Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Di Tengah Gempa, Asidewi dan IYA Pulihkan Semangat Anak-Anak Desa

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T00:17:48Z


Maumere, NTT, 19 Agustus 2026 Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, disusul gempa-gempa susulan yang masih terus terjadi, menghadirkan kecemasan dan ketakutan bagi masyarakat, terutama anak-anak.


Di tengah situasi tersebut, semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimaknai dengan cara berbeda oleh Asosiasi Desa Wisata Indonesia (Asidewi) Sikka bersama Indonesian Youth Action (IYA).


Pada 17 Agustus 2026, kedua organisasi tersebut berkolaborasi menggelar aksi trauma healing bagi anak-anak di Desa Tana Duen, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, khususnya di Dusun Habigete.


Kegiatan ini melibatkan para relawan muda IYA yang datang dari sejumlah daerah, di antaranya Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kendari, Bima, dan Yogyakarta.


Dusun Habigete dipilih sebagai lokasi kegiatan karena sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat. Hampir seluruh warga memilih tidur dan memasak di luar rumah dengan memanfaatkan tenda terpal seadanya karena masih dihantui ketakutan terhadap gempa susulan.


Kehadiran para relawan bukan sekadar membawa permainan, tetapi juga berupaya menghadirkan kembali senyum anak-anak yang beberapa hari terakhir hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat bencana.


Koordinator IYA, Yoga, relawan asal Banten, Jawa Barat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan kontribusi kaum muda terhadap masyarakat yang terdampak bencana di Kabupaten Sikka.


“Itu merupakan cara kami untuk berpartisipasi dan berkontribusi, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa di Kabupaten Sikka,” ujar Yoga.


Sementara itu, Ketua Asidewi Sikka, Yance Moa, menegaskan bahwa trauma healing sangat penting dilakukan, terutama bagi anak-anak yang mengalami langsung situasi bencana.


Menurut Yance, gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat meninggalkan luka psikologis yang tidak terlihat. Anak-anak maupun orang tua rentan mengalami trauma dan gangguan kecemasan setelah menghadapi bencana.


“Trauma healing penting dilakukan untuk menjaga mental anak-anak tetap stabil. Pendekatan kami adalah merangsang kembali sukacita mereka dari rasa takut dan kecemasan yang mendalam,” kata Yance.


Melalui kegiatan bermain kreatif, menggambar, mewarnai, bernyanyi hingga edukasi mengenai kebencanaan, anak-anak diajak untuk kembali merasakan suasana aman dan menyenangkan.


Tawa dan keceriaan anak-anak menjadi pesan sederhana bahwa di tengah bencana, pemulihan tidak hanya membutuhkan bantuan berupa makanan, tenda dan logistik, tetapi juga perhatian terhadap kondisi mental mereka.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Tana Duen, lembaga adat, panitia HUT ke-81 RI Desa Tana Duen, serta warga yang mengungsi secara mandiri, baik dari wilayah pesisir pantai Tana Duen maupun warga yang datang dari Kota Maumere.


Di tengah rumah-rumah yang rusak dan tenda-tenda darurat yang menjadi tempat berlindung, kegiatan trauma healing itu menghadirkan satu pesan penting: kemerdekaan juga berarti memberi ruang bagi anak-anak untuk kembali tersenyum, bermain dan merasa aman setelah diterpa bencana.

✒️: Albert Cakramento