Maumere, NTT — Kondisi Gedung Kantor Imigrasi Kelas II TPI Maumere pascagempa Flores menjadi perhatian serius. Bangunan dua lantai yang dibangun sejak 2008 itu mengalami keretakan di sejumlah bagian, termasuk pada sambungan dan tiang-tiang beton bangunan.
Kondisi tersebut terlihat saat kunjungan Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira bersama Kepala Kantor Wilayah Imigrasi NTT Saroha Manulang, yang didampingi Plt. Kepala Kantor Imigrasi Maumere Dianta, Senin (24/8/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Andreas Hugo Pareira melihat langsung sejumlah bagian gedung yang mengalami keretakan akibat gempa.
Menurut Andreas, kondisi bangunan perlu mendapatkan pemeriksaan teknis secara serius untuk memastikan tingkat keamanan dan kelayakannya sebelum digunakan kembali sebagai tempat pelayanan publik.
“Ini perlu pemeriksaan yang cukup serius untuk kelayakan gedung ini. Kita akan memberikan laporan kepada Dirjen Imigrasi dan juga Menteri untuk tindakan selanjutnya,” ujar Andreas.
Andreas menegaskan, keselamatan pegawai maupun masyarakat yang datang mendapatkan pelayanan harus menjadi prioritas, terlebih gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Flores.
Kondisi bangunan yang mengalami keretakan, menurutnya, tidak boleh diabaikan karena kantor tersebut setiap hari digunakan oleh pegawai sekaligus masyarakat yang membutuhkan pelayanan keimigrasian.
Sementara itu, Saroha Manulang membenarkan bahwa kondisi gedung saat ini cukup mengkhawatirkan untuk digunakan sebagai tempat pelayanan maupun pelaksanaan tugas pegawai.
“Gedung ini sudah cukup mengkhawatirkan untuk dilakukan pelayanan maupun melaksanakan tugas. Pelayanan harus nyaman, nyaman bagi petugas dan nyaman kepada masyarakat,” jelas Saroha.
Sebagai langkah antisipasi, pelayanan Kantor Imigrasi Maumere untuk sementara dipindahkan ke area luar gedung, tepatnya di garasi kendaraan operasional.
Kendaraan operasional dikeluarkan sehingga area tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang pelayanan sementara bagi masyarakat.
Meski tidak lagi dilakukan di dalam gedung utama, Saroha memastikan pelayanan keimigrasian tetap berjalan.
Masyarakat masih dapat datang langsung atau walk-in untuk memperoleh pelayanan tanpa harus selalu menggunakan aplikasi.
Perhatian khusus juga diberikan kepada masyarakat yang dokumen keimigrasiannya mengalami kerusakan akibat gempa.
Bagi warga yang paspornya rusak, tertimpa bangunan atau terdampak langsung bencana, dapat datang ke Kantor Imigrasi untuk menjalani pemeriksaan dan proses penggantian dokumen sesuai ketentuan yang berlaku.
Saroha memastikan warga terdampak bencana tidak dibebani biaya penggantian paspor yang rusak akibat bencana.
“Kalau paspornya rusak karena bencana, datang ke Kantor Imigrasi. Nanti kami asesmen dan dilakukan penggantian tanpa biaya. Nol rupiah,” tegas Saroha.
Kemudahan juga diberikan kepada warga negara asing yang mengalami kendala keimigrasian akibat kondisi bencana. Pihak Imigrasi memastikan akan memberikan solusi sesuai ketentuan yang berlaku.
Di tengah kondisi gedung yang mengkhawatirkan, para pegawai tetap menjalankan pelayanan dengan sistem piket.
Pelayanan berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 13.00 WITA, kemudian dilanjutkan petugas piket sore hingga malam hari.
Namun, kondisi bangunan membuat sebagian pegawai masih diliputi kekhawatiran. Bahkan, sebagian pegawai memilih tidur di luar gedung untuk menghindari risiko apabila kembali terjadi gempa susulan.
Saroha mengatakan gempa susulan masih menjadi perhatian karena guncangan masih terjadi di wilayah Flores.
“Kita doakan mudah-mudahan gempa ini cepat berlalu karena masih ada gempa susulan. Hari ini saja sudah empat kali dengan skala yang cukup mengkhawatirkan,” ungkapnya.
Kondisi pascagempa juga berdampak terhadap pelayanan di Kantor Imigrasi Labuan Bajo.
Pelayanan di lokasi tersebut turut dilakukan di luar gedung sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi bangunan pascagempa.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pegawai dan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam menjaga keberlangsungan pelayanan keimigrasian di wilayah terdampak gempa.
Kunjungan Andreas Hugo Pareira bersama jajaran Imigrasi NTT menjadi bagian penting dalam melihat langsung kondisi fasilitas pelayanan publik yang terdampak gempa.
Kerusakan pada bagian bangunan, termasuk keretakan pada struktur yang perlu diperiksa lebih lanjut, menjadi alasan perlunya pemeriksaan teknis sebelum gedung dinyatakan aman untuk digunakan kembali.
Laporan mengenai kondisi Gedung Kantor Imigrasi Maumere selanjutnya akan disampaikan kepada Direktur Jenderal Imigrasi dan Menteri untuk mendapatkan tindak lanjut.
Bagi masyarakat, pelayanan tetap dibutuhkan. Namun dalam situasi bencana, pelayanan tidak boleh mengabaikan faktor keselamatan.
Pelayanan keimigrasian tetap berjalan, tetapi keselamatan pegawai dan masyarakat harus menjadi prioritas utama.
