Konon, ada sebuah kampung yang selalu ramai setiap kali kedatangan tamu. Anehnya, warga kampung itu tidak pernah menyiapkan panggung untuk perdebatan. Mereka justru sibuk membersihkan halaman, menyapu teras, merebus air, dan menyiapkan kopi.
Seorang anak kecil pernah bertanya kepada kakeknya.
"Kek, kenapa kita repot-repot menyambut tamu? Bukankah ada yang tidak sependapat dengan kita?"
Sang kakek tersenyum sambil mengunyah sirih.
"Nak, perbedaan itu tamu. Persaudaraan itu tuan rumah. Masa tuan rumah kalah sama tamunya?"
Anak kecil itu mengangguk, meski belum sepenuhnya mengerti.
Beberapa tahun kemudian, ia baru memahami bahwa kampung yang damai bukan kampung yang semua warganya sepakat. Kampung yang damai adalah kampung yang tahu bagaimana menghormati orang lain, meski tidak selalu memiliki pandangan yang sama.
Barangkali cerita itulah yang terlintas ketika Ketua Ikatan Paguyuban Flotirosa (IPF), Joi Sadipun, menyampaikan pandangannya menyambut rencana kunjungan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Nusa Tenggara Timur pada 31 Juli hingga awal Agustus 2026.
Bagi Joi, setiap kedatangan tokoh nasional merupakan kesempatan untuk menghadirkan perhatian yang lebih besar bagi NTT. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, kesejahteraan petani, nelayan, hingga pelaku UMKM adalah harapan yang patut diperjuangkan bersama.
Namun, di balik harapan itu, ia menitipkan pesan yang sederhana.
Bahwa masyarakat NTT tidak perlu kehilangan jati dirinya hanya karena berbeda pilihan politik.
Sebab, menurutnya, persaudaraan selalu lebih besar daripada perbedaan.
Joi bahkan menyampaikan sebuah pandangan yang lahir dari pengamatannya.
> "Dari sekian banyak mantan presiden, setelah purna tugas, cuma Pak Jokowi yang meluangkan waktu datang ke Kupang. Ini merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami sebagai orang NTT."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi orang Timur, ada makna yang lebih dalam.
Orang Timur percaya, seseorang yang masih mau datang setelah tak lagi memiliki jabatan sedang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada kekuasaan: silaturahmi.
Karena jabatan bisa selesai pada waktunya.
Tetapi persaudaraan seharusnya tidak pernah pensiun.
Itulah sebabnya Joi Sadipun mengajak seluruh masyarakat NTT menjaga keamanan, ketertiban, serta menghormati setiap perbedaan pandangan.
Sebab tidak ada gunanya memenangi perdebatan jika akhirnya kehilangan persaudaraan.
Bukankah semboyan Ikatan Paguyuban Flotirosa (IPF) sejak awal sudah mengajarkan semuanya?
"Kami Tidak Sedarah, Namun Kami Bersaudara."
Maka, kalau suatu hari ada tamu mengetuk pintu rumah, jangan buru-buru menghitung perbedaannya.
Bukalah pintunya terlebih dahulu.
Karena di rumah yang baik, persaudaraan tetap menjadi tuan rumah, sedangkan perbedaan hanyalah tamu yang datang, singgah sejenak, lalu pulang tanpa pernah merusak ikatan yang sudah dibangun bersama.
✒️: kl
