Kupang, NTT — SMKN 5 Kupang terus mendorong pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui program pelayanan gratis, siswa dari berbagai kompetensi keahlian mendapat kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Program tersebut melibatkan sejumlah jurusan, termasuk Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Teknik Elektronika Industri. Siswa tidak hanya belajar memperbaiki peralatan atau menghasilkan karya desain, tetapi juga belajar berkomunikasi, melakukan dokumentasi, dan memahami kebutuhan masyarakat.
Salah satu siswi DKV, Arice Giri, yang biasa disapa Nola, mengatakan dirinya mendapat kesempatan terlibat dalam kegiatan dokumentasi dan public speaking selama pelayanan berlangsung.
Dalam pembagian tugas, siswa laki-laki lebih banyak menangani dokumentasi, sementara siswa perempuan mendapat kesempatan melakukan public speaking, termasuk mewawancarai masyarakat mengenai pesan, kesan, dan kepuasan mereka terhadap pelayanan yang diberikan.
“Laki-laki bagian dokumentasi, perempuan bagian public speaking,” ujar Nola, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, siswa DKV juga dapat mengembangkan kemampuan melalui pembuatan berbagai produk visual seperti poster, kartu nama, stiker, nomor racing, hingga flyer.
Nola mengakui, dalam proses pembelajaran masih terdapat sejumlah kendala, terutama ketika siswa belum memahami penggunaan tools tertentu dalam aplikasi desain.
Namun, kendala tersebut menjadi bagian dari proses belajar. Ketika mengalami kesulitan, siswa dapat bertanya langsung kepada guru untuk mendapatkan penjelasan.
“Kadang kendalanya karena tidak tahu tools-nya, ini harus dipasang di mana. Tapi dari kendala itu kita bertanya kepada guru, terus guru jelaskan,” katanya.
Menurut Nola, pembelajaran di sekolah memiliki kelebihan karena siswa dapat langsung berkonsultasi dengan guru ketika mengalami kesulitan, dibandingkan belajar secara otodidak.
“Enakan di sekolah supaya langsung tanya ke guru daripada otodidak, karena otodidak kadang masih bingung,” ujarnya.
Ketertarikannya terhadap DKV sendiri muncul karena ia menyukai desain dan fotografi. Ia menilai bidang tersebut juga membuka peluang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang advertising maupun fotografi.
Bahkan, ia mengaku sudah menerima pekerjaan desain secara mandiri, seperti membuat flyer dan stiker untuk kebutuhan tertentu.
Nola menilai program pelayanan gratis yang dilakukan SMKN 5 Kupang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan layanan tetapi memiliki keterbatasan ekonomi.
“Pelayanan gratis bagus, bisa membantu masyarakat yang membutuhkan. Karena pelayanan gratis tidak memungut biaya, jadi bagus untuk masyarakat,” katanya.
Menurutnya, siswa juga mendapatkan pengalaman karena keterampilan yang selama ini dipelajari di sekolah dapat digunakan secara langsung untuk membantu orang lain.
Selain DKV, pengembangan kemampuan siswa juga dilakukan melalui English Club.
Guru Bahasa Inggris SMKN 5 Kupang, Thersia Lepang Seli, menjelaskan English Club menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan kemampuan siswa, terutama dalam kemampuan berbicara Bahasa Inggris.
Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap Jumat dengan menyesuaikan sistem pembelajaran dua shift yang diterapkan sekolah.
Dalam kegiatan English Club, siswa terlebih dahulu diajak mengikuti permainan menggunakan Bahasa Inggris. Setelah muncul ketertarikan, guru kemudian memberikan latihan yang lebih mendalam.
“Pertama kita ajak anak-anak untuk bergabung, bermain game Bahasa Inggris. Setelah mereka berminat dan tertarik, baru kita latih lebih dalam lagi,” jelas Thersia.
Saat ini sekitar 48 siswa kelas X dan XI mengikuti kegiatan tersebut. Sementara siswa kelas XII sebagian besar sedang menjalani PKL, meski sebelumnya juga ada yang aktif mengikuti English Club.
Thersia tidak sependapat dengan anggapan bahwa anak-anak NTT kurang mampu dalam Bahasa Inggris.
Menurutnya, siswa memiliki potensi yang besar apabila diberikan kesempatan, motivasi dan ruang untuk berkembang.
“Kalau mau bilang anak-anak NTT kurang mampu, saya tidak setuju dengan statement itu. Anak-anak itu hanya belum dikasih kesempatan atau belum mengenal potensi diri sendiri,” katanya.
Ia menilai guru memiliki peran penting dalam membangun motivasi siswa. Pendekatan pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan karakter siswa agar materi lebih mudah dipahami.
Menurut Thersia, siswa cenderung lebih tertarik apabila pembelajaran tidak didominasi penjelasan panjang, tetapi langsung diarahkan pada praktik dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak tidak suka kalau kita omong terlalu banyak. Mereka mau langsung kerja soal, kemudian dijelaskan secara ringkas dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam pengembangan program pelayanan kepada masyarakat, muncul pula gagasan untuk menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris gratis bagi masyarakat di luar SMKN 5 Kupang.
Pembelajaran tersebut nantinya dapat dilakukan secara daring melalui platform seperti Google Meet maupun aplikasi lainnya.
Thersia mengatakan gagasan tersebut belum menjadi program resmi saat ini. Namun, ide tersebut dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan ke depan dengan dukungan kepala sekolah.
Jika direalisasikan, guru dan siswa yang memiliki kemampuan Bahasa Inggris dapat turut memberikan pembelajaran kepada masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah.
Gagasan tersebut sekaligus memperluas fungsi sekolah sebagai tempat belajar yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, SMKN 5 Kupang berupaya menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman nyata. Siswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan, berkomunikasi dengan masyarakat, membangun kepercayaan diri, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Program tersebut juga membuka ruang bagi siswa untuk belajar bahwa keterampilan yang mereka miliki dapat digunakan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk membantu masyarakat.
✒️: kl
