Maumere, NTT — Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa, Drs. Sabinus Nabu, menantang 708 wisudawan dan wisudawati Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus kuliah, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
Pesan tersebut disampaikan Sabinus dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-XXVIII UNIPA Maumere Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Sabinus, gelar sarjana bukanlah akhir perjuangan akademik, melainkan awal untuk membuktikan kemampuan diri di tengah persaingan dunia kerja dan perubahan kebutuhan masyarakat.
“Jangan hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi beranilah menjadi pencipta lapangan kerja (job creator),” tegasnya.
Ia mengatakan, ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi perlu diwujudkan melalui karya, inovasi, dan kontribusi nyata. Para lulusan juga diharapkan mampu melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menghadirkan solusi.
Bagi Sabinus, tantangan seorang sarjana tidak berhenti pada keberhasilan memperoleh pekerjaan. Kemampuan mengembangkan usaha, menciptakan peluang ekonomi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat juga menjadi bagian dari kontribusi lulusan perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Sabinus turut menyoroti fenomena Strawberry Generation, istilah yang kerap digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang kreatif dan akrab dengan teknologi, tetapi dianggap rentan menghadapi tekanan dan persaingan.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi kemampuan berinteraksi, membangun relasi, menyelesaikan masalah, dan menghadapi tantangan secara langsung.
Menurutnya, dunia kerja dan usaha tidak hanya membutuhkan penguasaan teknologi, tetapi juga ketahanan mental, kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, serta kemauan untuk belajar dari kegagalan.
Sabinus menyebut empat kemampuan yang perlu dikembangkan para lulusan, yakni mental agility atau kelincahan mental, change agility atau kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, people agility atau kemampuan bekerja sama, dan learning agility atau kemampuan belajar dari pengalaman.
Keempat kemampuan tersebut dinilai penting agar para sarjana mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dunia kerja dan mengembangkan kompetensi sepanjang perjalanan karier mereka.
Sabinus juga mengingatkan para wisudawan agar tidak terpaku pada pola pikir lama dan terus bertahan dalam zona nyaman.
Menurutnya, perubahan zaman menuntut setiap orang untuk mengevaluasi diri, meninggalkan kebiasaan yang tidak lagi relevan, serta mengembangkan gagasan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ia mendorong para lulusan untuk terus mempertanyakan inovasi yang dapat diciptakan, kebiasaan yang perlu diperbaiki, dan nilai tambah yang bisa diberikan kepada lingkungan sekitar.
Pesan tersebut menekankan bahwa keberhasilan tidak cukup dibangun melalui motivasi. Para lulusan juga membutuhkan tindakan nyata, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan.
Dengan bekal tersebut, sarjana diharapkan mampu mengembangkan potensi daerah, membuka peluang usaha, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Sabinus menegaskan komitmen Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa untuk terus mendorong peningkatan kualitas UNIPA sebagai institusi pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Timur.
Upaya tersebut mencakup peningkatan sarana dan prasarana pembelajaran, pengembangan kapasitas penelitian dosen, integrasi teknologi digital dalam kurikulum, serta perluasan kerja sama dengan dunia industri dan pemerintah.
Yayasan berharap UNIPA dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki integritas, daya saing, dan karakter yang berlandaskan nilai budaya serta moral.
Sabinus juga menyampaikan apresiasi kepada rektor, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua dan keluarga wisudawan yang telah mendukung perjalanan pendidikan para lulusan.
Menurutnya, keberhasilan mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan hasil dari proses belajar, kerja keras, dan dukungan berbagai pihak.
Menutup sambutannya, Sabinus berpesan agar para wisudawan angkatan ke-XXVIII menjaga identitas dan nama baik almamater ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Ia mendorong para lulusan untuk tidak gentar menghadapi masa depan, terus belajar, beradaptasi, dan berani mengambil peluang.
Para sarjana diharapkan mampu menjadi agent of change atau agen perubahan yang menghadirkan solusi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan ungkapan Latin “Non scholae sed vitae discimus”, yang berarti manusia belajar bukan semata-mata untuk sekolah, melainkan untuk kehidupan.
Bagi 708 lulusan UNIPA Maumere, wisuda menjadi awal perjalanan baru untuk menerapkan ilmu dan kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa gelar sarjana tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi bekal untuk menciptakan peluang kerja, mengembangkan potensi daerah, dan membawa perubahan bagi Nian Tana Sikka, Nusa Tenggara Timur, serta Indonesia.
