi yang membahayakan,” tegasnya.


Sementara itu, perwakilan pemuda Desa Tiwusora, Rian Gare, menilai aksi gotong royong tersebut bukan sekadar kegiatan memperbaiki jalan, melainkan simbol kekecewaan masyarakat terhadap lambannya respons pemerintah.


Menurutnya, selama bertahun-tahun masyarakat hanya menerima janji tanpa realisasi yang nyata. Akibatnya, warga harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintasi jalan yang rusak untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.


“Di tanah-tanah sunyi seperti ini suara masyarakat sering tidak terdengar. Hari ini kami memilih bertindak. Ini bukan sekadar memperbaiki jalan, tetapi menyampaikan pesan bahwa masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah yang nyata,” katanya.


Rian menambahkan, ketimpangan pembangunan yang selama ini terjadi bukan lagi sekadar data atau angka dalam laporan, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat setiap hari.


Aksi gotong royong yang berlangsung sepanjang Sabtu tersebut mendapat dukungan luas dari warga berbagai usia. Mereka berharap langkah yang dilakukan secara swadaya itu dapat membuka mata pemerintah agar segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki infrastruktur yang selama ini terabaikan.


Bagi masyarakat empat desa, jalan yang layak bukan sekadar sarana transportasi, melainkan akses menuju pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan yang lebih sejahtera.


Melalui aksi tersebut, warga menegaskan bahwa mereka tidak akan terus-menerus menunggu. Ketika pembangunan belum juga hadir, masyarakat memilih bergerak bersama demi memperjuangkan hak dasar yang seharusnya mereka nikmati sebagai warga negara.

✒️: Albert Cakramento/***