Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Revitalisasi Pendidikan Ubah SDI Naimata, 539 Siswa Kini Bisa Belajar Satu Shift

Senin, 20 Juli 2026 | Juli 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T14:06:44Z

 



KUPANG, NTT– Program Revitalisasi Satuan Pendidikan membawa perubahan besar terhadap proses belajar mengajar di SD Inpres (SDI) Naimata, Kota Kupang. Sekolah yang sebelumnya harus mengatur pembelajaran secara bergantian hingga siang dan sore akibat keterbatasan ruang kelas, kini mampu melayani 539 siswa dalam satu shift pembelajaran.


Hal tersebut disampaikan Kepala SDI Naimata, Martinus Klau, saat menghadiri Media Briefing Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan yang digelar di ASTON Kupang Hotel & Convention Center, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/7/2026).


Martinus mengungkapkan, sebelum memperoleh bantuan revitalisasi, keterbatasan ruang kelas menjadi persoalan serius yang dihadapi sekolah. Banyaknya siswa dibandingkan dengan ketersediaan ruang membuat pihak sekolah harus membagi waktu belajar secara bergantian.


Kondisi tersebut bahkan berdampak pada durasi setiap jam pelajaran. Waktu pembelajaran yang seharusnya berlangsung sekitar 30 menit terpaksa dipersingkat karena ruang kelas harus digunakan secara bergantian oleh kelompok siswa lainnya.


Menurut Martinus, siswa kelas I harus masuk lebih dahulu dan kemudian pulang untuk memberikan kesempatan kepada siswa kelas II menggunakan ruang yang sama. Pengaturan serupa juga diberlakukan terhadap kelas lainnya.


Sementara itu, siswa kelas III dan IV bahkan harus mengikuti pembelajaran mulai sekitar pukul 13.30 WITA.


Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena apabila seluruh jam pelajaran diberikan secara normal, kegiatan belajar berpotensi berlangsung hingga sekitar pukul 18.30 WITA.


Hal itu dinilai tidak memungkinkan, terutama karena sebagian besar peserta didik masih berusia sekolah dasar.


Selain berdampak terhadap siswa, sistem pembelajaran bergantian tersebut juga membuat para guru dan pihak sekolah harus bekerja lebih panjang dalam mengatur kegiatan belajar.


Kepala sekolah pun tidak dapat meninggalkan sekolah lebih awal karena masih terdapat ratusan siswa yang mengikuti pembelajaran pada siang hingga sore hari.


Namun, kondisi tersebut berubah setelah SDI Naimata mendapatkan program revitalisasi pendidikan


“Sekarang kami satu shift saja. Dengan jumlah siswa sekarang 539, semuanya sudah satu shift, masuk jam 7 dan pulang jam 1,” ungkap Martinus.


Menurut dia, perubahan tersebut memberikan dampak besar terhadap efektivitas penyelenggaraan pendidikan di sekolah.


Dengan seluruh siswa mengikuti pembelajaran dalam satu shift, sekolah kini memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan berbagai program pendidikan secara maksimal.


Kegiatan intrakurikuler, kokurikuler hingga ekstrakurikuler yang telah dirancang untuk tahun ajaran baru dapat dilaksanakan dengan lebih teratur karena tidak lagi terkendala penggunaan ruang kelas secara bergantian hingga sore hari.


Martinus menyampaikan rasa syukur atas program revitalisasi tersebut karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh siswa, guru maupun seluruh lingkungan sekolah.


Meski kondisi sarana pembelajaran telah mengalami peningkatan, SDI Naimata masih menghadapi sejumlah kebutuhan yang diharapkan dapat memperoleh perhatian pemerintah.


Salah satunya adalah keterbatasan jaringan internet yang dinilai masih menjadi kendala dalam mendukung kegiatan pendidikan berbasis digital.


Martinus menceritakan, persoalan jaringan pernah dirasakan langsung ketika sekolahnya terpilih mengikuti sebuah kegiatan secara daring yang melibatkan kementerian.


Sekolah telah melakukan berbagai persiapan, namun ketika pelaksanaan berlangsung, koneksi internet mengalami gangguan sehingga komunikasi daring tidak dapat berjalan sebagaimana diharapkan.


Selain persoalan jaringan, sekolah juga masih membutuhkan pembangunan pagar.


Menurut Martinus, lahan SDI Naimata sebelumnya memiliki luas yang cukup besar. Namun, sebagian lahan kemudian digunakan untuk pembangunan satuan pendidikan lain di sekitar kawasan tersebut.


Ketiadaan pagar yang memadai menyebabkan lingkungan sekolah belum sepenuhnya terlindungi.


Hewan peliharaan milik warga, menurut dia, terkadang masuk ke lingkungan sekolah dan merusak atau memakan tanaman yang ditanam di halaman sekolah.


Selain itu, batas antara lingkungan SDI Naimata dengan sekolah lain di sekitarnya juga dinilai perlu diperjelas melalui pembangunan pagar.


Karena itu, pihak sekolah berharap kebutuhan lanjutan tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah daerah maupun pihak terkait.


Di tengah berbagai kebutuhan yang masih ada, Martinus menilai program revitalisasi telah memberikan perubahan yang sangat berarti bagi SDI Naimata.


Perubahan paling nyata bukan semata-mata terlihat dari pembangunan fisik, melainkan pada perubahan sistem pembelajaran dari beberapa pembagian waktu menjadi satu shift untuk seluruh 539 siswa.


Dengan kondisi tersebut, siswa kini dapat masuk sekolah pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WITA dan menyelesaikan kegiatan pembelajaran sekitar pukul 13.00 WITA.


Program revitalisasi pendidikan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana satuan pendidikan sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman dan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.


Media Briefing Kunjungan Jurnalistik Revitalisasi Pendidikan di ASTON Kupang juga menjadi bagian dari rangkaian kunjungan lapangan untuk melihat secara langsung implementasi dan dampak program revitalisasi pendidikan di Kota Kupang.


SDI Naimata menjadi salah satu lokasi yang dijadwalkan dikunjungi dalam rangkaian kunjungan jurnalistik tersebut, sehingga media dapat melihat langsung perubahan fasilitas sekolah serta dampaknya terhadap proses belajar mengajar.


Bagi SDI Naimata, manfaat program tersebut kini dapat diukur dari perubahan yang sangat konkret: 539 siswa yang sebelumnya harus berbagi waktu dan ruang belajar hingga siang dan sore, kini dapat mengikuti pendidikan dalam satu shift dengan waktu pembelajaran yang lebih ideal.

✒️: kl