Kupang NTT- Politik selalu punya dua panggung. Panggung pertama dipenuhi tepuk tangan, isu, gosip, dan spekulasi. Di sana orang sibuk menghitung siapa maju, siapa mundur, siapa akan bertarung pada pemilihan berikutnya.
Panggung kedua jauh lebih sunyi. Di sana orang bekerja, mengawal program, dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat tanpa banyak berbicara tentang dirinya sendiri.
Di tengah riuhnya berbagai spekulasi politik yang terus mengaitkan namanya dengan Pilkada Rote Ndao, Simson Polin tampaknya memilih berdiri di panggung kedua.
Rabu (29/7/2026), saat sebagian orang mungkin masih sibuk membaca arah angin politik, Anggota DPRD Provinsi NTT itu justru sibuk membicarakan sesuatu yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat dibutuhkan masyarakat: listrik.
Di hadapan manajemen UIP Nusra, kontraktor, hingga jajaran PLN, Simson tidak membuka pembicaraan tentang elektabilitas ataupun strategi politik.
Ia justru berbicara mengenai progres proyek transmisi listrik yang telah mencapai lebih dari 70 persen.
Baginya, proyek itu bukan sekadar rangkaian tiang dan kabel bertegangan tinggi.
Itu adalah "jalan tol listrik" yang akan membuat sistem kelistrikan NTT semakin andal ketika terjadi gangguan.
Ia meminta proyek strategis nasional itu diselesaikan sesuai kontrak.
Ia mengingatkan agar pengawasan dilakukan secara profesional.
Ia bahkan mengingatkan agar tidak ada kompromi antara kontraktor dan pengawas yang dapat mengorbankan kualitas pekerjaan.
Kalimatnya sederhana, tetapi pesannya kuat.
Karena pembangunan tidak boleh hanya selesai di atas kertas.
Namun perhatian Simson tidak berhenti pada proyek bernilai triliunan rupiah.
Pikirannya justru melompat ke sebuah kampung kecil di Dusun Oehu, Desa Noelbaki.
Di sana, sekitar 50 kepala keluarga masih menunggu belasan tiang listrik agar tidak lagi menarik kabel dari rumah ke rumah.
Di tengah pembahasan gardu induk 150 kV, ia justru menyelipkan permintaan sederhana kepada PLN.
"Tolong turun cek ke Oehu."
Kalimat itu mungkin terdengar biasa.
Tetapi bagi warga yang bertahun-tahun menunggu jaringan listrik layak, kalimat itu adalah harapan.
Sebab pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar.
Kadang ia dimulai dari satu tiang listrik yang akhirnya berdiri di depan rumah warga.
Nada suara Simson berubah ketika berbicara tentang PLTU Rote.
Proyek yang telah menghabiskan pembebasan lahan, pembangunan dermaga, dan berbagai infrastruktur pendukung itu hingga kini belum memberikan manfaat sebagaimana direncanakan.
Ia menyebut proyek tersebut mangkrak.
Bukan untuk menyalahkan siapa pun.
Tetapi sebagai pengingat bahwa pembangunan yang berhenti di tengah jalan hanya akan menyisakan bangunan tanpa manfaat.
Ia berharap pemerintah pusat memberi perhatian agar proyek tersebut dapat ditinjau kembali.
Sebab jika PLTU itu kembali dilanjutkan, menurutnya, persoalan listrik di Pulau Rote akan jauh lebih baik.
Di luar ruang rapat, kehidupan politik tetap berjalan.
Nama Simson Polin terus dikaitkan dengan berbagai spekulasi.
Ada yang menyebut ia sedang menyiapkan langkah politik.
Ada pula yang mencoba membaca setiap geraknya sebagai bagian dari strategi menuju Pilkada.
Tetapi hingga hari ini, Simson memilih tidak menjawab semua itu dengan pernyataan politik.
Ia menjawabnya dengan pekerjaan.
Dengan menghadiri rapat.
Dengan menyerap aspirasi.
Dengan memperjuangkan gardu induk.
Dengan meminta tiang listrik bagi warga Oehu.
Dengan mengingatkan pemerintah agar tidak melupakan PLTU Rote.
Barangkali memang begitulah cara seorang wakil rakyat bekerja.
Tidak sibuk membalas setiap isu yang datang.
Karena bagi masyarakat, yang lebih penting bukan siapa yang paling sering menjadi pembicaraan.
Melainkan siapa yang paling sering memperjuangkan kebutuhan mereka.
Dan selama lampu-lampu di pelosok Rote masih membutuhkan aliran listrik, selama masih ada warga yang menunggu tiang PLN berdiri di depan rumahnya, Simson Polin tampaknya memilih tetap melakukan apa yang dipercayakan masyarakat kepadanya: terus bersuara untuk Rote Ndao dari kursinya di DPRD Provinsi NTT.
✒️; kl
