Maumere, NTT — Di tengah gencarnya penanganan pascagempa Flores, masih ada warga di wilayah pedalaman yang bertahan dalam pengungsian mandiri dan menunggu bantuan.
Kondisi tersebut ditemukan tim BAGUNA PDI Perjuangan Kabupaten Sikka saat turun langsung menyisir enam desa di wilayah Kecamatan Nita, Kamis (20/8/2026).
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Sikka yang juga kader PDI Perjuangan, Donatus David, memimpin langsung penyisiran tersebut. Tim bergerak dari desa ke desa untuk melihat kondisi warga sekaligus mendengar keluhan masyarakat yang terdampak gempa.
Di sejumlah titik, warga masih bertahan di pengungsian mandiri karena khawatir kembali ke rumah yang mengalami keretakan akibat guncangan gempa. Mereka berada jauh dari pusat-pusat pengungsian sehingga kondisi mereka tidak selalu terlihat dalam penanganan bencana.
Bahkan, berdasarkan keterangan warga dan pemerintah desa yang ditemui di lapangan, wilayah yang disisir BAGUNA disebut belum mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah.
BAGUNA datang dengan segala keterbatasan. Sembako yang dibawa memang tidak banyak dan tentu belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga terdampak.
Namun, bagi BAGUNA, yang terpenting adalah hadir dan menunjukkan kepedulian.
Tim datang bukan dengan janji besar. Mereka membawa apa yang mampu dibawa dan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bantuan tersebut mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan besarnya kebutuhan warga.
Tetapi bagi masyarakat yang selama berhari-hari menunggu perhatian, kehadiran BAGUNA menjadi tanda bahwa mereka belum sepenuhnya dilupakan.
Bantuan mungkin terbatas, tetapi kepedulian tidak boleh terbatas.
Kehadiran BAGUNA mendapat apresiasi dari PJ Kepala Desa Kara, Laurensius P. Virmayanto Lait.
Ia menyampaikan terima kasih karena BAGUNA menjadi pihak yang datang langsung melihat kondisi masyarakat setelah gempa.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BAGUNA PDI Perjuangan. Selama gempa sampai hari ini, baru BAGUNA yang datang langsung ke sini,” ungkap Laurensius.
Ia mengatakan masyarakat di wilayahnya masih mengungsi karena takut terhadap ancaman longsor.
Kondisi tersebut diperparah dengan adanya sejumlah fasilitas umum yang mengalami kerusakan serius akibat gempa.
Karena itu, Laurensius meminta pemerintah memberikan perhatian yang sama kepada masyarakat di wilayah pedalaman.
“Kami minta diperhatikan oleh pemerintah, BNPB dan BPBD. Jangan sampai kami terpinggirkan. Kami di sini juga sedang mengungsi karena takut longsor,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat pedalaman juga merupakan korban gempa yang membutuhkan perlindungan dan bantuan. Mereka tidak boleh hanya karena berada jauh dari pusat kota kemudian luput dari perhatian.
Mantan Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Donatus David, berharap Pemerintah Kabupaten Sikka melalui BPBD bersama BNPB segera melakukan penyisiran lebih luas dan mendistribusikan bantuan ke wilayah-wilayah pedalaman.
Bantuan yang dibutuhkan masyarakat antara lain sembako, terpal, selimut serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
“Dampak yang dirasakan ini menyeluruh, tidak hanya di daerah pesisir. Masyarakat di pedalaman juga terdampak dan membutuhkan perhatian. Karena itu kami berharap pemerintah melalui BPBD dan BNPB segera mendistribusikan bantuan ke wilayah-wilayah pedalaman,” harap Donatus.
Ia menegaskan, kehadiran BAGUNA bukan untuk mengambil alih tugas pemerintah, melainkan bentuk kepedulian sekaligus upaya melihat langsung kondisi masyarakat yang berada jauh dari pusat penanganan bencana.
Sementara itu, kerusakan fasilitas umum yang disampaikan pemerintah desa juga menjadi perhatian.
Kondisi tersebut membutuhkan pendataan dan penanganan lebih lanjut agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
Pada akhirnya, penyisiran enam desa pedalaman Kecamatan Nita menjadi gambaran bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya terlihat di pusat kota dan wilayah pesisir.
Masih ada warga di pelosok yang tidur di luar rumah. Masih ada keluarga yang dihantui ketakutan longsor.
Masih ada fasilitas umum yang rusak. Dan masih ada masyarakat yang menunggu bantuan.
Hari ini BAGUNA datang dengan bantuan yang terbatas.
Tetapi mereka memilih untuk datang, melihat, mendengar dan berbagi.
Sebab bagi warga yang sedang berada dalam kesulitan, terkadang bukan hanya jumlah bantuan yang berarti, tetapi siapa yang bersedia hadir ketika mereka merasa sendirian.
Bantuan mungkin tidak banyak. Tetapi kepedulian harus tetap ada. Jangan sampai korban gempa di pedalaman menjadi korban yang terlupakan.
