KUPANG, NTT– Perjalanan panjang dari struktur paling bawah membentuk cara Jery Anton Pingak melihat masa depan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) di Nusa Tenggara Timur. Politisi yang akrab disapa Yapi itu kini dipercaya mengemban tugas sebagai Sekretaris DPD Partai Hanura NTT, setelah bertahun-tahun menapaki jenjang organisasi partai sejak awal berdirinya Hanura.
Usai pelantikan Badan Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hanura Provinsi Nusa Tenggara Timur periode 2025–2030 di Kupang, Rabu (22/7/2026), Yapi berbicara tentang perjalanan partai, kekuatan Hanura di NTT, hingga target politik besar yang ingin dicapai pada pemilu mendatang.
Bagi Yapi, pelantikan pengurus bukan sekadar pergantian atau pengukuhan struktur. Momentum tersebut menjadi titik awal untuk kembali menghidupkan seluruh mesin organisasi dan memperkuat kerja politik hingga ke akar rumput.
“Dengan pelantikan ini, tentunya mesin organisasi kita harus hidupkan dan kita gas. Karena kompetisi ke depan adalah kompetisi yang bersaing dalam segala aspek,” ujar Yapi.
Yapi bukan wajah baru dalam perjalanan Hanura di NTT. Ia mengaku telah menjadi bagian dari perjalanan partai tersebut sejak 2006 dan ikut merasakan proses membangun kekuatan Hanura dari tingkat bawah.
Karier organisasinya tidak langsung berada di jajaran elite DPD. Ia melewati berbagai jenjang kepengurusan, mulai dari tingkat kecamatan hingga dipercaya memegang posisi strategis di tingkat provinsi.
“Saya salah satu pendiri Hanura NTT sejak 2006. Saya berproses dari bawah. Saya pernah menjadi Ketua PAC, Ketua DPC Kota, Ketua OKK, Ketua Bapilu, dan sekarang menjadi Sekretaris DPD Hanura NTT,” ungkapnya.
Perjalanan itu membuat Yapi memahami bahwa kekuatan sebuah partai tidak hanya ditentukan oleh figur yang berada di tingkat atas. Menurutnya, struktur yang hidup hingga tingkat paling bawah menjadi salah satu kunci mempertahankan eksistensi partai.
Ia menilai NTT selama ini memiliki posisi penting dalam perjalanan politik Hanura secara nasional. Bahkan, menurut Yapi, kekuatan Hanura di NTT telah menjadikan provinsi kepulauan tersebut sebagai salah satu barometer partai.
Semangat itu sejalan dengan tagline Hanura, yakni “Membangun dari Daerah.”
Bagi Yapi, membangun dari daerah bukan sekadar slogan politik. Potensi yang dimiliki setiap daerah harus dioptimalkan, sementara partai politik harus hadir lebih dekat dalam mengadvokasi dan mendampingi kebutuhan masyarakat.
“Hanura sudah eksis di NTT. Karena itu kita harus lebih meningkatkan hal-hal yang menyangkut advokasi masyarakat, terutama masyarakat di daerah,” katanya.
Di balik pelantikan kepengurusan baru, Hanura NTT membawa target politik yang tidak kecil.
Yapi mengungkapkan, salah satu pekerjaan besar kepengurusan baru adalah meningkatkan kembali jumlah kursi legislatif Hanura di seluruh NTT.
Menurut catatan yang disampaikannya, Hanura pernah memiliki kekuatan 89 kursi di NTT pada periode awal keikutsertaannya dalam pemilu. Jumlah tersebut kemudian mengalami penurunan dari periode ke periode hingga menjadi sekitar 49 kursi pada Pemilu 2024.
Kondisi itu menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah bagi kepengurusan baru. “Kali ini kita harus mencapai minimal 90 kursi,” tegas Yapi.
Target tersebut berarti Hanura tidak sekadar ingin mempertahankan kekuatan yang sudah dimiliki. Partai berlambang singa itu ingin melakukan ekspansi politik dengan memperkuat struktur, merekrut kader potensial, serta memastikan mesin partai bekerja secara efektif di seluruh daerah.
Di tingkat Provinsi NTT, Hanura juga ingin memperkuat keterwakilan politik pada seluruh daerah pemilihan.
Yapi menyebut keberhasilan Hanura di Sumba Barat sebagai salah satu contoh bagaimana konsolidasi politik dapat menghasilkan peningkatan signifikan.
“Salah satu contoh gebrakan kita di Sumba Barat, dari satu anggota DPRD menjadi lima. Ketua DPRD, bupati dan wakil bupati juga dari Hanura,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kerja struktur yang kuat dan konsisten dapat memberikan hasil politik yang signifikan.
Target Hanura NTT tidak berhenti pada kursi DPRD kabupaten/kota maupun DPRD Provinsi NTT.
Senayan menjadi salah satu sasaran besar.
Yapi menilai Hanura memiliki basis suara yang cukup kuat di NTT dan mampu bersaing dengan partai-partai besar. Namun, dalam beberapa pemilu sebelumnya, perolehan suara Hanura di daerah belum selalu berujung pada keterwakilan di DPR RI karena persoalan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold secara nasional.
Karena itu, perjuangan mendapatkan kursi DPR RI tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan satu daerah. Dibutuhkan penguatan partai secara nasional agar suara yang diperoleh di NTT dapat dikonversi menjadi keterwakilan di Senayan.
Yapi menilai kekuatan elektoral Hanura di NTT selama ini tidak dapat dipandang sebelah mata.
Menurutnya, tantangan kepengurusan baru adalah bagaimana menjaga basis yang sudah ada sekaligus memperluas dukungan masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Ketua DPD Hanura NTT Refafi Gah, Yapi mengatakan dirinya sebagai sekretaris akan fokus membantu konsolidasi organisasi dan mengoptimalkan kader-kader potensial.
“Mudah-mudahan dengan pengurus yang baru, dengan komandonya Pak Refafi, saya sebagai sekretaris yang membantu tugas-tugas keorganisasian akan mengoptimalkan kader-kader potensial yang ada,” ujarnya.
Ada hal lain yang menarik perhatian dalam wajah baru Hanura: simbol singa.
Yapi menjelaskan, sejak 2006 hingga 2026, Hanura selama ini lebih banyak dikenal melalui identitas bendera partai. Kehadiran simbol baru dinilai penting karena masyarakat cenderung lebih mudah mengenali dan mengingat sebuah identitas melalui simbol yang kuat.
Dalam analoginya, singa dikenal sebagai penguasa wilayah yang memiliki keberanian, kekuatan, dan kemampuan mempertahankan eksistensinya.
Filosofi tersebut kemudian dikaitkan dengan semangat Hanura untuk membangun kekuatan politik dari daerah.
Daerah, menurutnya, bukan sekadar tempat mencari suara menjelang pemilu. Daerah harus menjadi fondasi pembangunan politik dan sumber lahirnya kekuatan yang kemudian dibawa ke tingkat nasional.
Karena itu, simbol baru tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi perubahan visual, tetapi juga mencerminkan semangat baru kader Hanura dalam menjalankan organisasi.
“Mesin Organisasi Harus Hidup”
Bagi Yapi, pekerjaan terbesar setelah pelantikan justru baru dimulai.
Seragam partai, jabatan dalam struktur, maupun seremoni pelantikan tidak akan berarti banyak apabila organisasi tidak bergerak di tengah masyarakat.
Karena itu, konsolidasi struktur, penguatan kader, perekrutan figur potensial dan pendampingan terhadap masyarakat menjadi bagian dari pekerjaan yang harus dilakukan menuju kontestasi politik berikutnya.
Hanura NTT kini membawa ambisi besar: mengembalikan kekuatan legislatif hingga minimal 90 kursi, memperkuat keterwakilan di seluruh daerah pemilihan, dan kembali membuka jalan menuju DPR RI.
Namun bagi Yapi, tujuan akhir berorganisasi dan berpolitik tidak semata-mata dihitung dari berapa kursi yang berhasil direbut.
“Kita dalam berorganisasi harus bersinergi dalam melakukan tugas-tugas organisasi, yaitu pendampingan terhadap masyarakat dalam semua aspek, untuk mencapai satu tujuan, yaitu masyarakat adil dan makmur,” pungkas Jery Anton Pingak atau Yapi.
✒️: kl
