Kota Kupang, NTT – Dalam Pramuka, simpul yang longgar bisa membuat tenda ambruk. Dalam kehidupan, karakter yang longgar bisa membuat masa depan ikut oleng. Pesan sederhana namun bermakna itu mewarnai pelepasan 48 peserta Pramuka Kota Kupang yang akan mengikuti Jambore Daerah X dan Jambore Nasional XII.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, Jumat (24/7/2026), melepas para peserta sekaligus menitipkan pesan agar mereka tidak sekadar mahir mendirikan tenda, membuat simpul atau mengenakan seragam Pramuka dengan rapi.
Sebab, hasduk bisa dirapikan dalam hitungan menit, tetapi karakter tidak punya setrika instan. Ia harus dibentuk melalui proses panjang: disiplin, tanggung jawab, iman, kepedulian dan kebiasaan menghargai sesama.
Christian mengatakan pembangunan sebuah kota juga demikian. Kota tidak cukup hanya “didandani” dengan jalan mulus, gedung tinggi dan berbagai infrastruktur megah.
“Bapak-Ibu sekalian, membangun sebuah kota itu bukan hanya membangun fisik, bukan hanya membangun infrastruktur, jalan, bangunan, gedung. Tapi membangun sebuah kota itu juga berarti membangun manusianya,” ujar Christian.
Menurutnya, jalan boleh mulus dan gedung boleh berlomba naik lantai, tetapi pembangunan manusia tidak boleh tertinggal di lantai dasar.
Ia mempertanyakan bagaimana kualitas pendidikan, kesehatan hingga karakter masyarakat yang hidup di dalam sebuah kota.
“Bagaimana dengan manusianya? Bagaimana dengan pendidikannya, kesehatannya? Bagaimana dengan karakter warga yang tinggal di dalam kotanya? Apakah mereka saling menghargai, saling menghormati, saling gotong royong?” katanya.
Di situlah, menurut Christian, Gerakan Pramuka mempunyai peran penting dalam pembinaan karakter generasi muda.
Pramuka bukan sekadar urusan tali-temali. Sebab, percuma jago membuat simpul mati kalau disiplin gampang terurai, atau kompas selalu menunjuk utara tetapi karakter justru kehilangan arah.
Christian pun memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus, pembina dan pendamping yang selama ini membantu membina anak-anak di Kota Kupang.
“Atas nama Pemerintah Kota Kupang, saya mengucapkan limpah terima kasih dan memberikan apresiasi yang tinggi untuk Pramuka Kota Kupang yang telah membantu Pemerintah Kota Kupang dalam membina karakter anak-anak yang ada di Kota Kupang,” ujarnya.
Ada cerita menarik di balik keberangkatan kontingen tersebut.
Awalnya, kuota peserta hanya sebanyak 32 orang. Namun ternyata, jumlah peserta yang mengikuti seleksi mencapai 48 orang.
Christian kemudian bertanya mengenai nasib peserta lainnya jika hanya 32 orang yang diberangkatkan.
“Saya tanya berapa peserta yang ikut seleksi. Kan awalnya dari seleksi itu mau dipilih hanya 32. Pak Andre bilang yang ikut seleksi 48. Saya bilang, kalau begitu semua yang ikut seleksi masukkan ikut Jambore Daerah ke-10 dan Jambore Nasional ke-12,” ungkapnya.
Alhasil, kalkulator seleksi pun seolah tak perlu bekerja terlalu keras: yang ikut seleksi 48, yang diberangkatkan juga 48. Tidak ada yang harus pulang hanya karena kursinya berhenti di angka 32.
“Jadi saya bilang 48 itu ikutkan semua. Kuotanya buka sebanyaknya, peserta yang seleksi ikutkan semua. Supaya anak-anak itu punya kesempatan. Kasihan kalau tidak dipilih hanya 32, sisanya mau ke mana,” kata Christian.
Para peserta tersebut akan mengikuti Jambore Daerah X di Bumi Perkemahan Fatubena dan selanjutnya Jambore Nasional XII di Cibubur.
Christian juga memberikan kejutan kepada para peserta.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, ia ingin anak-anak mendapatkan kesempatan berwisata dan melihat sejumlah tempat menarik.
Untuk itu, Christian menyatakan akan menyumbangkan Rp10 juta dari uang pribadinya.
“Nanti setelah kegiatan selesai, adik-adik boleh berwisata, kunjung ke tempat-tempat yang bagus di sana. Nanti saya partisipasi, saya ikut menyumbangkan pribadi supaya adik-adik bisa jalan-jalan sedikit, Rp10 juta,” ujarnya.
Jadi, perjalanan para peserta nanti bukan hanya soal tenda, tongkat dan tali-temali. Setelah tugas jambore selesai, ada kesempatan untuk sedikit “mengistirahatkan kompas” dan menikmati perjalanan.
Namun, satu hal yang tidak boleh ikut libur adalah tanggung jawab menjaga nama baik Kota Kupang.
Christian mengingatkan bahwa ketika berada di luar daerah, 48 peserta tersebut bukan lagi sekadar membawa nama pribadi.
Mereka membawa nama Kota Kupang.
“Kalian harus jadi contoh wajah Kota Kupang di sana,” pesannya.
Karena itu, wajah Kota Kupang yang dimaksud tentu bukan soal siapa yang paling rapi ketika difoto atau siapa yang paling keren memakai seragam.
Yang harus ditunjukkan adalah karakter, disiplin, iman, kesopanan dan kemampuan hidup bersama dengan peserta lain.
Christian mengaku percaya kepada kualitas anak-anak yang diberangkatkan.
“Saya percaya 48 orang ini adalah anak-anak yang baik, anak-anak yang berkualitas dan berkarakter,” katanya.
Pesan khusus juga diberikan Christian kepada para Pramuka Garuda.
Menurutnya, predikat Pramuka Garuda membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi contoh dalam kedisiplinan, kepedulian sosial dan pelayanan.
“Pramuka Garuda itu harus menjadi contoh dan teladan tentang kedisiplinan, tentang kepedulian sosial, tentang pelayanan. Mereka harus menjadi contoh, menjadi garda terdepan,” tegasnya.
Sederhananya, kalau sudah menyandang nama Garuda, jangan hanya lambangnya yang punya sayap sementara tanggung jawabnya masih berjalan kaki.
Christian menegaskan bahwa semakin tinggi status atau jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Ia memberikan contoh mulai dari lurah yang bertanggung jawab terhadap satu kelurahan, camat terhadap satu kecamatan, wali kota terhadap satu kota, gubernur terhadap satu provinsi hingga presiden yang memiliki tanggung jawab terhadap seluruh Indonesia.
“Jabatan dan status itu makin tinggi, tanggung jawab juga makin tinggi. Great power comes great responsibility. Kekuatan yang besar diikuti oleh tanggung jawab yang besar,” ujarnya.
Karena itu, pelantikan Pramuka Garuda menurut Christian tidak boleh berhenti pada seremoni.
Pin penghargaan memang ringan ketika ditempelkan di seragam, tetapi tanggung jawab yang ikut menempel bersamanya jauh lebih berat.
Christian juga mengajak para pembina melihat jauh ke depan.
Anak-anak yang hari ini berdiri mengenakan seragam Pramuka bisa saja kelak menjadi orang-orang yang memegang posisi penting.
“Kedepan mungkin akan lahir pengacara-pengacara sukses, akan lahir pengusaha-pengusaha sukses, akan lahir ASN-ASN yang kariernya sukses, akan lahir tentara dan polisi yang kariernya sukses, akan lahir wali kota-wali kota baru,” ujarnya.
Hari ini mereka mungkin masih sibuk membawa ransel, tongkat dan perlengkapan perkemahan. Siapa tahu beberapa tahun mendatang, tongkat Pramuka berganti menjadi tongkat kepemimpinan.
Karena itu, menurut Christian, kerja para pembina dan pendamping tidak boleh dianggap sederhana. Nilai yang ditanamkan hari ini dapat menjadi bekal ketika anak-anak tersebut memasuki dunia kerja dan bahkan menjadi pemimpin.
Ia kemudian menegaskan bahwa kehebatan sebuah kota pada akhirnya tidak hanya terlihat dari pembangunan fisiknya.
“Sebuah kota yang hebat tidak diukur dari tingginya bangunannya, tetapi diukur dari tingginya karakter penghuni kota ini,” pungkasnya.
Maka, 48 peserta itu berangkat membawa lebih dari sekadar ransel dan perlengkapan jambore. Tenda nanti pasti dibongkar, tali pasti digulung dan seragam akhirnya masuk lemari. Tetapi simpul karakter yang dibentuk selama perjalanan diharapkan jangan pernah ikut dilepas.
✒️: kl
