Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dapat 12 Ruang Kelas Baru, SDI Naimata Akhiri Pembelajaran Bergantian hingga Sore

Selasa, 21 Juli 2026 | Juli 21, 2026 WIB Last Updated 2026-07-21T06:30:15Z

 



KUPANG, NTT – Program Revitalisasi Satuan Pendidikan membawa perubahan besar bagi SD Inpres (SDI) Naimata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah mendapat 12 ruang kelas baru dan satu ruang administrasi, sekolah yang sebelumnya harus membagi waktu belajar hingga siang dan sore akibat keterbatasan ruangan kini mampu menjalankan pembelajaran satu shift bagi 539 siswa dalam 22 Rombongan Belajar (ROMBEL).


Kepala SDI Naimata Kota Kupang, Martinus Klau, mengatakan perubahan tersebut memberikan dampak langsung terhadap efektivitas dan kenyamanan proses belajar mengajar. Seluruh siswa kini dapat mengikuti pembelajaran pada pagi hari tanpa harus bergantian menggunakan ruang kelas seperti sebelumnya.


Hal itu disampaikan Martinus saat menerima Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan yang digagas Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi) di SDI Naimata, Kota Kupang, Selasa (21/7/2026).


“Dalam pemanfaatan gedung baru dari program revitalisasi, terdiri dari 12 ruang kelas baru dan satu ruang administrasi,” kata Martinus.


Martinus menjelaskan, sebanyak 12 ruang kelas hasil program revitalisasi telah dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar sejumlah tingkatan kelas.


Ruang-ruang tersebut digunakan oleh sebagian rombel kelas II serta siswa kelas III, IV, dan V. Sementara kelas I dan sebagian kelas II masih memanfaatkan gedung lama yang berada di bagian depan kompleks sekolah.


Selain 12 ruang kelas dari program revitalisasi, SDI Naimata juga mendapat dukungan lima ruang kelas dari Pemerintah Kota Kupang.


Lima ruangan tersebut turut membantu memenuhi kebutuhan ruang belajar di tengah tingginya jumlah peserta didik.


Dengan dukungan fasilitas yang tersedia, SDI Naimata kini memiliki 22 rombongan belajar dengan jumlah keseluruhan 539 siswa.


Seluruh rombel tersebut kini dapat menjalankan kegiatan pembelajaran dalam satu shift pada pagi hari.


Kondisi tersebut berbeda jauh dibandingkan sebelum sekolah mendapatkan program revitalisasi.


Pada 2025, jumlah peserta didik SDI Naimata telah mencapai sekitar 526 siswa, sementara ketersediaan ruang kelas belum mampu menampung seluruh siswa untuk belajar secara bersamaan.


Keterbatasan itu memaksa sekolah membagi kegiatan belajar mengajar dalam beberapa waktu atau shift.


Akibatnya, sebagian siswa harus masuk sekolah lebih siang dan mengikuti pembelajaran hingga sore hari.


Kondisi tersebut bahkan berdampak terhadap durasi jam pelajaran.


Menurut Martinus, satu jam pelajaran yang seharusnya berlangsung sekitar 35 menit terpaksa dipersingkat menjadi 25 menit, bahkan sekitar 20 menit pada kondisi tertentu, agar ruang kelas dapat digunakan secara bergantian.


Sistem pembelajaran bergantian juga menimbulkan gangguan tersendiri.


Ketika siswa shift pertama masih belajar, siswa yang mendapat giliran berikutnya terkadang sudah datang dan bermain di sekitar sekolah sambil menunggu waktu masuk.


Situasi tersebut membuat kegiatan belajar tidak dapat berlangsung seefektif sekarang.


“Dulu ada ruangan yang bocor. Pembelajaran juga terganggu oleh teman-teman dari shift kedua dan ketiga. Shift pertama masih belajar, shift berikutnya sudah datang dan bermain,” ungkapnya.


Setelah mendapatkan tambahan ruang melalui program revitalisasi dan dukungan Pemerintah Kota Kupang, persoalan tersebut berangsur teratasi.


Meski jumlah siswa meningkat dari sekitar 526 menjadi 539 siswa, seluruh peserta didik kini dapat mengikuti pembelajaran dalam satu shift.


Martinus mengatakan perubahan tersebut membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif, menarik, tertib, dan menyenangkan.


Kondisi ruang yang lebih layak juga memberikan kenyamanan kepada siswa dan guru.


“Sekarang semuanya sudah satu shift masuk pagi. Anak-anak sudah tertib di kelas masing-masing. Kalau jam istirahat, baru semuanya bermain di luar,” katanya.


Dengan berakhirnya sistem pembelajaran bergantian hingga sore, sekolah juga memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan berbagai kegiatan pendidikan.


Kegiatan intrakurikuler dapat berjalan sesuai waktu yang direncanakan, sementara kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dapat disusun tanpa terganggu jadwal sekolah siang.


“Dengan adanya gedung yang sudah lengkap ini, kegiatan intrakurikuler sudah berjalan lancar. Kegiatan kokurikuler juga berjalan baik dan ekstrakurikuler sudah kami rencanakan untuk berjalan maksimal pada tahun ajaran baru karena tidak ada lagi hambatan pembelajaran sampai siang dan sore,” jelas Martinus.


Meski persoalan ruang kelas telah banyak teratasi, SDI Naimata masih menghadapi tantangan lain, yakni keterbatasan jaringan internet.


Martinus mengatakan sekolah saat ini menggunakan layanan internet dari dua provider berbayar.


Namun, kapasitas dan jangkauan jaringan tersebut belum mencukupi kebutuhan 539 siswa dan para guru.


Terutama pada ruang-ruang yang berada di bagian atas kompleks sekolah, kualitas jaringan masih tergolong lemah.


“Jaringan di sekolah ini kami menggunakan dua provider berbayar, tetapi belum mencukupi jumlah siswa dan guru. Di kelas bagian atas masih sangat lemah jaringan internetnya,” katanya.


Menurut Martinus, kebutuhan jaringan internet semakin penting seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam proses pendidikan.


Koneksi yang stabil juga dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan akademik berbasis daring, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagi siswa kelas VI.


Ia mengatakan jaringan yang tidak stabil dapat menyebabkan siswa mengalami gangguan ketika mengikuti sistem berbasis daring, bahkan harus masuk kembali apabila koneksi terputus.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah berencana memasukkan kebutuhan peningkatan fasilitas internet dalam perencanaan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) 2027.


Martinus mengatakan pihaknya akan berupaya mencari solusi untuk menambah kapasitas Wi-Fi di lingkungan sekolah.


“Nanti dalam perencanaan RKAS pada Oktober untuk tahun 2027, saya akan berusaha berkonsultasi bagaimana menambah jumlah Wi-Fi di sekolah ini,” ujarnya.


Selain melalui perencanaan sekolah, ia berharap Pemerintah Kota Kupang dapat memberikan dukungan berupa akses internet yang lebih memadai.


“Kami juga berusaha agar Pemerintah Kota bisa membantu kami dengan internet gratis di sekolah ini sehingga jaringannya kuat,” katanya.


Pihak sekolah juga telah berkomunikasi dengan penyedia layanan telekomunikasi untuk mengecek kondisi jaringan di kawasan tersebut.


SDI Naimata memiliki perjalanan panjang dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.


Menurut Martinus, sekolah tersebut berdiri sejak 1983.


Pada awal berdiri, sekolah hanya memiliki enam ruang kelas dan sebuah ruangan kecil yang digunakan untuk kebutuhan kepala sekolah dan guru.


Seiring waktu, jumlah peserta didik terus meningkat, sementara perkembangan fasilitas sekolah belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan ruang.


Pada 2012, sekolah mendapatkan tambahan aula yang digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan.


Perubahan lebih besar kemudian terjadi ketika SDI Naimata memperoleh program revitalisasi pada 2025.


Melalui program tersebut, sekolah mendapatkan 12 ruang kelas baru dan satu ruang administrasi, yang kemudian diperkuat dengan dukungan lima ruang dari Pemerintah Kota Kupang.


Penambahan fasilitas itu akhirnya memungkinkan sekolah mengakhiri sistem pembelajaran bergantian hingga sore yang selama ini menjadi salah satu persoalan utama.


Bagi SDI Naimata, manfaat revitalisasi tidak hanya terlihat dari berdirinya ruang kelas baru.


Perubahan paling nyata terlihat pada sistem pembelajaran.


Sebanyak 539 siswa dalam 22 rombel kini dapat belajar satu shift, sehingga waktu belajar dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.


Fasilitas baru juga turut mendukung terciptanya lingkungan pembelajaran yang lebih aman dan nyaman serta memperhatikan kebutuhan peserta didik dalam pendidikan inklusif.


Ketersediaan ruang memungkinkan sekolah mengoptimalkan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler yang sebelumnya terkendala jadwal pembelajaran bergantian.


Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan yang digagas Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia tersebut menjadi kesempatan bagi insan pers untuk melihat secara langsung dampak program di SDI Naimata.


Dari sekolah yang sebelumnya harus membagi waktu belajar hingga siang dan sore akibat keterbatasan ruang, SDI Naimata kini memasuki kondisi baru dengan 12 ruang kelas hasil revitalisasi, satu ruang administrasi, dukungan lima ruang dari Pemerintah Kota Kupang, serta 539 siswa dalam 22 rombel yang dapat mengikuti pembelajaran satu shift.


Meski persoalan ruang belajar telah banyak teratasi, kebutuhan peningkatan jaringan internet kini menjadi salah satu pekerjaan lanjutan agar fasilitas fisik yang semakin memadai dapat didukung konektivitas digital yang kuat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

✒️: kl