Kupang, NTT— 10 September 2026 — Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mengajak siswa-siswi SMK Negeri 6 Kupang untuk tidak hanya berpikir menjadi pencari kerja setelah lulus sekolah.
Menurutnya, pendidikan vokasi harus mampu membekali generasi muda dengan keterampilan, karakter, kreativitas, inovasi, dan jiwa kewirausahaan sehingga mereka mampu menciptakan peluang bahkan membuka lapangan pekerjaan.
Pesan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat melakukan kunjungan ke SMK Negeri 6 Kupang, Rabu (9/9/2026).
Johni mengatakan, lulusan sekolah kejuruan memiliki keunggulan karena dibekali keterampilan yang dapat langsung dikembangkan dalam dunia kerja maupun usaha.
Karena itu, ia mendorong siswa untuk memiliki perspektif yang lebih luas mengenai masa depan.
“Mindset berwirausaha sangat tepat ditanamkan sejak masih sekolah, terutama di SMK. Inilah salah satu keunggulan SMK,” kata Johni.
Johni mengingatkan para siswa agar tidak takut memulai usaha meskipun dari skala kecil.
Menurutnya, keberhasilan dalam berwirausaha membutuhkan ketekunan, keberanian mengambil risiko, kemampuan membaca peluang dan pasar, pengelolaan keuangan yang baik, serta kemauan untuk terus belajar dan membangun jaringan.
“Semua pengusaha sukses mulai dari usaha yang kecil. Tidak ada yang langsung besar. Yang penting tekun, pantang menyerah, berani mengambil risiko, hemat, dan terus mengembangkan jaringan,” jelasnya.
Ia menilai peluang menjadi pegawai pemerintah semakin terbatas. Karena itu, generasi muda perlu memiliki alternatif dan kemampuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Selain keterampilan teknis atau hard skill, Johni menekankan pentingnya soft skill dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Menurutnya, siswa yang memiliki keterampilan sesuai bidang kejuruan tetap membutuhkan karakter dan kemampuan interpersonal yang baik.
“Tidak cukup hanya pintar dan terampil. Kita membutuhkan soft skill. Disiplin, jujur, komunikatif, ramah, tangkas, pantang menyerah, mampu bekerja sama, dan mampu mengelola waktu. Itu semua sangat menentukan keberhasilan seseorang,” tegasnya.
Johni juga meminta siswa menggunakan teknologi dan media sosial secara bijak.
Kemajuan teknologi, katanya, harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar, membangun jaringan, mengembangkan kreativitas, serta memperluas peluang usaha, bukan menjadi penghambat masa depan.
Ia juga mendorong siswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berani menyampaikan gagasan, memiliki empati, mampu bekerja sama, serta kreatif dan inovatif.
Menurutnya, kebiasaan bertanya dan mencari tahu alasan di balik suatu persoalan merupakan bagian penting dari critical thinking yang dibutuhkan dalam pendidikan, dunia kerja maupun kewirausahaan.
“Karena itu, semangat untuk berhasil dan orientasi pada tujuan harus menjadi mindset anak-anak sekalian. Kalau pikiran kita tertuju pada tujuan, kita akan mencari berbagai cara untuk mengatasi hambatan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SMK Negeri 6 Kupang, Asa Manason Lahtang, menjelaskan berbagai inovasi yang dikembangkan sekolah untuk memperkuat pendidikan vokasi.
Saat ini SMK Negeri 6 Kupang memiliki 927 siswa, terdiri dari 305 siswa kelas X, 312 siswa kelas XI, dan 310 siswa kelas XII.
Sekolah tersebut didukung 91 guru dan tenaga kependidikan, yang terdiri dari 70 guru dan 21 tenaga kependidikan.
SMK Negeri 6 Kupang memiliki lima program keahlian, yakni Desain Komunikasi Visual, Teknik Komputer dan Jaringan, Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim, Akuntansi Keuangan Lembaga, serta Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis.
Asa menjelaskan, konsep pendidikan vokasi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga memperbanyak pelatihan, praktik, kemitraan, dan pendampingan siswa.
“ Kami berpikir bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berbicara tentang pembelajaran, tetapi harus lebih banyak pada pelatihan dan praktik. Pendampingan bukan hanya saat mereka di sekolah, tetapi sampai mereka tamat pun tetap kami lakukan,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang dikembangkan SMK Negeri 6 Kupang adalah pembangunan IT Center.
Asa mengatakan, gagasan tersebut muncul setelah pihak sekolah melakukan kunjungan ke Yogyakarta pada 2023 dan melihat keberadaan pusat pelatihan teknologi informasi yang mampu menarik peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
“Ketika kami pulang ke Kupang, saya mengatakan tiga tahun ke depan SMK Negeri 6 harus punya IT Center dan orang datang belajar di kita, bukan kita yang belajar di orang,” ungkap Asa.
IT Center tersebut dibangun secara bertahap dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki sekolah.
Lantai pertama dimanfaatkan sebagai pusat bisnis dan promosi sekolah serta koperasi. Lantai kedua digunakan sebagai ruang pelatihan coding, sedangkan lantai ketiga diarahkan untuk pengembangan program SMK Go Global, termasuk Migrant Center sebagai bagian dari persiapan siswa yang ingin bekerja ke luar negeri.
“Semua ini kami lakukan untuk siswa, agar mereka dibekali dengan berbagai pengetahuan, pelatihan dan pemahaman,” kata Asa.
Selain mengembangkan IT Center, SMK Negeri 6 Kupang juga memperkuat kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Sekolah tersebut telah membangun jaringan dengan lebih dari 100 mitra, terutama perusahaan swasta. Kemitraan itu diarahkan untuk memperluas kesempatan praktik kerja lapangan sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai dunia industri.
Di bidang kewirausahaan, sekolah juga mengembangkan toko sekolah, koperasi, unit produksi, serta E-Learning Cafe yang mengusung konsep pembelajaran yang lebih menyenangkan dan kreatif.
Asa menilai pembelajaran tidak harus selalu berlangsung dalam suasana kelas yang kaku. Kelompok belajar dapat dilakukan di berbagai tempat dengan metode yang lebih kreatif.
“Kami berupaya melawan stigma yang mengatakan bahwa penghasil pengangguran terbesar adalah SMK. Karena itu, sekolah terus membekali siswa dengan berbagai pengetahuan, pelatihan dan pemahaman,” tegasnya.
Kunjungan Wakil Gubernur NTT tersebut menjadi momentum bagi SMK Negeri 6 Kupang untuk terus memperkuat pendidikan vokasi yang tidak hanya menghasilkan lulusan terampil, tetapi juga generasi muda yang memiliki karakter, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menciptakan peluang dan lapangan kerja.
✒️: kl