Kota Kupang, NTT– Kepala SMP Negeri 15 Kota Kupang, Jhon L. Johanis, mengakui jumlah peserta didik baru pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 belum memenuhi kuota yang ditetapkan.
Saat ditemui pada Selasa (28/7/2026), Jhon mengatakan sekolahnya menerima 149 siswa baru, sementara kuota yang diberikan Dinas Pendidikan Kota Kupang mencapai sekitar 224 siswa.
Menurutnya, penurunan jumlah peserta didik bukan disebabkan kurangnya sosialisasi. Pihak sekolah telah menyampaikan informasi penerimaan siswa jauh sebelum proses SPMB dimulai, termasuk melalui berbagai media informasi dan jaringan sekolah.
"Informasi sudah kami sampaikan sejak jauh hari. Dinas Pendidikan juga sudah memberikan arahan, kemudian kami teruskan melalui brosur, grup keluarga, grup sekolah, dan berbagai saluran lainnya," ujarnya.
Ia menilai pilihan orang tua untuk menyekolahkan anak merupakan hak masing-masing keluarga. Meski demikian, ia menegaskan seluruh sekolah negeri di Kota Kupang memiliki kualitas pendidikan yang sama.
"Kalau bicara mutu, semua sekolah negeri berkualitas. Orang tua mungkin memiliki pertimbangan sendiri dalam memilih sekolah," katanya.
Untuk meningkatkan minat masyarakat, SMP Negeri 15 Kota Kupang akan lebih aktif menampilkan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan sekolah dasar pendukung.
Beberapa program yang akan terus dikembangkan antara lain pentas seni (Pensi), gelar karya, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan lima SD pendukung di sekitar sekolah.
"Kami ingin masyarakat melihat langsung aktivitas dan prestasi sekolah. Pensi, gelar karya, serta berbagai kegiatan ekstrakurikuler akan terus kami laksanakan sebagai bentuk promosi sekolah," jelasnya.
Saat ini SMP Negeri 15 Kota Kupang memiliki 535 siswa, sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 554 siswa.
Menjawab tantangan semakin banyaknya lembaga bimbingan belajar di luar sekolah, Jhon menegaskan pihaknya memilih mengoptimalkan kompetensi guru yang dimiliki.
Sekolah tidak berencana mendatangkan pengajar dari luar, melainkan memperkuat kualitas pembelajaran melalui guru internal.
"Semua kami percayakan kepada guru-guru yang kompeten. Mereka sudah menyusun strategi pembelajaran terbaik untuk mempersiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA)," ujarnya.
Program bimbingan belajar khusus TKA saat ini difokuskan kepada siswa kelas IX yang terdiri atas enam rombongan belajar.
Guru Bahasa Indonesia dan Matematika terlebih dahulu melakukan analisis capaian pembelajaran setiap siswa sebelum menyusun materi pengayaan maupun remedial.
"Kalau ada siswa yang belum mencapai target, kami lakukan remedial dengan pendekatan berbeda, tetapi tetap mengarah pada kompetensi yang harus dicapai," katanya.
Sementara itu, siswa kelas VII dan VIII juga mendapat pendampingan akademik berupa penguatan literasi dan numerasi agar lebih siap menghadapi TKA saat berada di kelas IX.
Program tersebut dirancang untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) melalui berbagai latihan soal dan pemahaman bacaan.
Selain itu, sekolah juga menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler akademik seperti pendampingan Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan program literasi yang dijadwalkan pada hari berbeda agar tidak berbenturan dengan bimbingan belajar.
"Kami ingin kemampuan literasi dan numerasi anak meningkat sejak kelas VII dan VIII, sehingga ketika kelas IX mereka sudah siap menghadapi TKA," jelasnya.
Untuk mengukur efektivitas program bimbingan belajar, sekolah menerapkan evaluasi secara berkala melalui tes awal, tes perkembangan, hingga analisis hasil belajar siswa.
Guru akan memberikan pendampingan lanjutan kepada siswa yang belum mencapai kompetensi, terutama pada soal-soal berpikir tingkat tinggi dengan level C4 hingga C6.
Saat ini bimbingan belajar dilaksanakan satu kali dalam sepekan. Namun, setelah rangkaian kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI selesai, sekolah berencana menambah intensitas pembelajaran menjadi tiga hingga empat kali setiap minggu apabila diperlukan.
Di akhir wawancara, Jhon juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam membangun kebiasaan belajar anak di rumah.
Menurutnya, akses terhadap berbagai materi pembelajaran di internet sudah sangat terbuka, namun kesadaran belajar mandiri siswa masih menjadi tantangan.
"Soal-soal TKA sekarang banyak tersedia di internet. Yang menjadi tantangan adalah kemauan anak untuk belajar secara mandiri. Karena itu, pendampingan orang tua di rumah sangat diperlukan agar apa yang kami lakukan di sekolah bisa berjalan maksimal," pungkasnya.
✒️: kl
