Maumere, NTT — Kepedulian terhadap warga terdampak gempa Flores terus mengalir. Kali ini, Rotary Group turun langsung ke Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, dengan membawa bantuan sembako dan jamban darurat higienis bagi masyarakat yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana.
Aksi kemanusiaan tersebut dilakukan Senin (24/8/2026) dengan kehadiran Lusia Adinda Lebu Raya, selaku PIC Wilayah Sikka. Ia datang langsung ke Nangahale untuk menyerahkan bantuan sekaligus melihat kondisi masyarakat terdampak.
Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok dan fasilitas sanitasi darurat. Dua jenis bantuan ini menjadi penting bagi warga yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas setelah gempa.
Sembako diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari masyarakat. Sementara jamban darurat higienis menjadi solusi terhadap persoalan sanitasi yang muncul ketika warga harus tinggal sementara di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas.
Di tengah situasi darurat, kehadiran langsung di tengah masyarakat memiliki arti tersendiri.
Lusia Adinda Lebu Raya tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga menyapa dan melihat kondisi warga Nangahale. Kehadiran tersebut menjadi pesan bahwa masyarakat yang terdampak gempa tidak sendirian menghadapi masa sulit.
Bantuan diberikan kepada warga yang masih membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar selama proses pemulihan.
Perhatian terhadap sanitasi juga menjadi bagian penting dalam aksi tersebut. Penyediaan jamban darurat higienis diharapkan membantu masyarakat menjalani masa pengungsian dengan lingkungan yang lebih bersih dan layak.
Aksi di Nangahale merupakan bagian dari gerakan kemanusiaan yang lebih luas untuk membantu masyarakat terdampak gempa Flores 2026.
Melalui Rotary Internasional dan District 3420, dengan dukungan berbagai Rotary Club, sedikitnya 30 unit jamban darurat higienis telah dihimpun untuk masyarakat terdampak gempa di Flores.
Program kemanusiaan tersebut melibatkan sejumlah tokoh dan relawan Rotary, di antaranya Past District Governor (PDG) Rommy Junardy, PDG I Nyoman Swastika, District Governor (DG) I Wayan Tur, serta PIC Flores Disaster Response Abed Frans.
Untuk wilayah Sikka, koordinasi lapangan dilakukan oleh Lusia Adinda Lebu Raya. Sementara wilayah Palue dikoordinasikan oleh Vonny Lamoren.
Dukungan juga datang dari Rotary Club of Kupang Rastamores, Rotary Club of Kupang Victory, Rotary Club of Kupang Central, serta berbagai pihak yang ikut berkontribusi dalam penggalangan bantuan.
Gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memaksa banyak warga beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang jauh dari normal.
Kebutuhan pangan, tempat tinggal sementara, air bersih, hingga sanitasi menjadi persoalan yang harus ditangani secara bersama-sama.
Karena itu, keberadaan jamban darurat mungkin terlihat sederhana. Namun bagi masyarakat yang tinggal di pengungsian, fasilitas tersebut merupakan kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan kebersihan dan kesehatan keluarga.
Begitu pula dengan bantuan sembako. Di tengah ketidakpastian pascabencana, bantuan pangan dapat membantu meringankan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Rotary memastikan gerakan kemanusiaan untuk korban Gempa Flores 2026 masih terus berjalan.
Pengumpulan dana dan bantuan masih dilanjutkan untuk menjangkau kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah terdampak.
Aksi di Nangahale menjadi salah satu gambaran bagaimana solidaritas bekerja ketika banyak pihak mengambil bagian. Ada yang menyumbang, menggalang dana, mengatur distribusi, hingga turun langsung memastikan bantuan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Semangat tersebut terlihat dalam aksi kemanusiaan di Nangahale.
Lusia Adinda Lebu Raya dampingi Rtn.Petsy Frans dan Rtn.Vonny Lamoren. datang membawa bantuan, tetapi yang diterima warga bukan hanya sembako dan fasilitas jamban. Ada pesan yang jauh lebih penting: mereka tidak dilupakan.
Di tengah luka dan kecemasan pascagempa, kepedulian seperti ini menjadi penguat bagi masyarakat untuk perlahan bangkit.
Dari Nangahale, solidaritas kembali berbicara. Bantuan mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, nilainya menjadi luar biasa.
Demikian laporan Tim Mata Sikka langsung dari Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.
