KUPANG, NTT– Program Revitalisasi Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki dan membangun sarana-prasarana sekolah, tetapi menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperluas akses pendidikan yang layak, serta menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak Indonesia.
Hal tersebut menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan di SD Inpres (SDI) Naimata dan SMAN 8 Kupang, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (21/7/2026).
Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani, menegaskan bahwa manfaat revitalisasi pendidikan harus dilihat secara lebih luas. Dampaknya tidak berhenti pada perubahan fisik bangunan sekolah, tetapi harus dirasakan langsung oleh peserta didik, guru, orang tua hingga masyarakat di sekitar sekolah.
Menurut Farida, pembangunan sebuah bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Fondasi utama yang menentukan keberlanjutan pembangunan adalah kualitas manusia yang mengelolanya.
“Membangun bangsa itu tidak hanya dengan infrastruktur, tidak hanya dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi yang paling penting dan dasarnya adalah pembangunan SDM,” ujar Farida dalam kunjungan tersebut.
Ia menjelaskan, pembangunan sumber daya manusia harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari memastikan kesehatan dan pemenuhan gizi anak hingga menyediakan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas.
Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menjalankan berbagai kebijakan dan program untuk menjangkau kebutuhan peserta didik dengan kondisi yang berbeda-beda. Karena itu, menurut Farida, revitalisasi satuan pendidikan memiliki posisi penting dalam memastikan sekolah reguler juga mempunyai fasilitas yang layak untuk mendukung proses pembelajaran.
Farida menekankan, keberhasilan revitalisasi pendidikan tidak semestinya hanya diukur dari berdirinya ruang kelas baru atau perubahan tampilan fisik sekolah.
Sekolah harus menjadi tempat yang benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara optimal.
Kondisi tersebut terlihat di SDI Naimata. Sebelum mendapatkan program revitalisasi, keterbatasan ruang kelas membuat kegiatan belajar harus dilaksanakan secara bergantian hingga siang dan sore hari.
Setelah revitalisasi, kapasitas dan fasilitas sekolah meningkat sehingga sebanyak 539 siswa dalam 22 rombongan belajar (rombel) dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dalam satu shift pada pagi hari.
Program revitalisasi di SDI Naimata memperoleh dukungan anggaran sekitar Rp3,147 miliar. Berdasarkan data program yang dipaparkan dalam rangkaian kegiatan, intervensi mencakup pembangunan dan rehabilitasi ruang kelas serta fasilitas pendukung sekolah.
Kepala SDI Naimata, Martinus Klau, sebelumnya menjelaskan bahwa pemanfaatan gedung hasil revitalisasi telah membawa perubahan besar terhadap pola pembelajaran.
Ruang-ruang baru digunakan untuk mendukung kegiatan belajar sejumlah jenjang kelas, sementara fasilitas lain yang dibangun dan dibantu pemerintah daerah ikut menambah kapasitas sekolah.
Jika sebelumnya keterbatasan ruangan mengharuskan siswa belajar bergantian hingga sore, kini seluruh siswa dapat masuk pagi.
Perubahan tersebut membuat kegiatan intrakurikuler, kokurikuler hingga ekstrakurikuler dapat dirancang dan dilaksanakan dengan lebih maksimal.
Farida menilai kondisi itu menunjukkan bahwa pembangunan sarana pendidikan memiliki hubungan langsung dengan akses anak terhadap pendidikan.
Ketika kapasitas sekolah bertambah dan lingkungan belajar menjadi lebih layak, sekolah dapat memberikan pelayanan kepada lebih banyak peserta didik.
“Yang paling dasar adalah sekolah. Bagaimana ketika mereka tidak mendapatkan akses sekolah dasar, bagaimana mau naik ke jenjang berikutnya?” katanya.
Farida mengatakan pemerintah harus memastikan bahwa anak yang tercatat bersekolah benar-benar memperoleh proses pendidikan yang berkualitas.
Artinya, pendidikan tidak boleh berhenti pada indikator bahwa seorang anak telah terdaftar sebagai peserta didik.
Lingkungan sekolah, kualitas ruang belajar, fasilitas pendukung, guru serta proses pembelajaran harus berjalan bersama.
“Kita tidak hanya ingin anak itu diklaim sebagai data bahwa anak sekolah, tetapi bagaimana sekolah itu bisa dikembangkan menjadi tempat belajar,” ujarnya.
Karena itu, sarana dan prasarana menjadi salah satu unsur penting dalam menciptakan pembelajaran berkualitas.
Ruang kelas yang aman dan nyaman diharapkan membuat siswa lebih fokus, sementara guru memiliki ruang lebih luas untuk mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif.
Farida juga menyoroti pentingnya pemerataan pembangunan pendidikan, terutama antara wilayah yang fasilitas pendidikannya telah berkembang dengan daerah yang masih menghadapi keterbatasan.
Menurutnya, kondisi pendidikan di wilayah Indonesia Timur perlu terus mendapat perhatian agar setiap anak memperoleh kesempatan pendidikan yang semakin setara.
Dampak program revitalisasi, lanjut Farida, juga tidak berhenti di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan pembangunan yang melibatkan masyarakat sekitar dapat menciptakan efek ekonomi di daerah.
Tenaga kerja lokal dapat terlibat dalam proses pembangunan, sementara kebutuhan material dapat mendorong aktivitas pelaku usaha dan UMKM setempat.
Dengan demikian, dana pembangunan sekolah tidak hanya menghasilkan infrastruktur pendidikan, tetapi juga berputar di lingkungan ekonomi masyarakat.
“Revitalisasi tidak hanya bicara infrastruktur. Jelas memang ada anggaran untuk membangun sekolah, tetapi ternyata di luar itu ada manfaat yang luar biasa,” jelasnya.
Ia mencontohkan konsep gotong royong yang dapat muncul dalam pelaksanaan program. Selain dukungan pemerintah pusat dan daerah, masyarakat melalui komite sekolah juga dapat berpartisipasi sesuai ketentuan untuk mendukung pengembangan lingkungan pendidikan.
Karena itu, Farida berharap media tidak hanya memberitakan perubahan fisik sekolah, tetapi turut menggali manfaat nonfisik yang dirasakan siswa, guru, orang tua dan masyarakat.
Setelah mengunjungi SDI Naimata, rombongan Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan melanjutkan kegiatan ke SMAN 8 Kupang.
Di sekolah tersebut, Farida kembali menegaskan bahwa pembangunan pendidikan merupakan sebuah proses bertahap.
Ia mengakui masih terdapat kebutuhan sarana-prasarana yang perlu dipenuhi, termasuk ruang-ruang pendukung aktivitas peserta didik.
Namun, penambahan fasilitas yang telah dilakukan harus dipandang sebagai bagian dari proses sekolah untuk terus berkembang.
“Bertumbuh itu tidak langsung semuanya bagus, tetapi bertahap. Hari ini sudah kita saksikan ada penambahan ruang kelas. Mudah-mudahan nanti akan menjadi lebih baik,” katanya.
Menurut Farida, keterbatasan anggaran membuat seluruh kebutuhan tidak selalu dapat dipenuhi secara bersamaan.
Karena itu, pemerintah perlu menentukan skala prioritas berdasarkan kebutuhan yang paling mendesak tanpa mengabaikan kebutuhan lain.
Fasilitas yang telah tersedia juga harus dijaga dan dimanfaatkan secara maksimal agar memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran.
Farida meminta para jurnalis yang mengikuti kunjungan untuk melihat lebih jauh perubahan yang terjadi setelah sekolah memperoleh intervensi pemerintah.
Tidak hanya kondisi bangunan, tetapi juga pengalaman siswa dan guru sebelum serta setelah fasilitas pendidikan diperbaiki.
Sementara itu, Dr. Khamim, M.Pd., Widyaprada Ahli Utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan setelah akses terhadap pendidikan dasar semakin luas.
Menurut Khamim, indikator partisipasi pendidikan di Kota Kupang menunjukkan capaian yang tinggi. Namun, capaian akses tersebut harus dilanjutkan dengan peningkatan mutu proses pembelajaran. “Sekarang mengejar kualitas pendidikannya,” kata Khamim.
Menurutnya, proses pembelajaran yang berkualitas membutuhkan dua komponen yang saling mendukung, yakni kompetensi guru dan ketersediaan sarana-prasarana pendidikan yang memadai.
Ruang kelas yang baik akan menciptakan lingkungan yang lebih fleksibel bagi guru dan siswa.
Pembelajaran tidak harus selalu berlangsung monoton dengan pola satu arah. Ruangan yang nyaman memungkinkan siswa belajar dalam kelompok, berdiskusi, berinteraksi dan mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran.
Selain pembangunan fisik sekolah, Khamim juga menyinggung program digitalisasi pembelajaran melalui penyediaan papan interaktif digital.
Menurutnya, perangkat tersebut dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif karena berbagai materi pembelajaran dapat dimanfaatkan melalui teknologi digital.
Ia menyebut SDI Naimata telah memperoleh perangkat pembelajaran digital dan direncanakan mendapat tambahan perangkat sehingga pemanfaatannya dapat menjangkau lebih banyak kelas.
Dengan jumlah perangkat yang bertambah, penggunaan teknologi tidak perlu menunggu terlalu lama secara bergantian antar kelas.
Namun, keberadaan perangkat digital harus dibarengi dengan kesiapan guru.
Karena itu, Kemendikdasmen juga melakukan pelatihan dan pendampingan agar teknologi yang diberikan kepada sekolah benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Harapannya pembelajaran itu menyenangkan, tidak monoton,” ujarnya.
Hal ini menjadi penting karena SDI Naimata masih menghadapi persoalan konektivitas internet.
Kepala SDI Naimata Martinus Klau sebelumnya mengungkapkan sekolah menggunakan layanan internet dari dua penyedia, tetapi kualitas jaringan belum mampu menjangkau seluruh area sekolah secara optimal.
Kondisi tersebut menjadi tantangan terutama ketika pembelajaran dan asesmen membutuhkan koneksi internet yang stabil.
Khamim juga menekankan pentingnya peran komite sekolah sebagai mitra dalam pengembangan pendidikan.
Menurutnya, pembangunan sekolah tidak semata-mata menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
Pemerintah daerah, sekolah, komite, masyarakat hingga pihak lain dapat berkolaborasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Partisipasi masyarakat tersebut menjadi bagian penting dari semangat gotong royong dalam pendidikan.
Praktik kolaborasi semacam itu juga terlihat dalam pengembangan fasilitas pendidikan di Kota Kupang, ketika dukungan pemerintah pusat dapat berjalan bersama kontribusi pemerintah daerah maupun partisipasi masyarakat.
Kunjungan jurnalistik ke SDI Naimata dan SMAN 8 Kupang memperlihatkan bahwa revitalisasi pendidikan memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar proyek konstruksi.
Bangunan dan ruang kelas merupakan fondasi fisik. Namun, tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.
Bagi siswa, revitalisasi berarti memperoleh ruang belajar yang lebih aman dan nyaman.
Bagi guru, fasilitas yang lebih memadai membuka kesempatan mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif dan kreatif.
Bagi orang tua, sekolah yang layak memberikan rasa aman ketika mempercayakan pendidikan anak.
Sementara bagi masyarakat sekitar, pelaksanaan pembangunan dapat memberikan manfaat ekonomi melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dan aktivitas usaha di daerah.
Karena itu, Komdigi dan Kemendikdasmen memandang pembangunan pendidikan harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia.
Revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, partisipasi masyarakat serta pemerataan akses pendidikan menjadi bagian yang saling berkaitan.
Pada akhirnya, keberhasilan program bukan hanya terlihat dari berapa banyak gedung yang selesai dibangun, melainkan dari seberapa besar perubahan tersebut mampu menghadirkan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif dan berkualitas serta melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang lebih unggul.
✒️: kl
