Kota Kupang, NTT-Sore mulai turun di Kelurahan Fontein, Jumat (31/7/2026). Ketika sebagian orang mulai beristirahat setelah seharian bekerja, puluhan warga RT 08 dan RT 13 justru memilih berkumpul di pinggir jalan lingkungan. Di tangan mereka ada sapu lidi, parang, cangkul, karung sampah, dan alat kebersihan lainnya.
Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni mewah. Yang terdengar hanyalah suara sapu menyapu dedaunan, canda tawa warga, serta semangat gotong royong yang membuat suasana kampung terasa hidup.
Di tengah kesibukan itu, Plt. Lurah Fontein, Iwan Taklal, tampak menyapa warga satu per satu. Ia tidak sekadar datang untuk menyaksikan kegiatan, tetapi ikut memberikan semangat agar budaya menjaga kebersihan menjadi kebiasaan masyarakat.
Baginya, kegiatan tersebut bukan hanya memenuhi instruksi Pemerintah Kota Kupang menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga menjadi langkah awal membangun kesadaran bahwa lingkungan yang bersih adalah fondasi kehidupan yang sehat.
"Melalui surat edaran dari Bapak Wali Kota, seluruh kelurahan diminta menggerakkan masyarakat melakukan kerja bakti, memasang bendera Merah Putih, dan mempercantik lingkungan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI. Di Fontein, kami ingin gerakan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi budaya masyarakat," ujar Iwan.
Hari itu, RT 08 dan RT 13 menjadi titik awal gerakan kebersihan lingkungan di Kelurahan Fontein.
Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAKEN, hingga anak-anak muda turun langsung membersihkan jalan lingkungan, selokan, dan pekarangan rumah warga.
Menurut Iwan, kehadiran enam mahasiswa KKN menjadi tambahan energi bagi masyarakat untuk terus membangun budaya hidup bersih.
Namun, ia menyadari bahwa menyapu halaman hanyalah langkah pertama.
Perubahan yang sesungguhnya adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Karena itu, Kelurahan Fontein telah menyiapkan program lanjutan berupa peluncuran Bank Sampah bekerja sama dengan Bank Sampah Mekar Timur yang direncanakan berlangsung pada 15–17 September mendatang, bertepatan dengan penyelenggaraan event budaya.
Pada momentum itu, masyarakat akan diajak membawa sampah yang masih memiliki nilai jual ke lokasi kegiatan untuk ditimbang dan dijual.
"Sampah jangan lagi dipandang sebagai barang yang harus dibuang. Kalau dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat sekaligus membuat lingkungan tetap bersih," jelasnya.
Program tersebut diharapkan menjadi awal lahirnya kebiasaan baru di tengah masyarakat Fontein.
Bukan lagi membuang sampah sembarangan, tetapi memilah, mengumpulkan, lalu menjadikannya bernilai.
Semangat itu juga dirasakan Ketua RW 03, Sarlin Raja Tuka.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme warga yang secara sukarela datang mengikuti kerja bakti.
Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kebersihan mulai tumbuh.
"Saya sangat mengapresiasi warga yang begitu peduli membersihkan lingkungan. Harapan kami ke depan masyarakat semakin sadar bahwa hidup bersih berarti hidup sehat. Lingkungan yang bersih akan membuat kita semua merasa nyaman," ujarnya.
Ke depan, kata Sarlin, edukasi mengenai pemilahan sampah akan terus dilakukan.
Masyarakat akan didorong memisahkan sampah organik dan nonorganik sehingga sampah yang masih bisa dimanfaatkan tidak lagi berakhir di tempat pembuangan.
Senada dengan itu, Ketua RT 08, Gebi Kota, menilai kerja bakti tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat.
Ia berharap kebersamaan seperti itu tidak hanya muncul menjelang Hari Kemerdekaan, tetapi terus menjadi kebiasaan sehari-hari.
Sebab baginya, lingkungan yang bersih bukan hanya membuat kampung terlihat indah, tetapi juga mencerminkan kepedulian warganya terhadap sesama.
Di Kelurahan Fontein, mimpi itu memang masih sederhana.
Tidak ada target muluk menjadi kelurahan terbaik dalam waktu singkat.
Yang ingin mereka wujudkan hanyalah lingkungan yang nyaman ditinggali, saluran air yang tidak tersumbat sampah, halaman rumah yang bersih, serta masyarakat yang memahami bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama.
Sore itu, sapu-sapu terus bergerak.
Karung-karung sampah perlahan terisi.
Lorong-lorong yang semula dipenuhi dedaunan mulai terlihat bersih.
Di balik aktivitas sederhana itu, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah harapan.
Harapan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari proyek bernilai miliaran rupiah.
Kadang, perubahan lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
Dari sapu yang diayunkan dengan ikhlas.
Dari tangan-tangan yang saling membantu.
Di sudut lain, Ketua RT 13, Ata Ludji, memandangi warganya yang masih sibuk mengumpulkan daun-daun kering dan membersihkan sisi jalan. Baginya, sore itu bukan sekadar kerja bakti, melainkan cermin bahwa semangat kebersamaan di lingkungan mereka belum pernah benar-benar padam. Ia percaya, ketika warga mau meluangkan waktu dan tenaga untuk kampungnya sendiri, perubahan perlahan akan menemukan jalannya.
Ata berharap kebiasaan itu tidak berhenti setelah peringatan Hari Kemerdekaan usai. Ia membayangkan gotong royong menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ketika warga saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan, merawat lingkungan, dan tidak lagi memandang sampah sebagai persoalan orang lain. Sebab, menurutnya, kampung yang bersih selalu berawal dari kesadaran setiap rumah untuk ikut menjaga lingkungan di sekitarnya.
Sore itu, di mata Ata, yang terlihat bukan hanya jalan yang semakin bersih, melainkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap kampung sendiri. Dan ketika rasa itu terus dipelihara, ia yakin Fontein akan melangkah menuju lingkungan yang lebih sehat, lebih nyaman, dan semakin kuat oleh semangat gotong royong warganya.
Dan dari keyakinan bahwa kampung yang bersih bukan hanya membuat lingkungan menjadi indah, tetapi juga membuka jalan menuju masyarakat yang lebih sehat, lebih peduli, dan lebih sejahtera.
✒️: kl
