Maumere, NTT — Di tengah penanganan pascagempa Flores yang masih berlangsung, persoalan distribusi bantuan mulai menjadi sorotan. Dari berbagai temuan dan laporan di lapangan, masih terdapat warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka yang mengaku belum mendapatkan bantuan secara merata.
Kondisi tersebut mendorong Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) membuka ruang pengaduan masyarakat sebagai wadah bagi warga untuk menyampaikan kondisi riil yang mereka alami selama masa tanggap darurat.
Ketua AWAS, Mari W.P. Siaa, mengatakan langkah tersebut diambil setelah pihaknya menerima berbagai informasi dari masyarakat terkait bantuan yang belum menjangkau seluruh warga terdampak.
“Kami tergerak membuka call center pengaduan sebab banyak warga yang mengadukan kepada kami terkait belum adanya bantuan yang diterima dari pemerintah,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).
AWAS menilai persoalan yang muncul bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya bantuan, tetapi juga bagaimana bantuan tersebut didistribusikan dan siapa saja yang sudah maupun belum mendapatkannya.
Dari pemantauan wartawan yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak, ditemukan adanya warga yang melakukan evakuasi secara mandiri, mendirikan tenda sendiri, dan bertahan dengan kemampuan terbatas, namun belum mendapatkan bantuan sebagaimana yang mereka harapkan.
Sementara itu, bantuan relatif lebih mudah terlihat di sejumlah titik pengungsian terpusat.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa warga yang berada di posko-posko mandiri di desa dan kelurahan justru berpotensi luput dari pendataan.
Padahal, mereka sama-sama menjadi korban bencana dan membutuhkan makanan, air bersih, obat-obatan, terpal, selimut serta kebutuhan dasar lainnya.
AWAS mengingatkan pemerintah agar penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada lokasi pengungsian yang mudah terlihat atau menjadi pusat konsentrasi massa.
Warga yang mengungsi di halaman rumah, kebun, lapangan desa, fasilitas umum maupun posko yang dibangun secara swadaya juga harus menjadi bagian dari sasaran pendataan dan distribusi bantuan.
“Fokus utama memang Pulau Palue yang merupakan wilayah paling parah terdampak Gempa Flores. Tetapi warga terdampak juga tersebar di sekitar 20 kecamatan lainnya yang harus menjadi perhatian dan prioritas,” demikian disampaikan dalam rilis AWAS.
Karena itu, AWAS mendorong pemerintah melakukan penyisiran dan verifikasi langsung terhadap posko-posko mandiri agar tidak terjadi kesenjangan dalam distribusi bantuan.
Negara Harus Hadir Sampai ke Tenda-Tenda Warga
Dalam situasi bencana, akurasi data menjadi sangat penting.
Jangan sampai warga yang sudah mengungsi tetapi tidak tercatat justru kehilangan kesempatan mendapatkan bantuan.
Warga yang berada di posko resmi mungkin lebih mudah teridentifikasi. Namun, mereka yang mengungsi secara mandiri membutuhkan mekanisme pendataan yang lebih aktif dari pemerintah.
Hal tersebut sejalan dengan penegasan Kepala BNPB dalam Posko Tanggap Darurat Bencana di Kantor BPBD Sikka agar negara hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
“Setiap orang harus mendapatkan bantuan dan jangan ada satu warga negara pun yang terkena dampak bencana Gempa Flores terlupakan. Negara harus hadir di saat rakyatnya membutuhkan bantuan, apalagi dalam kondisi bencana alam,” tegasnya.
Pembukaan call center AWAS merupakan bentuk keterlibatan insan pers dalam mengawal suara masyarakat terdampak.
Warga Kabupaten Sikka yang terdampak gempa, khususnya yang belum menerima bantuan, mengalami ketidakmerataan distribusi bantuan, atau berada di posko pengungsian mandiri, dapat menyampaikan informasi dan pengaduan melalui:
WhatsApp: 0812-3699-1088
Masyarakat diharapkan menyampaikan informasi secara jelas, meliputi nama, lokasi pengungsian atau desa/kelurahan, jenis kebutuhan yang belum terpenuhi, serta kondisi yang dialami di lapangan. Jika memungkinkan, warga juga dapat menyertakan foto atau video sebagai bahan informasi.
Pengaduan yang masuk akan menjadi bahan informasi bagi wartawan untuk melakukan verifikasi dan menyampaikan kondisi tersebut kepada publik serta pihak-pihak terkait.
AWAS menegaskan, media tidak hanya bertugas memberitakan peristiwa, tetapi juga dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pihak berwenang agar persoalan di lapangan diketahui dan ditindaklanjuti.
Di tengah bencana yang belum sepenuhnya berakhir, pesan AWAS sederhana namun penting:
Jangan hanya membantu mereka yang terlihat. Datangi mereka yang belum terdengar.
Sebab di balik tenda-tenda pengungsian yang berdiri sendiri, masih ada warga yang menunggu satu hal sederhana: kehadiran negara.
Jika bantuan belum sampai, jangan diam. Sampaikan kondisi Anda. Karena setiap warga terdampak berhak untuk diperhatikan.
✒️: Albert Cakramento
