Maumere, NTT, 22 Agustus 2026 — Menyiapkan makanan untuk ribuan pengungsi di Posko Terpusat Gelora Samador Maumere bukan sekadar menghitung jumlah orang yang tercatat dalam daftar. Setiap hari, jumlah warga di lokasi pengungsian dapat berubah. Ada yang datang, ada yang kembali ke rumah, dan ada pula yang hanya datang ketika waktu makan tiba.
Kondisi tersebut membuat Dinas Sosial Kabupaten Sikka harus bekerja dengan perhitungan yang dinamis. Data resmi mencatat sekitar 1.203 pengungsi, namun kebutuhan pelayanan diperkirakan mencapai sekitar 1.500 orang. Bahkan, untuk mengantisipasi perubahan jumlah warga, Dinsos menyiapkan hingga 1.700–1.800 porsi makanan setiap hari.
Situasi ini menggambarkan betapa rumitnya mengelola kebutuhan konsumsi dalam kondisi darurat. Ketika data berubah-ubah, dapur umum tetap harus memastikan makanan tersedia dalam jumlah yang cukup. Kekurangan porsi bisa membuat sebagian pengungsi tidak mendapatkan makanan, sementara kelebihan porsi juga menjadi persoalan tersendiri dalam pengelolaan bahan pangan.
Plt. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sikka, Kristian Amstrong, mengatakan perhitungan kebutuhan makanan dilakukan berdasarkan jumlah pengungsi dan standar kebutuhan bahan pangan.
“Kalau seandainya seribu, itu berarti kita butuh 400 kilo untuk beras,” jelas Kristian.
Artinya, kebutuhan dapur umum bukanlah angka kecil. Untuk melayani ribuan orang, diperlukan perencanaan bahan pangan yang matang, mulai dari beras, lauk-pauk, sayur, buah hingga kebutuhan makanan khusus bagi kelompok rentan.
Dinsos juga tidak memberlakukan satu jenis makanan untuk semua pengungsi. Kelompok rentan mendapatkan perhatian khusus.
Untuk bayi dan ibu hamil, disiapkan makanan khusus seperti bubur. Sementara bagi lansia, menu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan mereka.
Sedangkan menu umum terdiri dari nasi, lauk, daging atau ayam, sayur, kuah dan buah.
Saat sarapan, menu dapat berupa telur atau ikan teri yang disertai sayur maupun kuah. Untuk makan siang dan malam, pengungsi dapat memperoleh nasi dengan daging atau ayam, sayur, kuah serta buah.
Menu tersebut tentu tidak selalu sama setiap hari. Variasi makanan disesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan di pasar.
Namun, salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan ikan segar lokal. Pascagempa, aktivitas nelayan belum sepenuhnya berjalan normal sehingga pasokan ikan belum mencukupi kebutuhan dapur umum.
“Kami mau membeli ikan yang ada di sini, cuma tidak tersedia. Sehingga untuk sementara menunya itu pagi biasanya telur atau ikan teri,” ujar Kristian.
Menurutnya, pilihan menu juga mempertimbangkan keamanan dan ketersediaan bahan pangan. Dinsos ingin memastikan makanan yang diberikan kepada pengungsi tidak hanya tersedia, tetapi juga layak dan aman untuk dikonsumsi.
Kristian menyadari bahwa selera setiap pengungsi berbeda. Ada yang menyukai ikan, ada yang lebih menyukai daging, dan ada pula yang memiliki kebiasaan makan tertentu.
Namun, dalam kondisi darurat, penyediaan makanan harus mengutamakan kebutuhan gizi secara umum dan kemampuan dapur umum melayani ribuan orang.
“Kalau memang masing-masing menu itu harus makan sesuai dengan selera, kami minta maaf. Tetapi yang jelas bahwa kami menyediakan makanan ini untuk selera umum. Jadi makannya cukup,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan dapur umum bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga memastikan seluruh pengungsi mendapatkan porsi yang layak di tengah keterbatasan bahan pangan dan perubahan jumlah penerima.
Di balik kesibukan dapur umum Gelora Samador, terdapat persoalan lain yang juga perlu menjadi perhatian serius.
Banyak warga di kampung-kampung yang masuk kategori pengungsi mandiri masih belum tersentuh pelayanan secara optimal.
Mereka tidak berada di posko besar. Sebagian memilih bertahan di sekitar rumah karena masih memiliki tempat tinggal, meskipun bangunan mengalami kerusakan atau kondisi rumah belum sepenuhnya aman.
Sebagian lainnya berkumpul dalam kelompok kecil di lingkungan masing-masing.
Karena tidak tercatat sebagai bagian dari posko terpusat, kebutuhan mereka berpotensi luput dari perhatian.
Padahal, kebutuhan dasar mereka tidak berbeda jauh. Mereka tetap membutuhkan makanan, air bersih, terpal, selimut, tikar, obat-obatan serta berbagai kebutuhan dasar lainnya.
Kondisi pengungsi mandiri menjadi tantangan tersendiri dalam pendataan. Mereka tersebar di berbagai kampung dan tidak selalu mudah ditemukan oleh petugas.
Akibatnya, jumlah pengungsi yang tercatat di posko besar belum tentu menggambarkan keseluruhan warga yang terdampak dan masih membutuhkan bantuan.
Di satu sisi, pemerintah harus memastikan dapur umum seperti Gelora Samador mampu memenuhi kebutuhan ribuan orang. Namun, di sisi lain, perhatian juga perlu diperluas agar bantuan tidak hanya terkonsentrasi pada lokasi pengungsian utama.
Perubahan jumlah pengungsi di Gelora Samador menunjukkan bahwa pendataan dalam situasi bencana memang tidak mudah. Data bisa berubah hanya dalam hitungan jam, terutama ketika mendekati waktu makan.
Namun, persoalan yang lebih besar adalah memastikan warga yang tidak datang ke posko tetap terdata dan mendapatkan bantuan.
Pengungsi mandiri tidak boleh dianggap tidak membutuhkan bantuan hanya karena mereka tidak berada di posko terpusat.
Diperlukan pendataan secara berkala hingga ke tingkat dusun, RT dan kelompok warga agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi masyarakat terdampak.
Sebab, dalam situasi bencana, yang terlihat belum tentu seluruhnya membutuhkan, sementara yang tidak terlihat justru bisa jadi paling membutuhkan.
Dapur Gelora Samador boleh saja mengejar 1.800 porsi makanan setiap hari. Tetapi pekerjaan kemanusiaan tidak berhenti di sana.
Masih ada warga yang menunggu di kampung-kampung, bertahan dengan kemampuan sendiri, dan berharap perhatian pemerintah serta para pihak yang menyalurkan bantuan juga sampai kepada mereka.
Pengungsi datang dan pergi, data terus berubah, tetapi kebutuhan mereka tetap ada. Di tengah situasi seperti ini, tidak boleh ada satu pun warga terdampak yang hilang dari radar bantuan.
