Maumere, NTT, 22 Juli 2026 – Ketika usulan dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) untuk memenuhi kebutuhan air bersih belum dapat terealisasi akibat keterbatasan fiskal daerah, orang-orang baik memilih tidak menunggu. Dari hibah Mata Air Koja milik Suitbertus Amandus hingga perjuangan warga memikul pipa sejauh kurang lebih tiga kilometer, gotong royong akhirnya mengalirkan air sekaligus harapan baru bagi masyarakat Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.
Di Rotat, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Bagi masyarakat yang telah lama menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih, setiap tetes yang kini mengalir membawa cerita panjang tentang penantian, kepedulian, pengorbanan, dan kebersamaan.
Harapan itu menemukan jalannya dari Mata Air Koja yang berada di kebun milik Suitbertus Amandus. Dengan ketulusan hati, Suitbertus bersama keluarganya menghibahkan sumber mata air tersebut untuk kepentingan masyarakat.
Tak ada hitung-hitungan keuntungan dalam pemberian itu. Mata air yang berada di kebunnya dibuka agar dapat menjadi sumber kehidupan bagi warga yang selama bertahun-tahun mendambakan kemudahan memperoleh air bersih.
Namun, perjalanan air dari sumber menuju permukiman bukan perkara mudah.
Dibutuhkan jaringan pipa sepanjang kurang lebih tiga kilometer untuk membawa air melewati medan yang tidak ringan. Tanjakan curam, jalan berbatu, hingga kondisi perbukitan menjadi tantangan yang harus dilalui.
Di tengah keterbatasan itulah kekuatan gotong royong masyarakat Rotat terlihat.
Pemandangan mengharukan terlihat ketika bukan hanya kaum bapak dan pemuda yang turun tangan. Para ibu atau emak-emak pun ikut mengambil bagian.
Mereka memikul pipa dan berjalan menembus medan terjal. Pipa-pipa itu dibawa sejauh kurang lebih tiga kilometer agar jaringan air dapat tersambung dari sumber menuju kampung.
Langkah mereka mungkin terasa berat. Namun di pundak mereka, yang dipikul bukan sekadar batang-batang pipa.
Ada harapan agar suatu hari anak-anak mereka tidak lagi mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Ada keinginan agar generasi berikutnya tidak harus menjalani perjuangan yang sama.
Sedikit demi sedikit, pipa dibawa. Warga bekerja bersama, menyatukan tenaga dan kemampuan yang mereka miliki.
Apa yang sebelumnya hanya menjadi harapan perlahan berubah menjadi kenyataan.
Perjuangan masyarakat mendapatkan air bersih sebenarnya telah disampaikan melalui jalur pemerintahan.
Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari Partai Perindo Dapil Sikka IV, Yuslin Nursivin Dua Botha, yang akrab disapa Irvin Jano, mengatakan kebutuhan air bersih menjadi salah satu aspirasi utama masyarakat ketika dirinya melaksanakan reses pada 2024.
Aspirasi tersebut kemudian diperjuangkannya melalui usulan dana Pokok-Pokok Pikiran atau Pokir pada 2025.
Namun, hingga kini usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena kondisi fiskal daerah yang masih terbatas.
“Usulan Pokir memang sudah saya ajukan pada tahun 2025. Namun hingga saat ini belum dapat direalisasikan karena kondisi fiskal daerah yang masih terbatas,” ujar Irvin Jano.
Keterbatasan anggaran ternyata tidak membuat masyarakat berhenti berharap.
Mereka memilih bergerak dengan apa yang mereka miliki.
Di saat anggaran pemerintah belum dapat menjangkau kebutuhan tersebut, kepedulian Suitbertus Amandus sekeluarga dan kekuatan swadaya masyarakat lebih dahulu membuka jalan.
Hibah Mata Air Koja menjadi titik penting dalam perjalanan panjang itu.
Tanpa sumber air yang diberikan secara sukarela tersebut, perjuangan menghadirkan air ke permukiman tentu akan jauh lebih sulit.
Namun, satu kebaikan kemudian bertemu dengan kebaikan lainnya.
Ada yang memberikan sumber mata air. Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada yang memikul pipa. Ada yang membantu pemasangan jaringan. Ada pula yang terus mendampingi perjuangan masyarakat.
Semua bergerak menuju tujuan yang sama: menghadirkan air bersih bagi Rotat.
Tidak ada yang menunggu semuanya tersedia dengan sempurna.
Masyarakat bergerak dengan kemampuan yang ada.
Dari situlah gotong royong menemukan maknanya.
Melihat perjuangan tersebut, Irvin Jano mengaku terharu.
Baginya, apa yang dilakukan masyarakat menunjukkan bahwa keterbatasan tidak selalu harus berakhir dengan kepasrahan.
Ketika Pokir yang telah diperjuangkannya belum dapat direalisasikan karena kondisi fiskal daerah, masyarakat justru menunjukkan kekuatan solidaritas.
“Saya sangat terharu. Ketika Pokir belum bisa direalisasikan karena kondisi fiskal daerah, masyarakat tidak memilih menyerah,” ungkap Irvin Jano.
Ia memberikan penghargaan khusus kepada Suitbertus Amandus dan keluarga yang telah menghibahkan Mata Air Koja bagi kepentingan masyarakat.
Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh warga yang bekerja secara sukarela, termasuk para emak-emak yang ikut memikul pipa melewati medan berat.
“Kebaikan Bapak Suitbertus Amandus sekeluarga yang menghibahkan Mata Air Koja, ditambah semangat gotong royong seluruh warga, terutama para emak-emak yang rela memikul pipa sejauh tiga kilometer melintasi medan terjal, adalah bukti bahwa kepedulian dan kebersamaan mampu menghadirkan perubahan nyata,” katanya.
“Atas nama masyarakat, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya,” lanjutnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya menemukan muaranya.
Air yang dahulu hanya menjadi harapan kini mulai mengalir menuju permukiman warga.
Bagi masyarakat Rotat, suara air yang mengalir melalui jaringan pipa membawa makna yang jauh lebih besar daripada sekadar terpenuhinya kebutuhan sehari-hari.
Air itu menjadi saksi bagaimana sebuah kampung memilih bergerak ketika keadaan belum sepenuhnya berpihak.
Ia mengalir dari tanah yang dihibahkan dengan tulus, melewati pipa-pipa yang dipikul dengan tenaga masyarakat, hingga akhirnya tiba di tengah kehidupan warga.
Di balik setiap tetesnya ada tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak bicara.
Ada Suitbertus Amandus dan keluarganya yang membuka sumber kehidupan dari tanah miliknya.
Ada para bapak dan pemuda yang bekerja.
Ada pula emak-emak yang berjalan membawa pipa melewati medan terjal.
Dan ada sebuah harapan yang sejak lama diperjuangkan melalui aspirasi masyarakat, meski dukungan anggaran pemerintah belum dapat terealisasi.
Kini, ketika air mulai mengalir, masyarakat Rotat membuktikan satu hal sederhana tetapi bermakna:
Pokir mungkin belum tiba, tetapi kebaikan tidak harus menunggu.
Sebab terkadang perubahan besar tidak dimulai dari besarnya anggaran.
Ia bermula dari seseorang yang bersedia berbagi, lalu disambut oleh banyak tangan yang memilih bekerja bersama.
Dari Mata Air Koja, kebaikan itu akhirnya mengalir.
Bukan hanya membawa air, tetapi juga membawa harapan baru bagi Rotat.
✒️: Albert Cakramento
