Kupang, NTT — Program pelayanan servis elektronik gratis di SMKN 5 Kupang menjadi ruang pembelajaran langsung bagi siswa Teknik Elektronika Industri untuk mengasah keterampilan sekaligus membantu masyarakat.
Selama lebih dari satu bulan berjalan, program tersebut telah menangani sekitar 20 peralatan elektronik, baik milik masyarakat maupun dari lingkungan sekolah.
Siswa kelas XI Teknik Elektronika Industri, Alfred Benu, mengatakan program tersebut memberinya pengalaman yang tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran teori di dalam kelas.
“Yang saya dapatkan itu pengalaman, terus tambah-tambah ilmu dari luar,” ujar Alfred.
Menurutnya, pembelajaran langsung di lapangan membuat siswa dapat memahami kondisi nyata berbagai peralatan elektronik sekaligus belajar menemukan sumber kerusakan.
Guru pembimbing sekaligus pengawas program, Yandi Bangngu, mengatakan siswa mendapatkan pengalaman menghadapi berbagai jenis dan merek peralatan elektronik yang tidak semuanya tersedia sebagai bahan praktik di sekolah.
“Teori yang siswa mungkin pernah pelajari, mereka langsung bisa berhadapan di lapangan dengan kenyataan yang sebenarnya,” kata Yandi.
Selama pelaksanaan program, siswa telah menangani berbagai peralatan, antara lain televisi LED, dinamo air, mesin cuci, speaker aktif, dispenser dan magic com.
Menurut Yandi, pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi siswa sebelum mengikuti magang maupun memasuki dunia kerja.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan tersebut dengan menghubungi call center yang disediakan. Setelah laporan diterima, guru yang sedang memiliki waktu akan ditugaskan untuk menangani peralatan yang mengalami kerusakan.
Yandi menegaskan, masyarakat tidak dikenakan biaya jasa servis maupun biaya transportasi, termasuk apabila peralatan harus dibawa ke sekolah untuk diperbaiki.
Namun, apabila kerusakan membutuhkan penggantian komponen, biaya komponen menjadi tanggung jawab pemilik peralatan.
Agar seluruh siswa mendapatkan pengalaman, keterlibatan dalam pelayanan dilakukan secara bergiliran.
“Harapan kami semua siswa pernah mencoba pelayanan gratis ini, karena ini akan bermanfaat bagi mereka,” ujar Yandi.
Program tersebut diharapkan dapat memperkuat keterampilan praktik siswa sekaligus membantu mereka lebih siap menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Alfred pun berharap program tersebut terus dikembangkan karena menurutnya pembelajaran praktik di lapangan terasa lebih menarik dibandingkan hanya menerima teori di kelas.
“Yang diharapkan supaya anak-anak elektronika mendapat banyak pengalaman dan materi, sehingga tamat dari sini bisa langsung masuk ke dunia kerja,” katanya.
Meski masih menghadapi keterbatasan sejumlah peralatan praktik, pihak sekolah disebut terus melakukan pengadaan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kemampuan keuangan sekolah.
Program pelayanan servis elektronik gratis ini pun menjadi salah satu bentuk pembelajaran yang mempertemukan teori di sekolah dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
✒️: kl
