Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Bank Sampah Kota Kupang Raup Omzet Hampir Rp200 Juta per Bulan, Serap 20-an Tenaga Kerja

Kamis, 13 Agustus 2026 | Agustus 13, 2026 WIB Last Updated 2026-08-13T08:34:33Z

 



Kupang, NTT, 13 Agustus 2026 — Pengelolaan sampah di Kota Kupang mulai menunjukkan potensi ekonomi yang cukup besar. Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kota Kupang, Meksy Pingak, SKM, MPH, mengungkapkan salah satu Bank Sampah Induk mampu mengumpulkan sekitar 50 ton sampah per bulan, dengan omzet telah mencapai lebih dari Rp100 juta hingga mendekati Rp200 juta per bulan.


Menurut Meksy, aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan perputaran ekonomi, tetapi juga mampu mendukung penghasilan sekitar 20-an tenaga kerja yang terlibat dalam pengelolaan sampah.


“Omzetnya sudah di atas Rp100 juta per bulan, sudah mendekati Rp200 juta karena satu bulan itu sampai 50 ton,” ungkap Meksy.


Ia menjelaskan, sampah yang dikumpulkan berasal dari masyarakat yang membawa langsung material bernilai ekonomi ke Bank Sampah Induk. Selain itu, terdapat sekitar 30-an bank sampah unit di Kota Kupang yang turut memasok hasil pengumpulan sampah.


Sampah tersebut kemudian dipilah berdasarkan jenisnya, seperti plastik, kertas, besi, kaca dan material lainnya yang masih memiliki nilai jual.


Meksy mengatakan aktivitas bank sampah menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan sebenarnya dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat.


Masyarakat yang mengumpulkan sampah bernilai ekonomi dapat memperoleh pembayaran setelah material tersebut ditimbang dan dihitung berdasarkan jenis serta volumenya.


Dengan demikian, terdapat perputaran ekonomi mulai dari masyarakat pengumpul, bank sampah, tenaga kerja, hingga pihak yang membeli material hasil pemilahan.


Menurut Meksy, potensi tersebut masih dapat dikembangkan apabila masyarakat semakin aktif memilah sampah sejak dari rumah.


Dari sisi volume, Bank Sampah Induk tersebut mampu mengumpulkan sekitar 50 ton sampah setiap bulan.


Jika dibagi rata selama 30 hari, jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,67 ton per hari.


Jumlah tersebut belum termasuk sampah yang ditangani oleh pengepul lain, seperti pengepul plastik, kertas, besi maupun kaca.


Artinya, aktivitas ekonomi dari sektor persampahan di Kota Kupang sebenarnya memiliki rantai usaha yang cukup luas.


Selain menghasilkan omzet, kegiatan tersebut juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja.


Meksy menyebut sekitar 20-an orang mendapatkan penghasilan dari aktivitas pengelolaan sampah tersebut.


Hal ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara profesional dan berkelanjutan.


Potensi tersebut sekaligus membuka peluang berkembangnya usaha berbasis ekonomi sirkular di Kota Kupang.


Sementara itu, Kepala DLHK Kota Kupang Max Maahury mengatakan pemerintah terus mendorong masyarakat untuk mengelola sampah melalui bank sampah.


Menurut Max, keberadaan bank sampah membantu pemerintah mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA).


Ia menjelaskan, DLHK telah melakukan sosialisasi di sejumlah kelurahan untuk mendorong masyarakat membentuk bank sampah.


Namun, Max menegaskan tidak semua bank sampah terbentuk atas inisiatif pemerintah. Sebagian justru lahir dari inisiatif masyarakat dan kemudian mendapatkan pendampingan dari DLHK.


Max mengatakan, apabila Bank Sampah Induk mampu mengelola 50 ton sampah setiap bulan, maka sebanyak itu pula sampah yang berhasil dialihkan dari TPA.


“Khusus Bank Sampah Induk saja, sampah yang berkurang dan tidak masuk ke TPA sudah 50 ton setiap bulan,” jelas Max.


Menurutnya, jumlah tersebut menjadi salah satu kontribusi penting dalam mengurangi beban persampahan Kota Kupang.


Namun, angka tersebut belum termasuk material yang dikelola oleh pengepul maupun bank sampah lainnya.


Meksy menilai potensi ekonomi dari pengelolaan sampah masih terbuka luas.


Semakin banyak masyarakat memilah sampah dari rumah, semakin besar pula material yang dapat masuk ke rantai ekonomi.


Plastik, kertas, besi, kaca dan berbagai jenis material lainnya dapat memiliki nilai jual apabila dikumpulkan dalam jumlah tertentu dan dikelola dengan baik.


Karena itu, pengelolaan sampah tidak semestinya hanya dipandang sebagai program kebersihan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi masyarakat.


Ke depan, penguatan bank sampah dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mengurangi persoalan lingkungan.


Dari sampah menjadi pendapatan, dari persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi. Itulah potensi yang kini mulai terlihat dari perkembangan bank sampah di Kota Kupang.

✒️: kl