Maumere, NTT — Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman Ruben Riantoby, wartawan senior, pendiri sekaligus pembina Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), yang digelar di kampung halamannya, Adonara, Kecamatan Luba Kolit, Desa Lambunga, Kamis (1/10/2026).
Dalam suasana duka tersebut, Ketua Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menyampaikan penghormatan terakhir sekaligus mengenang perjalanan panjang Ruben Riantoby dalam dunia jurnalistik dan sejarah berdirinya AWAS.
Di hadapan keluarga almarhum, para imam, tokoh agama, tokoh masyarakat, rekan-rekan jurnalis serta keluarga dan sahabat yang hadir, Ketua AWAS menyampaikan bahwa Ruben bukan sekadar seorang wartawan senior.
Ia merupakan bagian penting dari perjalanan jurnalistik generasi muda di Kabupaten Sikka sekaligus salah satu tokoh yang meletakkan fondasi berdirinya AWAS.
“Bagi saya pribadi, Bapa Ruben bukan hanya seorang wartawan senior.
Beliau adalah bagian dari perjalanan jurnalistik saya, perjalanan jurnalistik rekan-rekan AWAS dan perjalanan AWAS sendiri,” ungkap Ketua AWAS dalam sambutannya.
Ia kemudian mengisahkan kembali perjumpaannya dengan Ruben sekitar awal Februari 2014.
Saat itu, dirinya masih berada di penghujung masa kuliah di Universitas Nusa Nipa dan menjadi kontributor Flores Pos.
Bersama sejumlah wartawan muda lainnya, ia diajak bergabung oleh para senior yang tengah menginisiasi pembentukan organisasi wartawan di Kabupaten Sikka.
Salah satu tempat penting dalam proses awal tersebut adalah rumah Ruben Riantoby di Kota Uneng.
Rumah yang asri dan dipenuhi pepohonan itu menjadi tempat para wartawan muda dan senior berdiskusi, bertukar pikiran serta menyusun gagasan untuk membangun sebuah organisasi wartawan.
Dari berbagai pertemuan dan proses tersebut, pada 14 Februari 2014, Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) resmi dideklarasikan.
Ruben Riantoby kemudian dipercaya menjadi Ketua pertama AWAS.
Bagi generasi wartawan muda ketika itu, Ruben tidak hanya dipandang sebagai seorang ketua organisasi.
Ia menjadi sosok senior yang menjadi tempat bertanya, belajar dan mendapatkan nasihat mengenai dunia jurnalistik.
“Bagi kami yang masih muda, beliau bukan hanya ketua. Beliau adalah seorang bapa, tempat bertanya dan tempat belajar,” ujar Ketua AWAS.
Kini, ketika dirinya dipercaya memimpin AWAS, ia menyadari bahwa organisasi tersebut merupakan bagian dari warisan yang ikut dibangun oleh Ruben bersama para senior lainnya.
“Ketika saya berdiri sebagai Ketua AWAS, saya sadar bahwa saya sedang melanjutkan organisasi yang salah satu fondasinya diletakkan oleh Bapa Ruben,” katanya.
Menurutnya, kehilangan Ruben merupakan kehilangan salah satu bagian penting dari sejarah AWAS.
Dalam sambutannya, Ketua AWAS juga mengenang prinsip jurnalistik yang selama ini diajarkan Ruben kepada generasi muda.
Menurutnya, Ruben mengajarkan bahwa jurnalistik bukan sekadar menulis berita, mengambil gambar atau mengejar sebuah peristiwa.
Jurnalistik, kata dia, juga menyangkut keberanian, kebenaran dan kemanusiaan.
Dalam sejumlah kegiatan liputan bersama di desa-desa dan wilayah terpencil di Kabupaten Sikka, Ruben disebut selalu berusaha mendengarkan masyarakat secara langsung.
Ia tidak terburu-buru mencari bahan berita dan meninggalkan lokasi.
Ruben lebih banyak duduk, mendengarkan dan berusaha memahami kehidupan masyarakat yang ditemuinya.
“Bagi Bapa Ruben, wartawan harus melihat sendiri, mendengar sendiri dan memahami keadaan warga sebelum menulis. Terutama mereka yang kecil dan sering tidak memiliki suara,” ungkapnya.
Di luar dunia jurnalistik, Ruben juga dikenang sebagai sosok yang menjalani kehidupan sederhana.
Setelah pensiun dari dunia jurnalistik pada 2023, Ruben lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan mengurus tanaman serta memelihara ternak babi dan ayam.
Bagi rekan-rekan yang datang berkunjung ke rumahnya, ada pula kenangan sederhana yang sulit dilupakan.
Sering kali, para tamu pulang membawa buah-buahan seperti mangga atau pisang dari rumah Ruben.
Kenangan-kenangan sederhana tersebut kini justru menjadi bagian yang paling dirasakan oleh keluarga dan rekan-rekan yang ditinggalkan.
Ruben Riantoby meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal di kawasan Bukit Fatimah, Larantuka, pada Selasa malam, 29 September 2026.
Kabar tersebut sontak membawa duka bagi keluarga, sahabat dan komunitas jurnalistik di Nusa Tenggara Timur.
Ketua AWAS menyebut kepergian Ruben sebagai kehilangan yang datang begitu cepat dan mendadak.
Namun, ia menegaskan bahwa kepergian Ruben tidak akan menghapus berbagai hal yang telah diwariskannya.
Karya jurnalistik Ruben akan tetap menjadi bagian dari sejarah pers di Kabupaten Sikka.
Demikian pula dengan AWAS yang akan terus mengingat bahwa organisasi tersebut pernah tumbuh dari gagasan para senior, termasuk Ruben Riantoby.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua AWAS menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini mereka panggil dengan sebutan Bapa Ruben.
“Terima kasih, Bapa Ruben. Terima kasih untuk kebersamaan, nasihat dan cerita-cerita. Terima kasih karena pernah menjadi bagian dari perjalanan kami sebagai wartawan muda dan telah ikut menanamkan fondasi AWAS,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan doa agar Tuhan menerima Ruben Riantoby di tempat terbaik serta memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Selamat jalan, senior kami. Selamat jalan, pembina kami.
Selamat jalan, Bapa Ruben Riantoby. Karya dan kebaikanmu akan tetap hidup dalam ingatan kami,” tutupnya.
Nama Ruben Riantoby, bagi keluarga besar AWAS, tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu. Namanya akan terus dikenang sebagai salah satu tokoh yang ikut meletakkan dasar perjalanan organisasi wartawan tersebut di Kabupaten Sikka.
