Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Opini : LEMBATA BUTUH INTEGRITAS, BUKAN SEKADAR KECERDASAN : Sebuah Refleksi Kritis atas Paradoks Pembangunan

Minggu, 02 Agustus 2026 | Agustus 02, 2026 WIB Last Updated 2026-08-02T06:57:21Z

 


Oleh: Mateus Mas Belalawe 

Pemerhati Kebijakan Publik 


Kabupaten Lembata mengalami anomali pembangunan. Di satu sisi, secara kuantitatif terjadi kemajuan makro, di sisi lain, kualitas kesejahteraan masih tertinggal. Tulisan ini berargumen bahwa akar persoalan Lembata bukan defisit intelektualitas, melainkan defisit integritas. Menggunakan pendekatan deskriptif-kritis dan data sekunder, tulisan ini menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa integritas justru melanggengkan ketimpangan dan inefisiensi pembangunan


1. Paradoks Lembata


Lembata tidak pernah kekurangan orang pintar. Putra-putri Lembata tersebar sebagai akademisi, birokrat, politisi, dan profesional di berbagai wilayah Indonesia. Secara intelektual, Lembata adalah Kabupaten yang surplus gagasan.


Namun data makro menunjukkan paradoks. Pada tahun 2024, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Lembata tercatat sebesar 68,95 dan diklaim di atas rata-rata NTT. Capaian lain seperti penurunan stunting menjadi 7,90% dan tingkat pengangguran terbuka 2,18% juga dilaporkan sebagai kemajuan.  


Tetapi di balik angka tersebut, Tingkat Kemiskinan Lembata masih berada di angka 24,22%, salah satu yang tertinggi di NTT. Pertumbuhan ekonomi hanya 3,34%. Ini menunjukkan pertumbuhan yang tidak inklusif. IPM naik, tetapi kemiskinan struktural tidak bergerak signifikan.  


Pertanyaannya: mengapa daerah dengan banyak orang pintar tetap miskin secara struktural ?


2.Dari Intellectual Capital ke Integrity Capital


Dalam literatur pembangunan, Amartya Sen membedakan antara human capital (kecakapan) dan human capability (kemampuan untuk bertindak etis dan berkeadilan). Robert Klitgaard dalam formula korupsinya yang terkenal menyatakan: C = M + D - A (Corruption = Monopoly + Discretion - Accountability).


Orang pintar menguasai M (Monopoli pengetahuan) dan D (Diskresi/kewenangan untuk menafsir aturan). Tanpa A (Akuntabilitas) yang lahir dari integritas, maka C (Korupsi) pasti terjadi.


Teori Modal Sosial dari Putnam juga relevan. Pembangunan tidak hanya butuh modal intelektual, tetapi modal sosial berupa kepercayaan (trust). Integritas adalah sumber utama kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, setiap program pembangunan akan memiliki biaya transaksi yang tinggi.


3.  Tiga Wajah Kepintaran Tanpa Integritas di Lembata


Fenomena kepintaran tanpa integritas di Lembata dapat diamati dalam tiga bentuk:


a. Kepintaran Teknis-Birokratis

Mampu membuat perencanaan dan laporan yang sangat rapi, sesuai regulasi, tetapi miskin realisasi. RAB dibuat sempurna, namun kualitas fisik di lapangan tidak sesuai. Ini adalah kepintaran untuk mengamankan diri secara administratif, bukan untuk melayani.


b. Kepintaran Retoris-Politis

Mampu merangkai visi-misi yang populis, berbicara tentang pemberdayaan, ekonomi kerakyatan, dan Lembata Emas Namun setelah terpilih, visi tersebut tidak diterjemahkan dalam keberpihakan anggaran. Janji tinggal janji.


c. Kepintaran Relasional-Klientelistik

Pintar membangun jaringan patronase. Proyek, jabatan, dan bantuan sosial tidak didistribusikan berdasarkan kebutuhan dan merit, melainkan berdasarkan kedekatan kekerabatan, suku, dan tim sukses. Ini yang paling merusak, karena mematikan meritokrasi.


Akibatnya, Lembata mengalami apa yang disebut Gunnar Myrdal sebagai Soft State - negara/daerah yang lembek, di mana aturan ada tetapi tidak pernah ditegakkan karena kompromi kepentingan.


4.Mengapa Integritas Lebih Utama ?


1. Integritas menciptakan kepastian. Investor, petani, nelayan, dan ASN hanya akan bekerja optimal jika ada kepastian aturan yang adil.

2. Integritas menghemat anggaran. Tanpa kebocoran, APBD Lembata yang terbatas sebenarnya cukup untuk membiayai kebutuhan dasar. 

3. Integritas melahirkan regenerasi. Jika sistem berintegritas, orang pintar yang jujur akan muncul. Jika sistem korup, orang jujur akan tersingkir dan yang bertahan hanya yang pintar bersiasat. 


Lembata tidak butuh 10 program baru yang cemerlang di atas kertas. Lembata butuh 1 program sederhana yang dijalankan dengan jujur, tuntas, dan dapat diaudit publik.


5.Rekomendasi

Oleh karena itu, agenda utama Lembata ke depan bukanlah menambah jumlah orang pintar, melainkan membangun ekosistem integritas:


1. Transparansi Radikal: Membuka seluruh data APBD, bantuan sosial, dan proyek hingga level desa secara real-time dan mudah diakses warga. 

2. Meritokrasi: Rekrutmen jabatan berbasis kompetensi dan rekam jejak integritas, bukan kedekatan politik. 

3. Sanksi Sosial: Membangun budaya malu untuk korupsi, kolusi, dan nepotisme, dimulai dari institusi, adat, gereja, dan kampus. 


Orang pintar bisa membuat Lembata terlihat hebat di dalam PowerPoint. Hanya orang berintegritas yang bisa membuat Lembata benar-benar hebat di kehidupan nyata warganya.


Kepintaran adalah tentang bagaimana cara mencapai tujuan. Integritas adalah tentang memastikan tujuan itu benar dan cara mencapainya pun benar.