Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Bantuan Diklaim Masuk 21 Kecamatan di Sikka, Pengungsi Mandiri Masih Bertanya: Kami Dapat Apa?

Kamis, 20 Agustus 2026 | Agustus 20, 2026 WIB Last Updated 2026-08-20T06:46:07Z


Maumere, NTT, 20 Agustus 2026Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan distribusi bantuan gempa Flores telah menjangkau 21 kecamatan. Namun, di tengah klaim tersebut, sejumlah pengungsi mandiri masih mengaku belum menerima bantuan secara memadai dan mempertanyakan distribusi logistik hingga ke tingkat desa dan kelompok pengungsian.


Enam hari setelah gempa tektonik mengguncang Flores, bantuan dari berbagai penjuru terus berdatangan ke Kabupaten Sikka. Pemerintah menyebut penyaluran bantuan dilakukan ke seluruh wilayah, baik daratan maupun kepulauan.


Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya keluhan dari warga yang memilih mengungsi secara mandiri. Mereka mendirikan tenda sendiri, tidur di teras rumah, berkumpul di kebun, bahkan memilih mengungsi ke hutan karena khawatir terhadap gempa susulan.


Pertanyaan pun muncul: jika bantuan sudah menjangkau 21 kecamatan, mengapa masih ada pengungsi mandiri yang mengaku belum tersentuh bantuan?


Persoalan tersebut menjadi sorotan setelah Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menerima berbagai aduan masyarakat melalui Call Center Pengaduan Gempa Flores.


Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan laporan yang diterima menunjukkan adanya keluhan mengenai kesenjangan antara kondisi di lapangan dengan informasi terkait distribusi bantuan.


“Banyak laporan dari warga yang melakukan evakuasi mandiri dan membangun posko pengungsi mandiri di desa-desa dan kelurahan yang terkena dampak,” kata Mario kepada media, Kamis (20/8/2026).


Menurutnya, perhatian dan distribusi bantuan masih dinilai lebih terkonsentrasi pada lokasi pengungsian terpusat. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat warga yang mengungsi secara mandiri luput dari pendataan maupun distribusi bantuan.


AWAS menerima laporan dari sejumlah wilayah yang mengaku belum mendapatkan bantuan secara memadai.


Di Kecamatan Nita, warga dari sejumlah desa seperti Tada Lado, Kara Kabu, Mahe Bora, Nirangkliung, Nangablo dan Riit mengaku belum mendapatkan bantuan sejak hari pertama hingga hari keenam pascagempa.


“Sejak gempa hari pertama sampai hari keenam belum ada bantuan, baik dari pemerintah BPBD maupun relawan lainnya,” demikian salah satu laporan yang diterima AWAS.


Keluhan serupa datang dari Karmel, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok.


“Bupati, banyak bantuan berton-ton itu kasih dengan kami pengungsi mandiri ini,” keluh seorang warga.


Sementara di Kelurahan Kabor, RT 02/RW 02, warga mengaku masih tidur di teras dan ruang tamu karena ketakutan terhadap gempa susulan.


“RT sudah melapor ke lurah, tetapi mereka bilang yang dapat bantuan kecuali yang tidur mengungsi di Gelora Samador,” ungkap warga.


Keluhan juga disampaikan warga Nangahale. Seorang warga mengaku pejabat sempat datang melihat kondisi mereka, tetapi kunjungan tersebut disebut belum diikuti bantuan yang diharapkan.


“Pejabat hanya datang lihat kami, tetapi setelah itu tidak bantu apa-apa,” ujarnya.


Keluhan tersebut tentu masih perlu diverifikasi lebih lanjut oleh pemerintah dan pihak terkait. Namun, laporan warga menunjukkan pentingnya memastikan pendataan dan distribusi bantuan benar-benar menjangkau titik-titik pengungsian mandiri.


Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan distribusi bantuan terus dilakukan ke seluruh wilayah.


Kepala Bidang Kominfo Kabupaten Sikka, Julianus Selsius, melalui Media Center Posko BPBD, menyampaikan bahwa hingga Rabu (19/8/2026), bantuan telah disalurkan ke 21 kecamatan, baik di wilayah daratan maupun kepulauan.


“Hingga Rabu 19 Agustus penyaluran bantuan terus dilakukan ke 21 kecamatan yang berada di daratan maupun kepulauan,” katanya.


Julianus juga menyebut bantuan datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah provinsi, partai politik, pihak swasta, perbankan, LSM dan dunia usaha.


Pernyataan tersebut menjadi penting untuk dilihat bersama dengan kondisi di lapangan. Sebab, distribusi bantuan ke sebuah kecamatan tidak otomatis berarti seluruh desa, dusun, RT maupun kelompok pengungsi mandiri di dalamnya telah menerima bantuan.


Dengan kata lain, bantuan yang sudah sampai di tingkat kecamatan belum tentu seluruhnya sudah sampai ke tangan warga yang membutuhkan.


Persoalan pengungsi mandiri sebelumnya juga menjadi perhatian pemerintah pusat.


Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Dr. Suharyanto telah mengingatkan agar kelompok pengungsi mandiri tidak dilupakan dalam penanganan bencana.


“Satgas tidak boleh lupakan pengungsi mandiri,” tegas Suharyanto.


Ia meminta pemerintah tidak hanya memperhatikan warga yang mengungsi di lokasi terpusat, tetapi juga masyarakat yang memilih melakukan evakuasi secara mandiri.


“Jangan hanya pengungsi yang terpusat yang diperhatikan, banyak juga pengungsi yang mandiri. Mereka jangan dilupakan,” ujarnya.


Menurut Suharyanto, pengabaian terhadap pengungsi mandiri merupakan persoalan keadilan dalam penanganan bencana.


“Tidak adil,” tegasnya.


Pesan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan gempa Flores agar pendataan korban tidak hanya berfokus pada posko pengungsian terpusat.



Untuk menjembatani informasi dari masyarakat terdampak, AWAS membuka Call Center Pengaduan Gempa Flores.


Melalui kanal tersebut, masyarakat dapat menyampaikan laporan mengenai kebutuhan mendesak, kondisi posko, kekurangan logistik maupun persoalan distribusi bantuan.


Mario menegaskan, call center tersebut bukan bertujuan menyudutkan pemerintah, melainkan menjadi sarana untuk memastikan suara masyarakat terdampak dapat disampaikan kepada pihak berwenang.


“Pembukaan call center ini sebagai bentuk kontribusi awak media sebagai penyambung lidah rakyat agar dapat disampaikan kepada pihak berwenang dalam mengambil kebijakan,” katanya.


AWAS berharap setiap laporan masyarakat dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus membantu pemerintah, relawan dan organisasi kemanusiaan mempercepat distribusi bantuan agar lebih merata dan tepat sasaran.


Sebab, dalam situasi bencana, persoalannya bukan hanya berapa banyak bantuan yang telah dikirim, tetapi berapa banyak warga terdampak yang benar-benar telah menerima bantuan tersebut.


Bagi pengungsi mandiri, pertanyaan itu masih menggantung:


“Jika bantuan sudah menjangkau 21 kecamatan, mengapa kami masih belum merasakannya?”


Pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama bagi pemerintah, relawan, organisasi kemanusiaan dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana Flores.


Jangan sampai warga yang memilih mengungsi secara mandiri justru terlupakan dalam distribusi bantuan.

✒️: kl