Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Balitbangda Kota Kupang Kaji Se'i, Abon, dan Dendeng Sapi sebagai Ikon Daerah Berbasis Riset

Kamis, 09 Juli 2026 | Juli 09, 2026 WIB Last Updated 2026-07-09T02:55:22Z

 



Kota Kupang, NTT – Pemerintah Kota Kupang melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) terus mendorong lahirnya kebijakan pembangunan yang berbasis data dan hasil penelitian. Pada tahun 2026, Balitbangda memfokuskan riset terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolahan daging sapi, khususnya produk khas Kota Kupang seperti se'i, abon, dan dendeng sapi, sebagai langkah menjadikan kuliner lokal tersebut sebagai ikon daerah.


Kepala Balitbangda Kota Kupang, Ir. Solvie Lukas, kepada News-Daring.com, Kamis (9/7/2026), mengatakan Balitbangda memiliki tugas pokok melaksanakan penelitian, pengkajian, perekayasaan, serta mendorong invensi dan inovasi yang nantinya menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah daerah.


"Balitbangda memiliki tugas melakukan penelitian dan pengembangan. Di dalamnya ada kegiatan pengkajian, perekayasaan, termasuk invensi dan inovasi. Tujuan penelitian adalah mengkaji persoalan-persoalan krusial yang menjadi perhatian masyarakat sehingga dapat dirumuskan menjadi program dan kebijakan pemerintah daerah," ujar Solvie.


Menurutnya, hasil penelitian Balitbangda memiliki posisi strategis karena menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis bukti (evidence based policy).


"Sesungguhnya Balitbangda dengan Bappeda memiliki posisi yang setara. Hasil penelitian menjadi bahan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan daerah sehingga kebijakan yang diambil benar-benar didukung oleh data hasil penelitian," jelasnya.


Solvie menjelaskan, pada tahun 2026 Balitbangda melakukan dua penelitian utama, yakni pengembangan UMKM dan penguatan kelembagaan koperasi.


Khusus penelitian UMKM, Balitbangda memusatkan perhatian pada pelaku usaha pengolahan daging sapi yang memproduksi se'i, abon, dan dendeng sapi, karena dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi identitas kuliner Kota Kupang.


"Kami memilih UMKM pengolahan daging sapi karena produk seperti se'i, abon, dan dendeng merupakan makanan khas orang Timor yang sudah dikenal luas. Bahkan sampai ke luar negeri banyak orang yang pernah mencicipinya dan menyukai cita rasanya," katanya.


Menurut Solvie, masyarakat NTT yang tinggal di luar daerah pun menjadikan produk tersebut sebagai makanan yang selalu dirindukan.


"Kalau orang NTT berada di luar daerah, ketika ditanya makanan khas yang dirindukan, mereka pasti menyebut se'i, abon atau dendeng dari Kupang. Produk-produk ini memiliki nilai historis dan budaya yang kuat," ujarnya.


Ia menilai hingga kini belum banyak penelitian ilmiah yang mengkaji produk tersebut sebagai identitas Kota Kupang maupun sebagai penggerak ekonomi lokal.


"Karena itu kami melakukan penelitian sebagai dasar untuk mendukung lahirnya kebijakan yang dapat menjadikan produk-produk ini sebagai ikon Kota Kupang," katanya.


Untuk memperoleh data yang komprehensif, Balitbangda melakukan wawancara dengan pelaku usaha, observasi lapangan, serta Focus Group Discussion (FGD) di sejumlah kelurahan yang menjadi sentra pengolahan daging.


"Hasil penelitian nantinya akan dipresentasikan melalui seminar, kemudian dirumuskan menjadi rekomendasi kepada Wali Kota Kupang agar pengembangan UMKM pengolahan daging dapat ditangani lebih serius melalui program pemerintah," jelas Solvie.


Sementara itu, Peneliti Ahli Muda Balitbangda Kota Kupang, Dr. Malisye Christin Sjioen, S.STP., M.Si., menjelaskan bahwa penelitian tidak hanya berfokus pada produknya, tetapi juga melakukan profiling terhadap 10 UMKM pengolahan daging sapi yang telah mampu bertahan selama puluhan tahun.


Menurut Malisye, UMKM tersebut dipilih karena memiliki rekam jejak usaha yang baik, mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan ekonomi, bahkan sebagian telah berkembang dari usaha mikro menjadi usaha menengah dan memiliki badan hukum.


"Kami melakukan profiling terhadap 10 UMKM yang bergerak di bidang pengolahan se'i, abon, dan dendeng sapi. Mereka menjadi objek penelitian karena mampu bertahan sejak sekitar tahun 1967 hingga sekarang. Bahkan beberapa di antaranya telah berkembang dari usaha mikro menjadi usaha menengah dan telah berbadan hukum," ungkapnya.


Beberapa UMKM yang menjadi objek penelitian di antaranya UMKM Ibu Sukiran, Putri, Yudhistira, Bu Parote, Bu Pardi, Bursal, Aldia, serta sejumlah pelaku usaha lainnya yang telah lama mengembangkan usaha pengolahan daging di Kota Kupang.


Malisye menjelaskan, penelitian juga mengkaji strategi pemasaran, inovasi produk, kualitas kemasan, hingga kemampuan para pelaku usaha mempertahankan eksistensi bisnis mereka.


"Kami ingin mengetahui faktor-faktor yang membuat mereka tetap bertahan dan berkembang. Praktik-praktik baik yang mereka lakukan nantinya akan menjadi contoh atau role model bagi UMKM lain di Kota Kupang," jelasnya.


Menurutnya, keberhasilan para pelaku UMKM tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengusaha lain, termasuk pelaku usaha pengolahan daging babi, ayam maupun ikan.


"Kalau usaha pengolahan daging sapi saat ini sudah memiliki kualitas pemasaran dan kemasan yang baik, maka pengalaman mereka perlu menjadi contoh agar UMKM lain juga dapat berkembang dan naik kelas," katanya.


Ia menambahkan, hasil penelitian nantinya akan menjadi rekomendasi kepada Pemerintah Kota Kupang dalam menyusun kebijakan pengembangan UMKM yang lebih tepat sasaran.


"Harapannya bukan hanya produk se'i, abon, dan dendeng yang semakin dikenal sebagai ikon Kota Kupang, tetapi juga kapasitas pelaku UMKM terus meningkat sehingga mampu memperkuat ekonomi lokal," ujarnya.


Selain penelitian UMKM, Balitbangda juga menyusun kajian mengenai penguatan kelembagaan koperasi.


Menurut Solvie Lukas, koperasi dan UMKM merupakan dua sektor yang saling berkaitan sehingga pengembangannya harus berjalan beriringan.


"UMKM dan koperasi ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu hasil penelitian ini diharapkan menjadi rekomendasi bagi Pemerintah Kota Kupang untuk memperkuat keduanya secara bersamaan demi meningkatkan daya saing ekonomi daerah," pungkasnya.

✒️: kl



Deskripsi Penelusuran (145 karakter)

Balitbangda Kota Kupang meneliti se'i, abon, dan dendeng sapi serta 10 UMKM sebagai dasar kebijakan pengembangan ikon kuliner daerah.

URL SEO

https://news-daring.com/balitbangda-kota-kupang-kaji-sei-abon-dan-dendeng-sapi-sebagai-ikon-daerah-berbasis-riset⁠.html