Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Tiga Kilometer yang Terasa Puluhan: Korban Gempa Nitung Lea Menunggu Pertolongan

Jumat, 21 Agustus 2026 | Agustus 21, 2026 WIB Last Updated 2026-08-21T00:32:42Z


Maumere, NTT, 21 Agustus 2026 — Enam hari setelah gempa mengguncang Flores, kabar tentang warga yang masih terisolir kembali mencuat. Di Nitung Lea, Kampung Watupuli dan Natakanda, sejumlah warga terdampak gempa disebut masih menunggu pertolongan medis dan bantuan dasar dalam kondisi yang serba terbatas.


Lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Desa Nitung. Namun, angka tiga kilometer itu memiliki arti berbeda bagi warga setempat. Tidak tersedia jalan raya menuju wilayah tersebut. Untuk mencapai lokasi, perjalanan harus ditempuh berjalan kaki melalui jalan setapak.


Keterbatasan akses inilah yang membuat warga semakin sulit mendapatkan pelayanan pascabencana.


Di lokasi tersebut, sedikitnya 10 warga dilaporkan membutuhkan perhatian serius. Mereka membutuhkan penanganan medis, obat-obatan, air minum dan tenda. Sembilan warga masih membutuhkan penanganan medis, sementara seorang warga lanjut usia, Juliana Paji (100 tahun), dilaporkan telah meninggal dunia.


Sembilan warga yang membutuhkan penanganan medis tersebut yakni Fulgensia Sopu (48), Edita Lanu (40), Maria Nona (70), Wilhelmus Ware (75), Petrus Sigo (70), Mboy Rugu Lanu (24), Sisilia Lanu (65), Maria Sury Sugo (25), dan Zein Nggati (10).


Kondisi mereka tentu tidak bisa dipandang sebelah mata. Di antara daftar tersebut terdapat warga lanjut usia dan seorang anak berusia 10 tahun. Mereka berada dalam situasi pascabencana ketika akses menuju fasilitas kesehatan juga menjadi persoalan.


Sementara kebutuhan makanan, warga masih berusaha bertahan dengan sedikit persediaan makanan lokal yang tersisa. Namun, persediaan tersebut tentu tidak bisa menjadi tumpuan dalam jangka panjang.


Yang lebih mendesak adalah kehadiran tenaga medis, obat-obatan, air minum serta tenda untuk tempat berlindung.


Kondisi Nitung Lea, Watupuli dan Natakanda sekaligus memperlihatkan sisi lain dari penanganan bencana. Di sejumlah tempat, bantuan mungkin lebih mudah didistribusikan karena akses kendaraan tersedia. Tetapi di wilayah terpencil, warga harus menghadapi persoalan berbeda: bencana sekaligus keterisolasian.


Bagi warga yang sedang terluka atau sakit, perjalanan tiga kilometer melalui jalan setapak bukan perkara sederhana. Apalagi jika harus membawa orang sakit secara manual tanpa kendaraan dan peralatan evakuasi yang memadai.


Karena itu, kondisi ini membutuhkan respons cepat. Pemerintah bersama BPBD, Dinas Kesehatan, TNI, Polri, Basarnas, organisasi kemanusiaan maupun relawan diharapkan dapat mencari cara untuk menjangkau wilayah tersebut.


Jangan menunggu sampai kondisi warga semakin memburuk baru bantuan bergerak.


Penanganan bencana seharusnya tidak berhenti pada wilayah yang mudah dijangkau kendaraan. Warga yang tinggal jauh di pelosok tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, air bersih, tempat berlindung dan bantuan kemanusiaan.


Tiga kilometer di peta mungkin terlihat dekat. Tetapi bagi korban gempa di Nitung Lea, tiga kilometer itu bisa terasa seperti puluhan kilometer ketika tidak ada jalan raya dan mereka harus menunggu dalam kondisi terluka.


Kini pertanyaannya sederhana: berapa lama lagi mereka harus menunggu?


Di balik jalan setapak menuju Nitung Lea, ada warga yang sedang sakit, ada lansia yang membutuhkan pertolongan, ada seorang anak yang membutuhkan perhatian, dan ada keluarga yang masih berusaha bertahan setelah bencana.


Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya ingin pertolongan datang sebelum semuanya terlambat.

✒️