Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Tinggalkan Karier di Batam, Johor dan Singapura, Cletus Beru Pulang 2010: Kini Bawa Budaya Sikka ke Panggung Nasional

Selasa, 29 September 2026 | September 29, 2026 WIB Last Updated 2026-09-29T22:45:28Z

 



Maumere, NTT, 29 September 2026 — Tahun 2010 menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Cletus Beru. Di saat banyak orang memilih bertahan di kota demi karier dan masa depan, Cletus justru mengambil keputusan berbeda. Ia meninggalkan kehidupan profesional yang telah dijalaninya di Batam dan memilih pulang ke kampung halaman.


Sebelum pulang, Cletus pernah bekerja di perusahaan Jepang PT Giken Precision di Batam. Ia juga pernah berkecimpung di Batam Pro Event Organizer, kemudian menjalani pekerjaan sebagai Executive Marketing dengan aktivitas kerja yang mencakup Batam, Johor dan Singapura.

Namun, pada 2010, semua perjalanan itu ia tinggalkan.

Cletus memilih pulang.


Bukan sekadar kembali ke kampung, tetapi kemudian membangun perjalanan baru bersama masyarakat melalui kebudayaan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial dan bantuan kemanusiaan.


Di Sikka, Cletus kemudian aktif melalui Sanggar Doka Tawa Tana di Kecamatan Bola.


Sanggar tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari tari, musik tradisional, tenun serta berbagai unsur budaya lainnya.


Saat ini, sekitar 150 anggota sanggar aktif terlibat dalam berbagai kegiatan.


Namun, kiprah Cletus tidak berhenti di sanggar.


Ia juga terlibat dalam berbagai aksi sosial dan kegiatan bantuan kemanusiaan, termasuk bekerja sama dengan donatur domestik dan mancanegara dalam sejumlah kegiatan untuk membantu masyarakat.


Dari kebudayaan hingga kemanusiaan, aktivitas tersebut menjadi bagian dari perjalanan Cletus setelah memilih kembali ke kampung halaman.


Ada sisi lain yang tidak kalah penting dari perjalanan budaya Uma Uta.


Di luar sanggar, terdapat sekitar 500 penenun yang kehidupan ekonominya turut bergantung pada pasar dan penjualan sarung tenun.


Di balik selembar sarung tenun, ada waktu, keterampilan dan kerja keras.


Ada tangan penenun yang bekerja.

Ada keluarga yang menunggu hasil penjualan.


Karena itu, ketika sarung tenun dipasarkan, yang bergerak bukan hanya produk budaya.

Ekonomi keluarga para penenun juga ikut bergerak.


Budaya kemudian tidak hanya menjadi warisan yang disimpan, tetapi dapat menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat.


Melalui Sanggar Doka Tawa Tana, Cletus juga mengembangkan dan memperkenalkan warisan budaya Hewokloang.


Meski berdomisili di Bola, Cletus tidak mengklaim warisan tersebut berasal dari Bola. Hewokloang memiliki akar sejarah dan identitas budayanya sendiri.


Melalui aktivitas sanggar, warisan tersebut terus diperkenalkan agar generasi muda dapat mengenal, mempelajari dan meneruskannya.


Sebab, ketika sebuah generasi tidak lagi mengenal budayanya, warisan yang begitu panjang dapat perlahan kehilangan ruang dalam kehidupan.


Sanggar Doka Tawa Tana menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang memperkaya perjalanan Desa Wisata Uma Uta.


Namun, perjalanan Uma Uta sebagai desa wisata tidak dibangun oleh satu sanggar saja.


Ada masyarakat, penenun, pelaku budaya, pengelola wisata dan berbagai unsur lainnya yang ikut mengambil bagian.


Catatan perjalanan Uma Uta telah mencatat sejumlah penghargaan.


Pada 2018, Uma Uta meraih Peringkat Harapan II Kategori Community Based Tourism (CBT) dalam Apresiasi Usaha Masyarakat bagi CBT dan Homestay.


Pada kegiatan yang sama, Uma Uta memperoleh Peringkat Harapan II Kategori Pengelola CBT Terbaik di Jakarta pada 5 Desember 2018.


Uma Uta juga meraih Juara I Kategori Terinspiratif Lomba Booth IP Expo 2018.


Cletus Beru turut mengikuti Training of Trainers (ToT) Pengelola Homestay dalam kegiatan pengembangan dan pendampingan desa wisata di Manggarai Barat pada 19–22 November 2018.


Kemudian pada ADWI 2021, Uma Uta masuk dalam 100 Besar Desa Wisata dengan predikat Desa Wisata Simbol Kebangkitan Ekonomi Nasional.


Sementara Sanggar Doka Tawa Tana menjadi narasumber dalam BISAFEST Budaya Kain Tenun Kabupaten Sikka pada 20 Mei 2023.


Perjalanan Cletus menjadi menarik karena semuanya bermula dari pilihan untuk pulang.


Ia pernah merasakan dunia kerja di perusahaan Jepang.

Pernah berkecimpung di event organizer.

Pernah menjalani aktivitas marketing lintas Batam, Johor dan Singapura.


Namun, pada 2010, ia memilih meninggalkan perjalanan tersebut dan kembali ke kampung.


Di sana, ia memilih dunia yang berbeda.

Dunia yang tidak selalu berbicara tentang jabatan dan penghasilan, tetapi tentang budaya, manusia, kepedulian dan keberlanjutan kehidupan masyarakat.


Perjalanan panjang itu kini membawa nama Cletus Beru ke panggung nasional.


Cletus masuk dalam 5 besar Local Hero in Tourism 2026 dan masih berproses menuju 3 besar.


Ia juga masuk dalam 10 besar nominasi Tokoh Budaya DPD RI Award 2026, yang masih berproses menuju 3 besar.


Namun, penghargaan bukanlah awal dari perjalanan tersebut.

Awalnya adalah sebuah keputusan pada 2010.

Pulang.


Dari keputusan itu lahir perjalanan panjang bersama masyarakat.

Sekitar 150 anggota Sanggar Doka Tawa Tana terus bergerak.


Sekitar 500 penenun di luar sanggar terus menjaga tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga.


Berbagai kegiatan sosial dan bantuan kemanusiaan juga terus menjadi bagian dari kiprahnya bersama jejaring donatur domestik dan mancanegara.


Pada akhirnya, kisah Cletus bukan semata tentang seseorang yang pernah bekerja di Batam, Johor dan Singapura.


Ini adalah kisah tentang seseorang yang pernah pergi jauh, tetapi memilih kembali untuk memberi sesuatu kepada tanah kelahirannya.


Dari Batam ia membawa pengalaman. Dari Bola ia membangun ruang budaya. Dari tangan para penenun, ekonomi terus bergerak. Dari kegiatan sosial, kepedulian terus tumbuh. Dan dari sebuah keputusan untuk pulang pada 2010, cerita itu kini sampai ke panggung nasional.

✒️: Albert Cakramento