Maumere, NTT, 1 September 2026 — Meski aktivitas gempa dinyatakan telah berakhir, warga di Posko Wolooa, Dusun Wololuma, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, belum sepenuhnya berani kembali ke rumah.
Kondisi sejumlah rumah yang mengalami kerusakan serta kekhawatiran terhadap keselamatan membuat sebagian warga memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian.
BNPB sebelumnya menyampaikan bahwa aktivitas gempa sudah tidak lagi terjadi sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah dan posko pengungsian dapat dibongkar. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan sebagian warga masih membutuhkan waktu untuk memastikan tempat tinggal mereka benar-benar aman.
Warga yang masih bertahan di posko mengaku rumah mereka mengalami kerusakan, baik berat maupun ringan. Sebagian rumah juga berada di sekitar pepohonan besar yang dinilai berisiko, terlebih kondisi cuaca saat ini disertai angin kencang.
“Kami tetap bertahan di posko sampai keadaan benar-benar aman dan ada imbauan untuk kembali. Bukan tidak mau pulang, tetapi keadaan rumah membuat kami belum berani. Ada rumah yang rusak berat, rusak ringan, dan ada yang dekat dengan pohon-pohon besar. Sekarang angin juga kencang,” ungkap salah seorang warga.
Bagi warga, berakhirnya aktivitas gempa bukan satu-satunya pertimbangan untuk kembali ke rumah.
Kondisi fisik bangunan, lingkungan sekitar, serta trauma pascagempa masih menjadi alasan mereka memilih bertahan di lokasi pengungsian.
Sejumlah warga bahkan mengaku rela tidur di tanah di area posko karena merasa lebih aman berada bersama keluarga dibandingkan menempati rumah yang masih mengalami keretakan atau kerusakan.
“Kami bukan tidak mau kembali ke rumah. Kami hanya ingin memastikan keselamatan diri dan keluarga. Kami masih trauma dan belum berani menempati rumah dalam kondisi seperti ini,” ujar warga lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa berakhirnya aktivitas gempa tidak serta-merta mengakhiri seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat terdampak.
Bagi warga, rasa aman menjadi pertimbangan utama sebelum mereka benar-benar meninggalkan posko pengungsian.
Warga berharap pemerintah tetap memberikan perhatian kepada masyarakat yang belum mampu kembali ke rumah, khususnya mereka yang tempat tinggalnya mengalami kerusakan.
Mereka juga meminta perhatian terhadap rumah-rumah yang berada di sekitar pepohonan besar karena kondisi angin kencang dapat menimbulkan risiko tambahan bagi keselamatan warga.
Masyarakat menegaskan bahwa bertahan di posko bukan karena ingin mencari kenyamanan.
Keputusan tersebut diambil karena mereka masih mempertimbangkan keselamatan diri dan keluarga setelah mengalami bencana.
“Semoga bencana ini segera berlalu. Kami berharap pemerintah tetap memperhatikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan bantuan,” harap warga.
Hingga kini, sebagian warga Wololuma masih memilih bertahan di posko sembari menunggu kondisi yang menurut mereka benar-benar aman untuk kembali.
Sebab, bagi mereka, pulang bukan sekadar meninggalkan tenda atau posko pengungsian. Pulang berarti memastikan rumah masih layak ditempati dan keluarga berada dalam kondisi aman.
Di tengah pernyataan bahwa aktivitas gempa telah berakhir, warga Wololuma masih menghadapi satu pertanyaan sederhana: kapan mereka benar-benar merasa aman untuk pulang?
