Kupang, NTT–Orang tua dulu sering berpesan, "Kalau ada tamu datang ke rumah, jangan cuma titip salam lewat tetangga. Bukalah pintu, sambut dengan senyum."
Nasihat sederhana itu rupanya masih hidup di hati sebagian masyarakat Rote Ndao.
Ketika kabar kedatangan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Kota Kupang pada 1–2 Agustus 2026 semakin dekat, ratusan warga dari Pulau Rote justru mulai bersiap menyeberang.
Bukan karena ada pasar murah.
Bukan pula karena ingin berburu diskon di pusat perbelanjaan.
Mereka hanya ingin hadir, melihat langsung, dan menyambut seorang pemimpin yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode.
Sekretaris DPD PSI Kabupaten Rote Ndao, Wilmart D. Lonameo, mengatakan antusiasme masyarakat sangat besar. Bahkan sejak tiga hari terakhir, telepon dan pesan yang diterimanya terus berdatangan.
Ada tokoh masyarakat.
Ada tokoh pemuda.
Ada pula warga dari berbagai desa dan kecamatan yang menyatakan siap berangkat ke Kupang.
"Mereka menghubungi kami dan menyampaikan keinginan untuk hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Bapak Joko Widodo di Kota Kupang. Ini murni karena mereka ingin memberikan penghormatan secara langsung," ujar Wilmart kepada media ini, Selasa (28/7/2026).
Kalau diibaratkan, masyarakat Rote Ndao tidak ingin hanya menjadi penonton yang nanti berkata, "Katanya ramai ya?"
Mereka memilih menjadi bagian dari cerita.
Sebab ada momen yang bisa ditonton ulang melalui video.
Namun ada pula momen yang hanya bisa dirasakan jika hadir langsung.
Bagi Wilmart, kunjungan Jokowi bukan sekadar agenda seremonial.
Ini adalah kesempatan masyarakat NTT menunjukkan budaya yang diwariskan para leluhur: menghormati tamu.
"Dalam budaya kita, tamu selalu disambut dengan sukacita. Karena itu kami mengajak masyarakat datang dengan tertib, menjaga keamanan, dan menunjukkan keramahan khas NTT," katanya.
Ia berharap kehadiran masyarakat dari Rote Ndao menjadi simbol bahwa penghormatan kepada seseorang tidak selalu diukur dari jabatan yang sedang diemban, tetapi juga dari pengabdian yang pernah diberikan.
"Ibarat pohon yang pernah memberi buah dan teduh, meski musimnya telah berganti, orang tetap mengenang manfaatnya," ujar Wilmart.
Ada pepatah jenaka di kalangan pelaut Rote yang mengatakan, "Kalau ombak membuat orang takut berlayar, mungkin sampai hari ini ikan masih bingung mencari nelayan."
Karena itu, walau angin Pukuafu menderu dan gelombang memburu lambung kapal, semangat mereka tidak ikut surut.
Mereka percaya, ombak hanya menguji keberanian pelaut, bukan menghentikan langkah orang yang ingin menghormati tamunya.
Bagi mereka, laut bukan penghalang.
Laut adalah jalan yang menghubungkan Pulau Rote dengan Kota Kupang.
Dan setiap gelombang yang dilewati justru menjadi bagian dari cerita yang akan dikenang.
Ada momen yang bisa disaksikan lewat layar telepon genggam.
Ada pula momen yang hanya bermakna jika hadir langsung.
Masyarakat Rote Ndao memilih yang kedua.
Sebab mereka tidak ingin kelak hanya berkata, "Saya lihat di media sosial."
Mereka ingin bisa berkata kepada anak cucunya, "Kami pernah berdiri di Kupang, ikut menyambut Presiden ke-7 Republik Indonesia ketika beliau datang ke Nusa Tenggara Timur."
Sebab, seperti kata orang tua di Rote, tamu boleh datang dan pergi, tetapi cara tuan rumah menyambutnya akan selalu dikenang. Dan kali ini, ratusan warga Rote Ndao memilih menyeberangi laut, melawan angin dan ombak, demi satu tujuan: merapat ke Kupang untuk menyambut Joko Widodo dengan penuh hormat dan sukacita.
✒️: kl
