Kupang,NTT- Ada yang datang ke politik untuk mengejar kemenangan.
Ada pula yang tetap bertahan ketika kemenangan tak pernah datang.
Di antara riuh rendah kabar kedatangan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Kota Kupang, terselip sebuah cerita yang nyaris tak terdengar.
Cerita tentang Donny Matius Famdale.
Namanya pernah tercetak di surat suara sebagai calon legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Ia menawarkan gagasan, mengetuk pintu rumah warga, menyapa masyarakat dari pagi hingga malam.
Namun demokrasi memiliki jalannya sendiri.
Suara rakyat belum mengantarkannya ke kursi DPRD.
Banyak orang mengira kekalahan adalah akhir dari perjalanan politik seseorang. Bahwa setelah baliho diturunkan dan masa kampanye usai, selesai pula semangat untuk berbuat.
Tetapi Donny memilih jalan yang berbeda.
Ketika kabar Jokowi kembali menginjakkan kaki di Kupang mulai terdengar, ia justru menjadi salah satu sosok yang menyambutnya dengan penuh antusias.
Bukan karena sedang mencalonkan diri.
Bukan pula karena berharap mendapat panggung politik.
Melainkan karena ia merasa masih memiliki utang moral kepada nilai-nilai yang selama ini ia yakini.
"Bagi saya, mendukung Bapak Jokowi bukan soal sedang mencalonkan diri atau mencari keuntungan politik. Ini tentang menghargai seorang pemimpin yang telah mengajarkan arti kerja nyata," ujar Donny.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi seseorang yang pernah merasakan pahitnya kekalahan politik, kalimat itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Sebab tidak semua orang mampu tetap berdiri ketika tepuk tangan telah berhenti.
Tidak semua orang sanggup tetap setia ketika sorotan kamera telah berpindah kepada pemenang.
Donny justru memilih kembali ke tempat yang paling ia kenal.
Bengkelnya.
Di sanalah kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Suara mesin kembali terdengar.
Pelanggan kembali datang.
Tangannya kembali sibuk memperbaiki kendaraan, sementara pikirannya tetap memandang bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dari balik meja kekuasaan.
Ia percaya, melayani masyarakat bisa dimulai dari mana saja.
Dari bengkel.
Dari tempat usaha.
Dari lingkungan sekitar.
Karena baginya, jabatan hanyalah salah satu jalan untuk berbuat baik.
Sementara kesempatan melayani akan selalu ada selama seseorang masih mau bekerja dengan hati.
Barangkali itulah yang membuat Donny tetap menghormati sosok Jokowi.
Bukan semata karena pernah menjadi Presiden.
Tetapi karena ia melihat seorang pemimpin yang mengajarkan bahwa hasil lahir dari kerja, bukan sekadar kata-kata.
"Kedatangan Bapak Jokowi menjadi kebanggaan bagi masyarakat NTT. Mari kita sambut beliau dengan penuh sukacita, menjaga keamanan, ketertiban, dan menunjukkan bahwa masyarakat NTT adalah masyarakat yang ramah," ujarnya.
Bagi Donny, kunjungan Jokowi bukan hanya agenda seremonial.
Ia melihatnya sebagai pengingat bahwa pembangunan membutuhkan optimisme.
Bahwa kerja keras tidak boleh berhenti hanya karena satu kegagalan.
Dan bahwa seseorang tidak kehilangan hak untuk mengabdi hanya karena gagal memenangkan pemilu.
Di luar sana, mungkin banyak orang mengenalnya sebagai mantan caleg PSI.
Sebagian mengenalnya sebagai pengusaha otomotif.
Sebagian lagi mengenalnya sebagai pemilik Anugerah Motor.
Namun di balik semua itu, Donny hanyalah seorang anak yang sejak kecil ditempa oleh kerasnya kehidupan.
Ia kehilangan ayah di usia empat tahun.
Ia pernah membantu ibunya menjual kue demi membantu ekonomi keluarga.
Ia membangun usahanya dari nol, belajar bahwa setiap keberhasilan selalu didahului oleh kegagalan dan setiap harapan membutuhkan perjuangan.
Mungkin karena itulah ia tidak pernah menganggap kekalahan sebagai akhir.
Ia hanya melihatnya sebagai satu tikungan dalam perjalanan panjang.
Sebab baginya, politik bukanlah tujuan.
Politik hanyalah kendaraan.
Yang terpenting adalah tetap bergerak.
Tetap bekerja.
Tetap melayani.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengingat siapa yang menang dalam sebuah pemilu.
Tetapi sejarah sering kali mengingat mereka yang memilih tetap mengabdi, bahkan ketika kemenangan tidak pernah datang.
Dan bagi Donny Famdale, menyambut Jokowi di Kupang bukan sekadar menyambut seorang mantan Presiden.
Melainkan menyambut kembali semangat bahwa pengabdian sejati tidak pernah berakhir di kotak suara.
✒️; kl
