Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Pulang untuk Selamanya, Alfonsius Dimakamkan Di Tanah Kelahiran

Minggu, 13 September 2026 | September 13, 2026 WIB Last Updated 2026-09-13T14:47:28Z


 

Maumere, NTT  — Tangis pecah di Rumah Duka Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Minggu (13/9/2026). Ratusan pelayat hadir mengantar drh.


Alfonsius Albinus Mehan ke peristirahatan terakhir setelah putra Maumere itu meninggal dunia akibat menjadi korban penembakan oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Suasana duka terasa sejak prosesi Ibadah Pemakaman dimulai.


Keluarga, kerabat, sahabat, dan masyarakat yang hadir tampak larut dalam kesedihan melepas sosok yang dikenal sebagai dokter hewan sekaligus pribadi yang aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan.


Bagi keluarga, kepulangan Alfonsius ke Maumere menjadi kepulangan yang paling berat. Ia tidak kembali membawa cerita dari tanah rantau, tetapi dalam sebuah peti jenazah.


Ibadah Pemakaman dipimpin oleh Pastor Paroki Santa Maria Magdalena Nangahure, P. Wilhelmus Lae, CP.


Sementara itu, Wakil Bupati Sikka Simon Subandi hadir sebagai pembina upacara sekaligus menyerahkan santunan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Sikka kepada keluarga almarhum.


Suasana semakin haru ketika regu Satpol PP Kabupaten Sikka mengusung peti jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Prosesi tersebut diiringi penghormatan dan tabur bunga oleh jajaran Forkopimda bersama keluarga besar almarhum.


Alfonsius Albinus Mehan lahir di Maumere pada 1 Maret 1991. Ia menyelesaikan pendidikan Profesi Dokter Hewan di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada 2017.


Setahun kemudian, Alfonsius meninggalkan tanah kelahirannya dan memilih mengabdikan ilmu serta keahliannya di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.


Selama kurang lebih delapan tahun, ia menjalankan profesinya sekaligus membangun kehidupan sosial dan keagamaan di tanah perantauan.


Di tengah masyarakat, Alfonsius tidak hanya dikenal sebagai dokter hewan. Ia juga aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan.


Almarhum tercatat menjabat sebagai Sekretaris Komunitas Umat Basis (KUB) serta aktif dalam Paguyuban Batak dan Flores di Wamena.


Namun, perjalanan pengabdian tersebut berakhir tragis setelah Alfonsius menjadi korban penembakan oleh kelompok bersenjata.


Ia meninggalkan seorang istri, Tiur Siska Yohana Sari Hutagalung, serta tiga orang anak.


Bagi keluarga, kepergian Alfonsius bukan sekadar kehilangan seorang anggota keluarga.


Seorang istri kehilangan suami, tiga anak kehilangan sosok ayah, sementara tanah kelahirannya kehilangan seorang putra yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri jauh dari Maumere.


Alfonsius pergi membawa ilmu dan semangat pengabdian.


Ia memilih bekerja jauh dari kampung halaman demi menjalankan profesinya.


Namun, kepulangannya ke Maumere justru menjadi kepulangan terakhir.


Peti jenazah yang diusung menuju makam menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan hidup seorang anak daerah yang menghabiskan sebagian masa pengabdiannya di tanah Papua.


Di hadapan pusara, keluarga dan para pelayat hanya dapat memberikan penghormatan terakhir.


Alfonsius telah pergi, tetapi jejak pengabdian dan kenangannya akan tetap tinggal di hati keluarga, sahabat, serta masyarakat yang mengenalnya.


Kepergiannya juga menyisakan pertanyaan mengenai keamanan warga sipil dan para pekerja yang menjalankan tugas serta pengabdian di wilayah konflik Papua.


Sebab di balik setiap orang yang pergi mengabdi, selalu ada keluarga yang menunggu satu hal sederhana: agar orang yang mereka cintai dapat pulang dengan selamat.


Bagi keluarga Alfonsius, harapan itu kini berubah menjadi sebuah perpisahan untuk selamanya.


Selamat jalan, drh. Alfonsius Albinus Mehan. Pulanglah dengan tenang ke tanah kelahiran.

✒️: Albert Cakramento