Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Jhonny Eduard Rihi Ingatkan Sekolah Perkuat Mitigasi dan Keamanan Anak

Kamis, 08 Oktober 2026 | Oktober 08, 2026 WIB Last Updated 2026-10-08T07:11:00Z

 



Kota Kupang, NTT — Kesiapan anak memasuki lingkungan sekolah tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan gizi. Aspek keamanan, perlindungan, kesehatan, psikososial, hingga kemampuan menghadapi kondisi darurat juga perlu menjadi perhatian sekolah dan orangtua.


Hal itu disampaikan Koordinator Pengawasan Jhonny Eduard Rihi dalam Dancow Seminar Nutrisi Dukung Anak Siap Sekolah yang digelar di SDN Bertingkat Naikoten, Kota Kupang, Kamis (8/10/2026).


Jhonny mengatakan, sekolah perlu memperkuat mitigasi bencana dengan memastikan guru dan tenaga kependidikan memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.


Guru, kata dia, juga perlu menguasai nomor-nomor darurat serta memastikan anak memiliki tempat yang aman apabila orangtua belum dapat menjemput ketika terjadi bencana atau kondisi darurat lainnya.


"Kalau bapak mama belum jemput, anak mau di mana? Ini harus disampaikan kepada orangtua," ujar Jhonny.


Selain mitigasi bencana, Jhonny menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak.


Ia meminta guru memahami batasan interaksi fisik dengan peserta didik. Menurut dia, anak perlu mendapatkan perlindungan dari tindakan yang dapat membuat mereka merasa tidak nyaman, meskipun tindakan tersebut awalnya dimaksudkan sebagai bentuk perhatian.


Jhonny mengingatkan guru agar berhati-hati ketika membantu anak, termasuk dalam hal-hal sederhana seperti merapikan pakaian.


Ia mencontohkan pengalaman ketika seorang guru bermaksud membantu memasukkan pakaian anak ke dalam celana. Niat tersebut, kata dia, dapat menimbulkan persoalan apabila anak merasa malu atau tidak nyaman.


"Guru punya niat baik untuk membantu anak, tetapi bisa terjadi peristiwa yang tidak diinginkan dan anak merasa malu," katanya.


Karena itu, ia meminta sekolah dan orangtua memiliki pemahaman yang sama mengenai perlindungan anak dan batasan interaksi di lingkungan pendidikan.


Jhonny juga menyoroti pentingnya pendampingan psikososial. Menurut dia, hubungan anak dengan keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sosial turut memengaruhi perkembangan mereka.


Ia mengajak orangtua tidak menyerahkan seluruh proses pendampingan anak kepada sekolah. Orangtua perlu terlibat dalam membangun komunikasi, memberikan motivasi, serta mendampingi anak dalam pergaulan.


"Jangan anak saja yang bergaul. Kalau bisa orangtua juga ikut mendampingi dan memotivasi anak supaya menuju masa depan," ujarnya.


Ia juga mengajak keluarga membangun hubungan sosial yang sehat agar anak memiliki ruang untuk belajar berkomunikasi dan mengembangkan kepercayaan diri.


Aspek keamanan digital juga menjadi perhatian Jhonny. Ia meminta orangtua mengawasi penggunaan telepon seluler oleh anak.


Menurut dia, perkembangan teknologi membawa manfaat, tetapi juga menghadirkan risiko bagi anak, termasuk menerima pesan, video, atau panggilan dari nomor yang tidak dikenal.


"Nomor yang tidak jelas harus diwaspadai. Penggunaan digitalisasi dan HP perlu dijelaskan kepada anak," katanya.


Jhonny mendorong orangtua mengurangi penggunaan gawai dan memperbanyak aktivitas fisik anak.


Ia menyarankan permainan tradisional seperti galasin, bermain tali, berlari, dan kegiatan olahraga sederhana sebagai alternatif yang dapat dilakukan anak bersama keluarga maupun teman.


Jhonny juga mengingatkan orangtua mengenai kesehatan anak, termasuk anak perempuan yang mulai mengalami perubahan fisik pada usia sekolah.


Menurut dia, edukasi mengenai kebersihan diri, kesehatan tubuh, dan perlindungan diri perlu diberikan sesuai usia anak.


Ia juga mengingatkan orangtua agar tidak membiarkan anak menggunakan obat atau menangani luka secara sembarangan tanpa pendampingan.


"Kalau ada luka atau kondisi yang membutuhkan penanganan, segera ke puskesmas atau fasilitas kesehatan. Jangan menggunakan obat sembarangan," katanya.


Sekolah, lanjut dia, perlu memiliki perlengkapan pertolongan pertama yang mudah dijangkau untuk menangani kondisi darurat.


Jhonny juga meminta sekolah dan orangtua memperhatikan kondisi anak ketika cuaca panas. Anak perlu dibiasakan membawa air minum dan diberi kesempatan untuk mendinginkan tubuh ketika mengalami kepanasan.


Ahli Gizi Puskesmas Bakunase, Noni Graspei, mengatakan seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar di delapan provinsi dan 14 kota di Indonesia.


Menurut Noni, kegiatan tidak dilaksanakan di seluruh kota, tetapi dipusatkan pada sejumlah sekolah yang telah ditentukan.


"Kita bersyukur kegiatan ini ada di tempat bapak dan ibu. Ini baru pertama kali diadakan di sini," kata Noni saat membuka kegiatan.


Ia menjelaskan, rangkaian seminar tersebut menyasar 75 sekolah dasar. SDN Bertingkat Naikoten merupakan sekolah ke-65 yang menjadi lokasi kegiatan, sehingga masih terdapat 10 sekolah lainnya yang akan dikunjungi.


Noni mengatakan kegiatan dirancang secara interaktif agar orangtua tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam aktivitas selama seminar.


Sebelum materi dimulai, peserta diajak mengikuti permainan mencari 12 kata tersembunyi dari susunan huruf acak. Peserta diberikan waktu satu menit untuk menemukan kata-kata tersebut.


Menurut Noni, permainan itu menjadi bagian dari upaya membangun suasana yang lebih santai dan meningkatkan antusiasme orangtua sebelum seminar dimulai.


"Supaya kita semua semangat, sebelum seminar ada satu permainan yang menarik," ujarnya.


Jhonny berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai penyampaian informasi. Menurut dia, pengetahuan mengenai gizi, kesehatan, perlindungan, keamanan digital, psikososial, dan mitigasi bencana perlu diterapkan bersama di lingkungan sekolah dan keluarga.


"Jangan hanya sekadar informasi. Apa yang disampaikan hari ini harus menjadi perhatian dan dilakukan bersama," ujar Jhonny.

✒️: kl