Kota Kupang NTT-Di sebuah kampung, ada pohon mangga tua yang usianya sudah puluhan tahun. Ia tidak lagi berbunga sebanyak dulu, apalagi dipupuk setiap hari. Namun anehnya, setiap musim berbuah, justru pohon itulah yang paling sering dilempari batu.
Anak-anak, orang dewasa, bahkan orang yang lewat pun ikut melempar. Bukan karena membenci pohonnya, tetapi karena mereka tahu masih ada buah yang layak dipetik.
Begitulah politik.
Dalam beberapa hari terakhir, kedatangan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, ke Kota Kupang memunculkan beragam reaksi. Ada yang menyambut hangat, ada pula yang melontarkan kritik hingga cibiran. Itulah wajah demokrasi; tidak semua orang harus berdiri di barisan yang sama.
Bagi Ahmad Talib, Anggota DPRD Kota Kupang sekaligus Ketua Bapilu PSI Kota Kupang, kedatangan Jokowi merupakan sesuatu yang patut dihormati.
Menurutnya, Jokowi bukan sosok yang lahir dari ruang istimewa. Ia meniti karier politik dari bawah, menjadi Wali Kota Solo, kemudian Gubernur DKI Jakarta, hingga dua kali dipercaya rakyat memimpin Indonesia sebagai Presiden.
"Beliau adalah pemimpin yang selalu dekat dengan masyarakat. Kesederhanaan dan kebiasaannya turun langsung menemui rakyat menjadi ciri kepemimpinannya," ujar Ahmad Talib.
Ia menilai kehadiran Jokowi di Kota Kupang membawa pesan positif. Meski tidak lagi menjabat sebagai Presiden, Jokowi tetap diterima sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki hak untuk berkunjung ke berbagai daerah.
Ahmad Talib juga memberikan apresiasi kepada Wali Kota Kupang yang menyambut kedatangan Jokowi. Menurutnya, sikap tersebut mencerminkan penghormatan kepada mantan kepala negara sekaligus menunjukkan jiwa kenegarawanan.
"Bagi saya, menghormati mantan Presiden adalah bentuk penghormatan terhadap lembaga negara dan sejarah bangsa. Perbedaan pilihan politik tidak boleh menghilangkan nilai-nilai etika dan penghormatan," katanya.
Ia mengakui bahwa kritik dan berbagai komentar yang bermunculan merupakan bagian dari dinamika politik yang wajar dalam negara demokrasi.
Namun, Ahmad Talib berpendapat bahwa seorang politisi akan lebih dihargai jika menunjukkan kerja nyata dibanding terus-menerus terlibat dalam perdebatan.
"Politisi yang bijak bukan yang paling keras berbicara, tetapi yang lebih banyak bekerja dan hadir di tengah masyarakat. Diam, bekerja, lalu biarkan hasil yang berbicara," tutupnya.
Karena dalam politik, seperti pohon mangga di kampung tadi, selama masih ada yang melempar batu, mungkin memang masih ada buah yang dianggap bernilai. Tetapi pada akhirnya, bukan banyaknya batu yang menentukan sejarah sebuah pohon, melainkan seberapa banyak orang pernah menikmati buah yang dihasilkannya.
✒️: kl
