Kupang, NTT— Sebagai Ketua Posko Bencana Alam untuk Flores, Plh. Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Jhon Oktavianus, MM., menegaskan bahwa setiap bantuan yang datang untuk masyarakat terdampak gempa harus segera dicatat dan disalurkan ke wilayah yang membutuhkan sesuai tingkat urgensinya.
Jhon memastikan bantuan yang masuk tidak boleh dibiarkan menumpuk di posko. Menurutnya, dalam situasi darurat, masyarakat membutuhkan bantuan secepat mungkin, terutama untuk memenuhi kebutuhan makanan, air minum, perlindungan dan keselamatan.
“Secepat mungkin harus kita arahkan ke lokasi pencari. Sesuai dengan tingkat urgensinya kita harus menolong. Jadi tidak boleh banyak, tidak boleh ada bila perlu di gudang penyimpanan,” tegas Jhon, Jumat (21/8/2026).
Terkait jumlah bantuan yang telah diterima, Jhon mengatakan dirinya tidak menghafal angka secara keseluruhan karena data terus berubah setiap hari.
“Kalau angka saya tidak hafal. Semua ada data di posko. Kalau mencari data di posko, datanya terus bergulir. Setiap hari ada bantuan, ada catatan,” ujarnya.
Menurut Jhon, bantuan yang datang harus segera diarahkan ke lokasi penerima. Karena itu, tidak boleh terjadi penumpukan bantuan dalam waktu lama di posko.
Ia menegaskan, prinsipnya adalah bantuan yang masuk harus segera bergerak menuju masyarakat yang membutuhkan.
Menurut Jhon, kondisi masyarakat terdampak harus segera direspons karena masih berada dalam masa darurat.
“Jadi ini kan masa darurat. Pak Gubernur sudah mengantisipasi dulu. Kalau memang itu persoalan makan, supaya mereka jangan sampai kelaparan, dan kemudian juga keselamatannya, terutama kedinginan dan segala macam,” ujar Jhon.
Ia menegaskan, jangan sampai masyarakat mengalami kelaparan atau kehausan hanya karena keterlambatan distribusi bantuan.
“Jangan sampai orang-orang kelaparan, kehausan gara-gara kita punya keterlambatan,” tegasnya.
Jhon juga menekankan pentingnya peran perangkat desa dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, perangkat desa harus mengetahui kondisi warganya dan mengoordinasikan kebutuhan tersebut dengan posko agar bantuan yang diberikan tepat sasaran.
“Yang terpenting adalah perangkat desa di tempat itu mengoordinir dan kemudian bisa mengetahui bahwa posko bisa mengetahui bahwa ada kebutuhan,” katanya.
Dengan koordinasi tersebut, bantuan dapat diarahkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan sesuai dengan tingkat urgensinya.
Menurut Jhon, masyarakat yang membutuhkan bantuan harus melapor melalui kepala desa atau aparat pemerintah setempat.
“Jadi harus mengetahui pemerintah setempat, memang benar-benar itu dibutuhkan sekali. Jadi masyarakat harus tahu bahwa banyak bantuan itu bukan pergi ambil saja, tapi harus lapor melalui kepala desa atau aparat setempat,” tegasnya.
Artinya, jika seorang warga sudah menerima bantuan berupa mi, beras atau makanan lainnya, bantuan berikutnya dapat diarahkan kepada warga lain yang belum menerima.
Ia menjelaskan bahwa jumlah bantuan terus berubah karena setiap hari terdapat bantuan yang masuk dan bantuan yang disalurkan.
“Ini kan selalu berubah, berubah untuk bertambah,” katanya.
Namun, sebagai Ketua Posko Bencana Alam untuk Flores, Jhon menegaskan bahwa posko tidak boleh menjadi tempat penumpukan bantuan.
“Di posko itu saya usahakan harus kosong. Segera mungkin ada kendaraan, langsung dilewatkan, harus diantar sudah, karena orang sudah sangat membutuhkan,” tegasnya.
Penyaluran bantuan juga dilakukan melalui koordinasi dengan posko kabupaten karena posko kabupaten dinilai lebih dekat dengan masyarakat.
“Kita juga koordinasi dengan posko kabupaten. Posko kabupaten lebih dekat dengan masyarakat. Bagaimana yang harus prioritas, mereka lebih tahu,” jelas Jhon.
Karena itu, ia kembali menekankan bahwa bantuan yang masuk harus segera disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Tapi yang penting adalah segera diantar. Segera diantar. Tidak boleh tertampung, bila perlu kosong terus,” tegasnya.
Jhon menegaskan bahwa posko harus menjadi tempat transit bantuan, bukan tempat penyimpanan dalam jangka panjang.
Setiap bantuan yang datang dicatat, kemudian segera dikoordinasikan untuk disalurkan ke wilayah yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, jumlah bantuan yang berada di posko terus berubah karena terjadi pergerakan barang setiap hari.
Ia mengatakan, ketika kendaraan tersedia, bantuan harus segera dikirimkan sehingga masyarakat tidak perlu menunggu terlalu lama.
“Segera mungkin ada kendaraan, langsung dilewatkan, harus diantar sudah, karena orang sudah sangat membutuhkan,” ujarnya.
Jhon juga menekankan pentingnya koordinasi dengan posko kabupaten dalam menentukan prioritas penerima bantuan.
“Posko kabupaten lebih dekat dengan masyarakat. Bagaimana yang harus prioritas, mereka lebih tahu,” jelasnya.
Karena itu, pengelolaan bantuan dalam masa tanggap darurat harus mengutamakan kecepatan, ketepatan sasaran dan koordinasi.
Bagi Jhon, ukuran keberhasilan penanganan bantuan bukan seberapa banyak bantuan yang tersimpan di posko, tetapi seberapa cepat bantuan tersebut sampai kepada masyarakat yang sedang membutuhkan.
Bantuan datang untuk segera disalurkan, bukan untuk menumpuk di posko.
✒️: kl
