Maumere, NTT — Pancasila tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik rumusan dasar negara Indonesia terdapat perjalanan panjang, pergulatan pemikiran, pengalaman perjuangan serta perjumpaan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Pesan tersebut disampaikan Dr.Andreas Hugo Pareira (AHP), Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, saat menyampaikan materi bertajuk “Bung Karno, Flores dan Pancasila” dalam kegiatan “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat” yang berlangsung di Aula St. Rafael Paroki Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa, 15 September 2026.
Dalam paparannya, AHP mengajak peserta melihat kembali perjalanan Bung Karno, khususnya ketika Proklamator Indonesia tersebut menjalani masa pengasingan di Ende, Flores.
Menurut AHP, untuk memahami Pancasila tidak cukup hanya melihat lima sila yang kemudian dirumuskan sebagai dasar negara. Perjalanan menuju gagasan tersebut juga tidak dapat dilepaskan dari pengalaman sejarah dan pergulatan pemikiran Bung Karno.
AHP menjelaskan, perjuangan Bung Karno melawan imperialisme dan kolonialisme telah dimulai jauh sebelum dirinya diasingkan ke Ende.
Sejak masa kuliah di Technische Hoogeschool (THS) pada 1923, pemikiran Bung Karno mengenai masa depan Indonesia terus berkembang.
Pada 1926, Bung Karno menulis gagasan “Nasionalisme, Islam dan Marxisme” yang kemudian dimuat secara berseri dalam jurnal Indonesia Moeda.
Gagasan tersebut menunjukkan perhatian Bung Karno terhadap pentingnya persatuan berbagai kekuatan dalam menghadapi kolonialisme.
Setahun kemudian, tepatnya 4 Juli 1927, Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan tujuan memperjuangkan Indonesia merdeka.
Pergerakan politik tersebut kemudian mendapat tekanan dari pemerintah kolonial Belanda.
Bung Karno ditangkap pada 24 Desember 1929 bersama sejumlah tokoh PNI.
Setelah menjalani hukuman dan kembali aktif dalam perjuangan, pemerintah kolonial kemudian mengambil langkah pengasingan.
Pada 14 Januari 1934, Bung Karno tiba di Ende bersama istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya Ibu Amsi, serta anak angkat mereka.
Menurut AHP, Ende memang menjadi tempat pengasingan Bung Karno. Namun, pengasingan tersebut tidak serta-merta menghentikan aktivitas pemikirannya.
Keterbatasan ruang gerak justru menjadi kesempatan bagi Bung Karno untuk membaca, berpikir, melakukan refleksi dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di Ende, Bung Karno membaca berbagai buku, termasuk buku yang diperolehnya melalui perpustakaan biara SVD.
Ia juga berdiskusi dengan para pastor dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Petani, nelayan, pedagang, tokoh masyarakat serta kelompok keagamaan menjadi bagian dari lingkungan sosial yang ditemui Bung Karno selama berada di Ende.
Bagi AHP, pengalaman tersebut penting untuk melihat bagaimana gagasan mengenai Indonesia sebagai bangsa yang beragam semakin mendapatkan ruang dalam pemikiran Bung Karno.
Ende dengan demikian bukan sekadar lokasi pengasingan.
Ende menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan refleksi Bung Karno mengenai bangsa Indonesia.
Dalam paparannya, AHP juga mengangkat refleksi yang selama ini melekat kuat dengan sejarah Bung Karno di Ende.
Ende dikenang sebagai tempat Bung Karno melakukan perenungan mengenai nilai-nilai yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan lahirnya Pancasila.
Kisah tentang perenungan di bawah pohon sukun menjadi salah satu simbol yang terus dikenang dalam sejarah Pancasila di Flores.
Karena itu, Ende memiliki posisi istimewa dalam narasi sejarah Pancasila.
Bukan karena Pancasila secara formal lahir di Ende, melainkan karena kota tersebut menjadi salah satu ruang pergulatan pemikiran Bung Karno sebelum Indonesia merdeka.
Salah satu bagian menarik dari materi AHP adalah mengenai Tonil, kelompok sandiwara yang dibentuk Bung Karno selama berada di Ende.
Menurut AHP, perjuangan Bung Karno di Ende tidak hanya dilakukan melalui pemikiran politik.
Ia juga menggunakan seni dan kebudayaan sebagai sarana membangun kesadaran masyarakat.
Bung Karno menulis sejumlah naskah Tonil. Namun, perannya tidak berhenti sebagai penulis.
Ia juga terlibat dalam menyutradarai, mengorganisasi dan menggerakkan masyarakat untuk ikut dalam pementasan.
Para pemain berasal dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk mereka yang tidak mampu membaca naskah.
Melalui Tonil, gagasan dan semangat perjuangan dapat disampaikan kepada masyarakat melalui bahasa seni yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Dari kisah Tonil tersebut, AHP menunjukkan bahwa perjuangan membangun bangsa tidak selalu harus dilakukan melalui ruang politik.
Seni, budaya dan masyarakat juga dapat menjadi kekuatan untuk membangun kesadaran kebangsaan.
Bung Karno memanfaatkan ruang yang tersedia di tengah keterbatasan pengasingannya.
Ia berinteraksi dengan masyarakat, membangun kegiatan kebudayaan dan menggunakan seni sebagai medium untuk menyampaikan gagasan.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa perjuangan kebangsaan membutuhkan keterlibatan masyarakat secara luas.
Dalam konteks kekinian, AHP menekankan pentingnya memahami Pancasila bukan hanya sebagai materi yang dihafalkan.
Pancasila harus menjadi nilai yang hidup dalam hubungan antarmanusia.
Persatuan, toleransi, musyawarah, gotong royong dan penghormatan terhadap keberagaman harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman Bung Karno di Ende memberikan gambaran bahwa Indonesia sejak awal dibangun di atas keberagaman.
Karena itu, menjaga persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan, tetapi menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama.
Dari kisah Bung Karno di Ende, AHP mengajak masyarakat untuk tidak melihat sejarah sekadar sebagai masa lalu.
Sejarah harus menjadi sumber pembelajaran untuk menghadapi persoalan bangsa hari ini.
Ende memperlihatkan bagaimana seorang tokoh yang berada dalam keterbatasan tetap mampu berpikir, berkreasi dan membangun hubungan dengan masyarakat.
Dari ruang pengasingan, lahir proses refleksi.
Dari kebudayaan, tumbuh ruang perjumpaan.
Dan dari keberagaman masyarakat, semakin kuat kesadaran mengenai pentingnya persatuan.
Pesan itu kemudian menjadi relevan bagi generasi sekarang.
Pancasila tidak cukup dikenang sebagai sejarah. Pancasila harus terus dihidupkan melalui tindakan nyata.
Apa yang dilakukan Bung Karno di Ende menunjukkan bahwa membangun Indonesia membutuhkan gagasan, keberanian, kebudayaan dan keterlibatan masyarakat.
Dari Ende, kita belajar bahwa ruang pengasingan pun dapat berubah menjadi ruang pemikiran. Dari sejarah Bung Karno, kita belajar bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di medan politik. Dan dari Pancasila, kita belajar bahwa keberagaman hanya akan menjadi kekuatan ketika dipersatukan oleh semangat kebangsaan.
SALAM PANCASILA!
✒️: Albert Cakramento
