Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Dulu Laboratorium Jadi Ruang Kelas, Revitalisasi Ubah Wajah SMAN 8 Kupang

Rabu, 22 Juli 2026 | Juli 22, 2026 WIB Last Updated 2026-07-21T23:32:45Z

 



KUPANG, NTT – Keterbatasan ruang belajar pernah membuat SMAN 8 Kupang terpaksa mengalihfungsikan laboratorium biologi, laboratorium kimia, laboratorium komputer hingga aula menjadi ruang kelas. Kondisi itu kini mulai berubah setelah sekolah tersebut mendapat program revitalisasi pendidikan tahun 2025 senilai sekitar Rp1,2 miliar, yang menghadirkan empat ruang kelas baru dan dua unit toilet.


Kehadiran fasilitas baru tersebut mengurangi kekurangan ruang kelas di SMAN 8 Kupang dari sebelumnya tujuh ruangan menjadi tersisa tiga ruangan. Sekolah pun mulai memiliki ruang lebih memadai untuk menata kembali fasilitas pembelajaran sesuai fungsi sebenarnya, termasuk mengembalikan laboratorium sebagai tempat praktik siswa.


Perubahan kondisi SMAN 8 Kupang tersebut mengemuka dalam rangkaian Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan, Selasa (21/7/2026).


Pengawas Pembina SMA, Noh Kana Hau, yang hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, khususnya bagi sekolah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas.


Menurutnya, revitalisasi memberikan manfaat besar bagi SMAN 8 Kupang yang berada di kawasan pinggiran Kota Kupang dan berbatasan dengan Kabupaten Kupang.


Sekolah tersebut memiliki tantangan tersendiri dalam pengembangan fasilitas karena kondisi lahannya yang berbatu dan berkarang. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan di sekolah tersebut cukup tinggi.


Melalui program revitalisasi, SMAN 8 Kupang mendapatkan empat ruang kelas baru dan dua unit toilet yang telah selesai dibangun.


Fasilitas tersebut diharapkan memberikan ruang belajar yang lebih layak sekaligus mendukung peningkatan kualitas pelayanan pendidikan bagi siswa.


Riwu, mengatakan program revitalisasi pemerintah pusat sangat membantu sekolah dalam memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.


SMAN 8 Kupang, menurut dia, merupakan sekolah yang masih terus berkembang dengan jumlah peserta didik yang cukup besar.


Sebelum mendapatkan program revitalisasi, sekolah mengalami kekurangan sebanyak tujuh ruang kelas.


Keterbatasan tersebut membuat pihak sekolah harus mencari solusi agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.


Sejumlah fasilitas yang sebenarnya memiliki fungsi khusus akhirnya terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas.


Aula sekolah disekat menjadi tiga ruang belajar. Tidak hanya itu, laboratorium biologi, laboratorium kimia hingga laboratorium komputer juga digunakan untuk menampung kegiatan pembelajaran.


“Awalnya kami kekurangan tujuh ruang kelas. Tahun lalu kami mendapat dana revitalisasi untuk membangun empat ruang kelas, sehingga sekarang kekurangannya tersisa tiga ruang kelas,” jelas Semuel.


Penggunaan laboratorium sebagai ruang kelas, kata dia, dilakukan karena kebutuhan ruang belajar yang mendesak di tengah tingginya jumlah peserta didik.


Kini, setelah empat ruang kelas baru dibangun melalui program revitalisasi, kondisi tersebut secara bertahap mulai berubah.


Laboratorium yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan belajar reguler dapat kembali diarahkan sesuai fungsi utamanya sebagai tempat praktik mata pelajaran tertentu.


Semuel menjelaskan, SMAN 8 Kupang memperoleh anggaran revitalisasi sekitar Rp1,2 miliar pada 2025.


Dana tersebut digunakan untuk pembangunan empat ruang kelas baru dan dua unit toilet.


Seluruh pembangunan dapat diselesaikan berkat dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, panitia pembangunan, para tukang dan pekerja hingga unsur lain yang terlibat dalam pelaksanaan program.


Menurut Semuel, keberadaan empat ruang kelas baru sangat berarti bagi sekolah karena langsung menjawab sebagian persoalan kekurangan ruang belajar yang selama ini dihadapi.


Atas bantuan tersebut, keluarga besar SMAN 8 Kupang menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah pusat atas program revitalisasi pendidikan.


Apresiasi juga disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, jajaran Direktorat Jenderal terkait, Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan.


Bagi sekolah, program revitalisasi bukan sekadar menghadirkan bangunan baru, tetapi memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh fasilitas pembelajaran yang lebih layak.


Kebutuhan ruang kelas di SMAN 8 Kupang tidak terlepas dari tingginya jumlah peserta didik.


Semuel menyebut jumlah siswa sementara berada di kisaran 850 orang. Angka tersebut masih dapat mengalami perubahan karena proses penyesuaian data, termasuk adanya siswa yang pindah masuk maupun keluar.


Besarnya jumlah peserta didik membuat kebutuhan ruang belajar menjadi salah satu persoalan penting bagi sekolah.


Apalagi, jumlah siswa dalam setiap rombongan belajar kini harus disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.


Menurut Semuel, sebelumnya jumlah siswa dalam satu kelas dapat mencapai lebih dari 40 orang. Kini kapasitas maksimal berada pada kisaran 36 siswa dalam satu rombongan belajar.


Dengan jumlah siswa per kelas yang lebih proporsional, kebutuhan terhadap ketersediaan ruang kelas menjadi semakin penting.


Namun, kondisi tersebut juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran karena jumlah siswa di dalam kelas menjadi lebih terkendali.


Meski empat ruang kelas baru telah dibangun, kebutuhan ruang belajar SMAN 8 Kupang belum sepenuhnya terpenuhi.


Dari kekurangan awal sebanyak tujuh ruang kelas, sekolah masih membutuhkan sedikitnya tiga ruang kelas tambahan.


Untuk mengatasi kekurangan tersebut, aula masih dimanfaatkan dengan cara disekat menjadi tiga ruang belajar.


“Harapan kami ke depan kalau bisa dibantu lagi untuk memenuhi kebutuhan paling kurang tiga ruang kelas itu,” kata Semuel.


Pihak sekolah berharap perhatian pemerintah terhadap pengembangan SMAN 8 Kupang dapat terus berlanjut seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan pendidikan.


Tambahan tiga ruang kelas dinilai penting agar seluruh fasilitas sekolah dapat digunakan kembali sesuai fungsi masing-masing dan kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih optimal.


Selain tiga ruang kelas tambahan, SMAN 8 Kupang masih membutuhkan sejumlah fasilitas penunjang.


Sekolah membutuhkan ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), ruang OSIS dan ruang Bimbingan Konseling (BK).


Dari sejumlah kebutuhan tersebut, keberadaan ruang UKS menjadi salah satu yang dinilai cukup mendesak.


Semuel mengungkapkan, terkadang terdapat siswa yang mengalami gangguan kesehatan bahkan pingsan saat berada di lingkungan sekolah.


Karena belum memiliki ruang UKS yang memadai, siswa yang sakit untuk sementara harus ditangani di ruangan lain, termasuk ruang kesiswaan, sebelum mendapat penanganan lebih lanjut atau dibawa ke fasilitas kesehatan.


Kondisi tersebut membuat pihak sekolah berharap pengembangan sarana dan prasarana berikutnya dapat menyentuh fasilitas pendukung yang belum tersedia.


Pembangunan fasilitas pendidikan di SMAN 8 Kupang juga memiliki tantangan tersendiri.


Lokasi sekolah berada di kawasan dengan kondisi tanah yang didominasi batu dan karang serta kontur yang tidak seluruhnya rata.


Noh Kana Hau menggambarkan kondisi tersebut sebagai salah satu tantangan dalam pengembangan sarana sekolah.


Meski berada di kawasan pinggiran Kota Kupang dengan kondisi lahan yang tidak mudah, pembangunan empat ruang kelas dan dua unit toilet tetap dapat diselesaikan.


Kepala tukang, Stefanus Tefu, yang terlibat dalam pembangunan, menjelaskan pekerjaan dilakukan mulai dari pengerjaan fondasi hingga penyelesaian bangunan.


Salah satu tantangan dalam pekerjaan adalah kondisi lahan berbatu, termasuk akses untuk memasukkan material pembangunan.


Namun, proses pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga bulan, sejak sekitar September hingga menjelang Desember 2025.


Selain menghadirkan fasilitas pendidikan, proses pembangunan juga memberikan manfaat ekonomi bagi tenaga kerja yang terlibat.


Pekerjaan tersebut memberikan kesempatan bagi para tukang dan buruh untuk memperoleh penghasilan selama proses pembangunan berlangsung.


Program revitalisasi akhirnya membawa perubahan nyata terhadap kondisi SMAN 8 Kupang.


Sekolah yang sebelumnya kekurangan tujuh ruang kelas dan harus mengorbankan fungsi laboratorium serta aula untuk kegiatan belajar kini telah memiliki empat ruang kelas baru.


Kehadiran ruang baru juga membuka kesempatan bagi laboratorium biologi, kimia dan komputer untuk kembali dimanfaatkan sebagaimana mestinya sebagai fasilitas pendukung praktik dan pembelajaran siswa.


Namun, revitalisasi SMAN 8 Kupang belum sepenuhnya menyelesaikan seluruh kebutuhan sekolah.


Dengan jumlah siswa sekitar 850 orang dan sekolah yang masih terus berkembang, kebutuhan tiga ruang kelas tambahan, ruang UKS, ruang OSIS hingga ruang BK masih menjadi harapan berikutnya.


Bagi keluarga besar SMAN 8 Kupang, empat ruang kelas baru dan dua unit toilet menjadi bukti awal dampak program revitalisasi terhadap penyelenggaraan pendidikan.


Dari kondisi ketika laboratorium harus dijadikan ruang kelas hingga kini mulai memiliki ruang belajar yang lebih memadai, revitalisasi telah membuka jalan bagi SMAN 8 Kupang untuk memberikan lingkungan belajar yang semakin layak dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan bagi para siswanya.

✒️: kl