Kota Kupang, NTT 11 Agustus 2026 – UPTD SMP Negeri 8 Kupang menggelar rangkaian kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan momentum kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai toleransi, keberagaman, nasionalisme, serta membangun karakter siswa sebagai upaya menangkal radikalisme.
Kepala SMP Negeri 8 Kupang, Dra. Maria Th. Roslin S. Lana, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta didik.
Menurutnya, momentum peringatan HUT ke-81 RI menjadi kesempatan bagi sekolah untuk membekali siswa dengan pemahaman tentang pentingnya hidup dalam keberagaman.
“Lewat momentum 17 Agustus yang kita rayakan, anak-anak kita bekali dengan pemahaman tentang semangat toleransi, keberagaman, dengan tujuan menangkal radikalisme yang tentunya untuk memperkuat semangat cinta tanah air dan nasionalisme mereka,” ujar Maria.
Maria menjelaskan, rangkaian kegiatan di SMP Negeri 8 Kupang dibagi dalam kegiatan akademik dan nonakademik.
Untuk kegiatan akademik, sekolah menyiapkan lomba debat Bahasa Inggris serta cerah cermat antarkelas. Kompetisi cerah cermat dilaksanakan melalui tahapan penyisihan untuk siswa kelas VII, VIII dan IX sebelum para finalis bertanding menentukan juara pertama, kedua dan ketiga.
Sementara kegiatan nonakademik diarahkan untuk memeriahkan HUT RI sekaligus menjadi media pengembangan kreativitas dan karakter siswa.
Salah satunya adalah lomba kebersihan kelas dengan mengusung tema “Spela Peduli Bumi, Sampahku Tanggung Jawabku.”
Selain itu, sekolah menggelar fashion show yang mengangkat pakaian etnis dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenal dan mencintai budaya daerah sekaligus memahami bahwa Indonesia memiliki keberagaman yang harus dihargai.
“Melalui fashion show ini kami mau menanamkan kepada anak-anak semangat mencintai budaya lewat bagaimana berpenampilan dengan pakaian etnis di daerah Nusa Tenggara Timur. Kami mau menunjukkan bahwa inilah keberagaman Indonesia sehingga keberagaman itu harus dihargai sehingga terbinalah semangat toleransi,” jelasnya.
Selain kegiatan akademik dan nonakademik, SMP Negeri 8 Kupang juga menyiapkan berbagai kegiatan hiburan untuk memeriahkan perayaan HUT ke-81 RI.
Kegiatan tersebut antara lain sepak bola, dangdut, parade drum band, parade Pramuka, parade tari dan parade musik.
Rangkaian kegiatan juga akan diisi dengan simulasi satuan pendidikan aman bencana yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Agustus 2026.
Untuk kegiatan tersebut, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang sebagai narasumber.
Simulasi dijadwalkan berlangsung pukul 08.00 hingga 09.00 WITA dan akan melibatkan seluruh warga sekolah.
“Kami sudah bersurat dan besok kami jadwalkan simulasi itu jam 8 sampai jam 9 tanggap bencana, sehingga semua warga sekolah melakukan simulasi untuk tanggap bencana itu,” katanya.
Rangkaian kegiatan sekolah berlangsung hingga 14 Agustus 2026.
Pada hari terakhir, sekolah akan menggelar penutupan sekaligus penandatanganan kesepakatan bersama sebagai bagian dari penguatan budaya positif di lingkungan sekolah.
Kesepakatan tersebut melibatkan sekolah, guru, siswa dan orang tua.
Beberapa poin yang ditekankan antara lain kedisiplinan datang ke sekolah tepat waktu, larangan membawa telepon genggam bagi siswa sesuai ketentuan sekolah, serta komitmen untuk tidak melakukan perundungan atau bullying.
Maria mengatakan kesepakatan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pihak sekolah melakukan penguatan sekaligus meminta masukan dari orang tua, khususnya orang tua siswa kelas VII sebagai peserta didik baru.
“Kami minta umpan balik dari orang tua dan itu sudah melahirkan kesepakatan bersama. Termasuk para guru juga saya share di grup dan minta masukan dari teman-teman guru semua, kemudian kami benahi, lahirlah kesepakatan bersama,” ungkapnya.
Dalam menjalankan berbagai program sekolah, Maria menegaskan bahwa kebijakan yang dibuat tidak semata-mata berasal dari kepala sekolah.
Ia mengatakan program sekolah disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang terlihat dalam rapor pendidikan, kemudian dibahas bersama para guru.
“Program itu tidak langsung dari saya. Saya mengajak dan menyampaikan kepada teman-teman bahwa ini rapor pendidikan, semua berbasis data. Ini rapor pendidikan kita, kita punya kekurangan di sini, di sini, di sini. Maka yang sekolah intervensi itu ini,” jelasnya.
Menurut Maria, guru diberikan ruang untuk menyampaikan usul dan saran sehingga program yang dilaksanakan menjadi program bersama.
“Walaupun idenya itu berasal dari kepala sekolah, selalu bersama-sama dan kepada orang tua murid juga saya mengajak bersama kami bangun komunikasi yang bagus,” katanya.
Ia juga menyebut sekolah terus membangun jejaring dengan berbagai pihak melalui kemitraan untuk melahirkan gagasan dan mendukung pencapaian program pendidikan di SMP Negeri 8 Kupang.
Maria mengakui bahwa respons siswa terhadap berbagai program sekolah terkadang berbeda-beda. Namun secara umum, siswa memberikan dukungan terhadap program yang dijalankan.
Salah satu bentuk pembiasaan yang diterapkan adalah kedisiplinan datang tepat waktu serta pembagian tugas piket harian di kelas.
Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan secara rutin pada Sabtu minggu pertama dan ketiga. Kegiatan tersebut didahului dengan pertemuan guru wali.
Maria menyebut jumlah siswa SMP Negeri 8 Kupang saat ini mengalami perubahan karena sebagian siswa pindah mengikuti orang tua ke luar daerah, antara lain ke Kalimantan, Bali dan Jawa.
Menjelang peringatan HUT ke-81 RI, Maria mengajak seluruh warga SMP Negeri 8 Kupang untuk terus menjaga toleransi dan kebersamaan.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh siswa melalui berbagai kegiatan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka kelak menjadi bagian dari masyarakat dan pemimpin bangsa.
“Dengan semangat Hari Ulang Tahun ke-81 NKRI ini, mari kita terus membangun semangat toleransi, semangat kebersamaan yang telah kita rajut selama ini untuk kita mengenal berbagai perbedaan, keberagaman, sehingga kita semua diberi pemahaman untuk menangkal radikalisme yang terjadi di Republik ini,” ujarnya.
Maria percaya siswa SMP Negeri 8 Kupang merupakan generasi yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa.
“Ketika mereka menjadi pemimpin bangsa, mereka sudah punya pengalaman bagaimana menjadi warga negara NKRI yang baik,” tambahnya.
Ia pun mengajak orang tua, guru dan seluruh warga sekolah untuk terus membangun komunikasi dan kerja sama dalam mendukung perkembangan peserta didik.
Menurutnya, perubahan positif di sekolah dapat berlangsung lebih cepat ketika seluruh unsur sekolah bergerak bersama.
“Bukan program kepala sekolah, tapi itu program bersama yang kami diskusikan kemudian melahirkan program,” pungkas Maria.
✒️: kl
