Maumere, NTT, 20 Agustus 2026 — Hermanus Adi Making bersama keluarganya di Desa Lowolabo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, tidak meminta bantuan dalam jumlah besar. Di tengah kondisi rumah yang retak akibat gempa, ia hanya berharap ada empati dari pihak-pihak terkait.
Hermanus dan keluarganya terpaksa bertahan di luar rumah karena khawatir dengan kondisi bangunan. Mereka menggunakan terpal sebagai tempat berlindung sementara, namun terpal tersebut kini sudah robek.
Ia berharap pihak terkait dapat membantu menyediakan tenda atau terpal yang layak, sehingga keluarganya memiliki tempat berlindung, terutama ketika hujan turun.
Selain tempat perlindungan, Hermanus juga berharap ada perhatian terhadap kebutuhan obat-obatan bagi warga yang terdampak dan mengungsi secara mandiri.
“Kami bukan minta makanan. Kami hanya butuh terpal untuk berlindung sementara. Rumah kami retak besar karena gempa, sementara terpal yang kami gunakan sudah robek. Kami takut kalau hujan turun,” ungkap Hermanus.
Kebutuhan tersebut sebelumnya sudah disampaikan melalui pemerintah desa. Namun hingga kini, Hermanus mengaku belum mendapatkan jawaban maupun tindak lanjut.
Bagi Hermanus, bantuan yang dibutuhkan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang rumahnya sudah tidak lagi memberikan rasa aman, sebuah tenda dan obat-obatan bisa menjadi sangat berarti.
Ia hanya meminta empati dan kepedulian dari pihak-pihak terkait agar kondisi warga yang mengungsi secara mandiri tidak luput dari perhatian.
Rumah retak membuat mereka takut kembali masuk ke dalam.
Terpal yang robek membuat mereka cemas menghadapi hujan. Di tengah kondisi itu, Hermanus hanya berharap ada pihak yang datang membantu.
Bukan bantuan besar yang diminta. Hanya tempat berlindung dan obat-obatan, agar keluarganya dapat melewati masa sulit pascagempa dengan lebih aman.
✒️: Albert Cakramento
