Manggarai Timur, NTT, 19 Agustus 2026 — Gempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bukan hanya meninggalkan ketakutan, tetapi juga menghadirkan persoalan baru bagi warga di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur.
Di saat sebagian warga mulai mendapatkan bantuan, sejumlah masyarakat di wilayah Elar mengaku masih menunggu uluran tangan. Hingga Rabu (19/8/2026), warga di beberapa desa disebut belum menerima bantuan pemerintah.
Mereka tidak menunggu dengan tangan kosong. Warga membangun posko pengungsian secara mandiri, mencari tempat aman untuk berlindung dari gempa susulan yang masih terjadi.
Namun, semakin hari, kebutuhan semakin mendesak. Persediaan makanan dan minuman terbatas, sementara warga masih dihantui trauma untuk meninggalkan kampung.
Sejumlah wilayah yang disebut warga belum tersentuh bantuan antara lain Desa Rana Gapang, Rana Kulan, Compang Soba, Sisir, Haju Wangi, Kelurahan Tiwu Kondo, serta sejumlah desa lainnya di Kecamatan Elar.
Di Desa Rana Gapang, kondisi warga bahkan mulai mengkhawatirkan. Salah seorang warga, Lambertus Beli, mengatakan masyarakat kesulitan mendapatkan makanan dan minuman.
“Kasihan masyarakat di sini kelaparan karena susah untuk mendapatkan bahan makanan dan minuman,” ungkap Lambertus.
Menurut Lambertus, trauma akibat gempa membuat warga memilih bertahan di kampung. Gempa susulan yang masih terjadi membuat mereka takut keluar untuk membeli kebutuhan pokok.
“Warga di sini masih trauma untuk keluar dari kampung untuk pergi membeli bahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena gempa susulan masih berlanjut hingga saat ini,” katanya.
Bagi warga, kebutuhan saat ini sangat sederhana: makanan untuk dimakan, air untuk diminum, tempat untuk berlindung dan obat-obatan ketika sakit.
Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan pemerintah pusat segera mengirimkan bantuan sekaligus memastikan distribusinya benar-benar menjangkau desa-desa yang berada jauh dari pusat pemerintahan. Sebab, bencana tidak mengenal jarak.
Mereka yang tinggal jauh dari pusat kota juga merupakan korban yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.
Warga Elar tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin didengar, didatangi dan dibantu.
Di tengah suara gempa susulan dan ketakutan yang belum reda, satu pertanyaan terus menggantung di benak warga:
Ketika bantuan terus bergerak ke berbagai wilayah, kapan giliran warga Elar merasakan kehadiran negara?
✒️:***
