Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Menunggu Gubernur dan Wakil Buka Suara, Harapan SMKN 8 Kupang Miliki Pesawat Latih Masih Menggantung

Jumat, 17 Juli 2026 | Juli 17, 2026 WIB Last Updated 2026-07-17T01:40:50Z

 



KUPANG, NTT – Menjelang berakhirnya masa pengabdiannya sebagai Kepala SMK Negeri 8 Kupang, Drs. Yehezkiel Th. Ledoh menyampaikan harapan besar kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur agar terus memberi perhatian terhadap pengembangan sekolah yang telah dipimpinnya selama lebih dari satu dekade. Selain berharap adanya penambahan sarana dan prasarana pendidikan, ia juga berharap Gubernur dan Wakil Gubernur NTT segera memberikan dukungan agar proses hibah pesawat latih dari TNI Angkatan Udara dapat terealisasi untuk menunjang pembelajaran Jurusan Teknik Pesawat Udara.


Yehezkiel mengatakan dirinya akan mengakhiri masa tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada akhir Juli 2026 dan mulai memasuki masa pensiun pada 1 Agustus 2026. Selama kurang lebih 12 tahun 8 bulan memimpin SMKN 8 Kupang, banyak perkembangan yang telah dicapai, namun masih banyak pula kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi.


"Sebagai seorang PNS yang ditugaskan mengabdi pada satuan pendidikan, saya merasa bertanggung jawab atas kepercayaan yang Tuhan berikan melalui Pemerintah Provinsi NTT untuk melaksanakan tugas sebagai guru sekaligus kepala sekolah. Harapan saya di hari-hari terakhir menjelang pensiun, pemerintah Provinsi NTT terus memberi perhatian kepada SMKN 8 Kupang," ujarnya saat diwawancarai, Jumat (17/7/2026).


Menurutnya, sekolah masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, hingga sarana pendukung kegiatan belajar mengajar.


"Terutama yang berhubungan dengan uji kompetensi ataupun asesmen bagi siswa. Peralatan seperti komputer ataupun laptop masih sangat terbatas," katanya.


Ia menjelaskan, jumlah peserta Tes Kemampuan Akademik (TKA) atau asesmen kelas XII saat ini mencapai sekitar 85 siswa. Namun, perangkat komputer yang tersedia jauh dari kebutuhan.


"Kalau peserta asesmennya sekitar 85 orang, idealnya kami membutuhkan komputer sesuai jumlah peserta. Jujur saja, peralatan yang ada di sekolah ini masih bisa dihitung dengan jari. Dipaksakan pun mungkin hanya sekitar belasan sampai 20 unit, itu pun sebagian sudah dimakan usia," ungkapnya.


Yehezkiel menceritakan, dirinya mulai menjabat sebagai Kepala SMKN 8 Kupang sejak 21 November 2013. Saat itu sekolah baru berdiri sekitar satu tahun setelah diresmikan pada 26 Maret 2012.


Ia merupakan kepala sekolah kedua yang menggantikan kepala sekolah sebelumnya, Netson Kartantiran.


Pada masa awal berdiri, SMKN 8 Kupang belum memiliki gedung sendiri sehingga seluruh aktivitas belajar mengajar masih menumpang di SMP Negeri 11 Kupang.


"Kami baru mulai membangun di lokasi yang sekarang ini pada tahun 2015 ketika masih menjadi kewenangan Pemerintah Kota Kupang. Tahun 2016 kami mulai menggunakan tiga ruang kelas dan satu ruang perkantoran yang dibangun waktu itu. Setelah tahun 2017 pengelolaan SMA dan SMK dialihkan ke pemerintah provinsi," jelasnya.


Selama masa kepemimpinannya, pembangunan sekolah terus dilakukan secara bertahap.


Menurutnya, seluruh bangunan yang ada saat ini merupakan hasil pembangunan sejak tahun 2015 hingga 2023.


"Kalau dihitung, ada tiga ruang kelas pertama, satu ruang perkantoran, satu ruang praktik TJKT, empat ruang kelas baru, satu laboratorium komputer, satu laboratorium lainnya, satu perpustakaan, dua ruang praktik siswa, kemudian ruang praktik Teknik Pesawat Udara yang dibangun tahun 2023. Semua itu dibangun selama saya memimpin sekolah ini," tuturnya.


Meski demikian, ia mengakui kebutuhan ruang belajar masih belum terpenuhi.


Saat ini SMKN 8 Kupang memiliki 13 rombongan belajar, sementara ruang kelas yang tersedia baru tujuh ruangan.


Artinya, sekolah masih membutuhkan sedikitnya tiga ruang kelas tambahan agar proses pembelajaran dapat berlangsung lebih optimal.


Selain itu, sekolah juga masih membutuhkan ruang praktik untuk Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura serta sebuah hanggar untuk Jurusan Teknik Pesawat Udara.


Menurut Yehezkiel, proposal pembangunan fasilitas tersebut telah disampaikan melalui Anggota Komisi X DPR RI Anita Jacoba Gah saat mendampingi kunjungan Menteri Pendidikan ke Nusa Tenggara Timur.


"Beberapa waktu lalu kami menitipkan proposal melalui Ibu Anita Jacoba Gah. Harapan kami ada tambahan tiga ruang kelas, satu ruang praktik jurusan pertanian, dan satu hanggar untuk jurusan teknik pesawat udara," ujarnya.


Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi, Yehezkiel mengaku bersyukur karena SMKN 8 Kupang terus berkembang dari tahun ke tahun. Jumlah peserta didik terus meningkat seiring semakin dikenalnya sekolah tersebut oleh masyarakat.


"Kalau hari ini ditambah dengan siswa baru yang sudah mendaftar sebanyak 75 orang ditambah satu siswa pindahan jurusan penerbangan, jumlah siswa kami sekitar 229 orang. Dari tahun ke tahun memang ada pertambahan, walaupun saya tidak bisa menghitung persentasenya secara pasti," katanya.


Ia menuturkan, peningkatan jumlah peserta didik mulai terlihat sejak sekolah memiliki gedung sendiri pada 2016.


"Ketika masih bergabung di SMP Negeri 11 Kupang memang masyarakat belum banyak mengenal SMKN 8. Tetapi setelah kami pindah ke lokasi ini, dari tahun ke tahun jumlah siswa terus bertambah. Apalagi dengan dukungan teman-teman media yang sering mempublikasikan kegiatan sekolah, sekarang masyarakat sudah tahu bahwa di Kelurahan Naimata ada SMKN 8 Kupang," ujarnya.


Saat ini SMKN 8 Kupang memiliki tiga kompetensi keahlian, yaitu Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT), Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), serta Teknik Pesawat Udara (TPU).


Menurut Yehezkiel, dari ketiga jurusan tersebut, minat masyarakat masih didominasi Jurusan TJKT.


"Dari tiga jurusan yang ada, siswa lebih banyak memilih TJKT. Mungkin karena mereka lebih senang berkutat dengan komputer, elektronik, dan jaringan," katanya.


Padahal, Jurusan Teknik Pesawat Udara merupakan satu-satunya jurusan sejenis yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Namun, menurutnya, minat masyarakat terhadap jurusan tersebut justru belum terlalu tinggi.


Yehezkiel menjelaskan, ketika Jurusan Teknik Pesawat Udara dibuka pada 2021, jumlah siswa angkatan pertama mencapai 21 orang.


Namun dalam perjalanan, sekolah menghadapi kendala besar saat mencari tempat praktik industri bagi siswa.


Awalnya pihak sekolah berharap siswa dapat melaksanakan praktik di Kupang melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Udara maupun Angkasa Pura.

.

"Setelah kami berkomunikasi dengan TNI Angkatan Udara, ternyata mereka tidak memiliki pesawat yang stand by di Lanud El Tari. Yang kedua, instruktur mereka tugas utamanya adalah anggota TNI sehingga tidak bisa setiap waktu menjadi tenaga pengajar di sekolah," jelasnya.


Menurut Yehezkiel, aktivitas pesawat komersial di Bandara El Tari tidak memungkinkan digunakan sebagai tempat praktik siswa.


"Pesawat komersial hanya menurunkan penumpang dan bagasi, kemudian mengangkut penumpang lagi dan berangkat. Kalaupun ada yang menginap sangat terbatas sehingga mereka belum siap menerima siswa praktik dari jurusan penerbangan," katanya.


Karena itu, pada 2022 pihak sekolah melakukan studi banding ke SMKN 29 Jakarta Selatan.


Dari kunjungan tersebut, SMKN 8 Kupang akhirnya memperoleh akses kerja sama dengan dunia industri penerbangan.


Melalui SMKN 29 Jakarta Selatan, siswa SMKN 8 Kupang mulai melaksanakan praktik industri di TNI Angkatan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada 2023 dan 2024.


Kemudian pada 2025 praktik industri dilaksanakan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta.


Namun, pelaksanaan praktik di luar daerah membawa konsekuensi biaya yang cukup besar.


Menurut Yehezkiel, biaya tiket pesawat pulang-pergi, kebutuhan hidup selama praktik sekitar tiga bulan, hingga berbagai kebutuhan lainnya menjadi beban berat bagi orang tua siswa.


"Awalnya kami berpikir anak-anak bisa magang di Kupang. Ternyata harus ke luar daerah. Tiket pesawat pulang-pergi saja sekitar lima juta rupiah, belum biaya hidup selama tiga bulan. Itu yang membuat orang tua berpikir ulang," ujarnya.


Untuk meringankan beban tersebut, pihak sekolah menerapkan sistem tabungan sejak siswa masih duduk di kelas X.


"Kami buat strategi mencicil sekitar Rp750 ribu setiap bulan sejak kelas satu supaya nanti saat praktik orang tua tidak terlalu berat," jelasnya.


Ia menyebutkan, angkatan pertama yang berjumlah 21 siswa hanya 16 orang yang akhirnya berangkat praktik.


Akibat jumlah peserta berkurang, biaya yang harus ditanggung masing-masing siswa justru meningkat.


"Awalnya sekitar Rp15 juta per siswa. Karena yang berangkat tinggal 16 orang, akhirnya naik menjadi sekitar Rp18,4 juta per orang," katanya.


Hal serupa terjadi pada angkatan berikutnya.


Dari 11 siswa yang terdaftar, hanya tujuh orang yang melaksanakan praktik sehingga biaya kembali meningkat.


Sementara pada praktik di Lanud Adisutjipto Yogyakarta tahun 2025, biaya berhasil ditekan menjadi sekitar Rp12 juta hingga Rp13 juta per siswa.


Menurut Yehezkiel, tingginya biaya praktik inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat masih ragu memilih Jurusan Teknik Pesawat Udara.


Di balik besarnya biaya praktik industri tersebut, SMKN 8 Kupang justru memperoleh kabar yang menurut Yehezkiel menjadi secercah harapan bagi masa depan Jurusan Teknik Pesawat Udara.


Saat mendampingi siswa melaksanakan praktik industri di Lanud Adisutjipto Yogyakarta pada 2025, pihak sekolah mendapat peluang untuk memperoleh hibah satu unit pesawat latih dari TNI Angkatan Udara.


Menurut Yehezkiel, kesempatan itu muncul setelah pihak Lanud melihat keseriusan SMKN 8 Kupang mengembangkan pendidikan vokasi penerbangan di Nusa Tenggara Timur.


"Pada saat kami magang di Adisutjipto Yogyakarta tahun 2025, oleh kasih Tuhan kami diberi kesempatan untuk berproses mendapatkan bantuan satu pesawat latih," katanya.


Ia menjelaskan, hingga kini proses tersebut terus berjalan.


Pihak sekolah telah menyampaikan surat resmi kepada Dinas Pendidikan Provinsi NTT, Pemerintah Provinsi NTT, hingga TNI Angkatan Udara.


Bahkan dirinya mengaku telah bertemu langsung dengan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT untuk membicarakan rencana tersebut.


"Yang sementara saya sudah proses di Dinas Pendidikan, sudah proses di TNI Angkatan Udara, sudah berproses dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan bersurat secara resmi, bicara empat mata dengan Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur," ujarnya.


Namun hingga kini, proses hibah tersebut belum dapat dilanjutkan karena masih menunggu sikap resmi Pemerintah Provinsi NTT.


"Tinggal semua kembali pada NTT 1. Karena di TNI Angkatan Udara mereka berharap NTT 1 atau NTT 2 buka suara dulu dengan mereka. Baru mereka berproses ke Mabes TNI Angkatan Udara di Jakarta. Adisutjipto sifatnya menunggu rekomendasi. Mereka yang membuka peluang memberi pesawat, tetapi rekomendasinya dari Mabes," ungkap Yehezkiel.


Ia menjelaskan, hibah pesawat latih tidak dapat dilakukan secara langsung karena menyangkut perpindahan aset negara antarkementerian.


"Karena ini mutasi barang negara atau inventaris negara antara Departemen Pertahanan dan Keamanan dengan Departemen Pendidikan. Jadi proses administrasinya memang harus sesuai aturan," jelasnya.


Meski demikian, pihak TNI Angkatan Udara telah menyampaikan komitmen untuk membantu apabila seluruh proses administrasi selesai.


"Kalau cepat satu tahun, kalau lama dua tahun. Tetapi mereka bilang kalau semua sudah selesai, pesawat itu bisa diangkut menggunakan Hercules yang setiap bulan datang ke Kupang. Dibawa ke sini tanpa biaya, kemudian dirakit kembali di Kupang," katanya.


Menurut Yehezkiel, apabila hibah tersebut benar-benar terwujud, maka akan menjadi tonggak penting bagi perkembangan pendidikan vokasi penerbangan di Nusa Tenggara Timur.


Sebab selama ini siswa hanya mengenal komponen pesawat melalui gambar, video, maupun praktik di luar daerah.


Apabila pesawat latih berada di lingkungan sekolah, siswa dapat melakukan praktik secara langsung tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas di luar NTT.


Karena itu, pihak sekolah telah mengantisipasi kebutuhan tersebut dengan mengusulkan pembangunan hanggar pesawat.


"Hanggar itu yang sementara kami usulkan melalui proposal yang kami titipkan lewat Ibu Anita Jacoba Gah. Harapan kami, ketika pesawat itu datang nanti, tempatnya sudah tersedia," ujarnya.


Selain hanggar, proposal tersebut juga memuat usulan pembangunan tiga ruang kelas baru serta satu ruang praktik Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.


Menurut Yehezkiel, seluruh usulan tersebut telah disampaikan saat kunjungan Menteri Pendidikan ke Nusa Tenggara Timur.


Ia berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi NTT dapat memberikan perhatian sehingga fasilitas pendidikan di SMKN 8 Kupang semakin lengkap.


"Harapan saya, proposal kami melalui Ibu Anita Jacoba Gah bisa membantu menjawab sedikit demi sedikit kebutuhan fasilitas sekolah ini," katanya.


Di penghujung masa jabatannya, Yehezkiel mengaku hanya ingin meninggalkan fondasi yang kuat bagi penerusnya.


Ia berharap siapa pun yang nantinya ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas maupun Kepala SMKN 8 Kupang definitif dapat melanjutkan seluruh program yang telah dirintis selama ini.


Menjelang mengakhiri masa tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara, Yehezkiel mengaku banyak kenangan yang tidak akan pernah dilupakan selama memimpin SMKN 8 Kupang.


Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang saat itu masih baru berdiri.


"Kesan yang pertama, saat saya ditugaskan semuanya masih serba nol. Tadi saya bilang, lahan dan gedung saja kami masih pakai SMP Negeri 11 Kupang, apalagi peralatan. Bagaimana mungkin peralatan SMP digunakan untuk kebutuhan pembelajaran SMK. Pasti sangat berbeda," kenangnya.


Ia mengatakan, pada saat pertama kali datang sebagai kepala sekolah pada 2013, kondisi sekolah sangat memprihatinkan.


Guru ASN yang bertugas hanya tiga orang, sedangkan selebihnya merupakan guru honorer yang menggantungkan penghasilan dari dana komite sekolah.


Namun karena jumlah siswa masih sedikit, pemasukan komite juga sangat terbatas.


Akibatnya, para guru honorer harus menunggu berbulan-bulan untuk menerima honor.


"Sejujurnya, waktu saya datang di sini ada teman-teman guru yang sudah tiga sampai empat bulan belum menerima gaji. Karena guru negeri hanya tiga orang, selebihnya guru honorer," tuturnya.


Situasi itu membuat dirinya harus mengambil keputusan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Demi menjaga semangat para guru agar tetap mengajar, ia rela meminjam uang milik istrinya untuk membayar honor guru.


"Terkadang saya minta pinjam uang dapur istri saya untuk bayar gaji guru honorer. Nanti kalau dana komite sudah masuk, baru saya kembalikan sedikit demi sedikit," ungkapnya.


Menurut Yehezkiel, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa membangun sebuah sekolah bukan hanya soal gedung dan fasilitas, tetapi juga membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan komunikasi dengan semua pihak.


"Memulai sesuatu dari nol itu sangat sulit. Harus banyak berkorban dan harus banyak berkomunikasi," katanya.


Sejak sekolah memiliki gedung sendiri pada 2016, jumlah peserta didik terus meningkat setiap tahun.


Menurutnya, kehadiran media juga turut membantu memperkenalkan SMKN 8 Kupang kepada masyarakat.


"Lewat publikasi teman-teman media dari waktu ke waktu, orang sudah mulai tahu bahwa di Kelurahan Naimata ada SMKN 8 Kupang. Sekarang tanpa kami menginformasikan penerimaan siswa baru secara besar-besaran, masyarakat sudah datang sendiri karena mereka sudah tahu sekolah ini," ujarnya.


Saat ini jumlah siswa telah mencapai sekitar 229 orang, meningkat hampir lima kali lipat dibanding saat dirinya pertama kali memimpin sekolah.


Meski demikian, Yehezkiel menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilanjutkan oleh penerusnya.


Ia berharap kepala sekolah yang baru nantinya mampu mempertahankan semangat membangun sekolah, memperjuangkan tambahan ruang kelas, melengkapi fasilitas pembelajaran, menghadirkan hanggar, hingga mewujudkan hibah pesawat latih yang selama ini sedang diperjuangkan.


"Soal siapa yang nanti menggantikan saya menjadi kepala sekolah, itu sepenuhnya kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi NTT. Harapan saya, siapa pun yang ditunjuk nanti, dapat melanjutkan apa yang sudah kami rintis selama ini," katanya.


Di penghujung pengabdiannya, Yehezkiel juga menitipkan harapan kepada Pemerintah Provinsi NTT agar tidak berhenti memberi perhatian kepada SMKN 8 Kupang.


Menurutnya, sekolah vokasi memerlukan dukungan nyata agar mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.


"Harapan saya sederhana. Pemerintah terus memperhatikan sekolah ini, terutama kebutuhan sarana pembelajaran, komputer, laptop, ruang kelas, laboratorium, dan fasilitas praktik. Kalau semua itu bisa dipenuhi, saya yakin SMKN 8 Kupang akan berkembang jauh lebih baik," tuturnya.


Secara khusus, ia berharap proses hibah pesawat latih dari TNI Angkatan Udara tidak berhenti di tengah jalan.


Baginya, kehadiran pesawat tersebut bukan sekadar menambah aset sekolah, tetapi menjadi simbol kemajuan pendidikan vokasi penerbangan di Nusa Tenggara Timur.


"Semua proses di TNI Angkatan Udara sudah berjalan. Sekarang kami hanya menunggu Gubernur dan Wakil Gubernur NTT membuka komunikasi resmi dengan TNI AU agar proses rekomendasi ke Mabes bisa dilanjutkan. Mudah-mudahan perjuangan ini bisa terwujud, meskipun saya sudah memasuki masa pensiun," pungkasnya.

✒️: kl