Maumere, NTT — Rektor Universitas Nusa Nipa (UNIPA) Maumere, Dr. Jonas K.G.D. Gobang, S.Fil., M.A., mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik. Ia menantang 708 wisudawan dan wisudawati untuk membuktikan kualitas diri melalui karya, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-XXVIII UNIPA Maumere Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (10/10/2026).
“Jangan menjadi sarjana kertas!” tegas rektor yang akrab disapa Dr. Geri Gobang itu dalam sambutannya.
Ia menggambarkan sarjana kertas sebagai orang yang memiliki gelar, tetapi tidak mampu menunjukkan kemampuan dan integritas dalam kehidupan nyata.
“Sarjana kertas adalah orang yang memiliki gelar tetapi tidak memiliki daya, memiliki ijazah tetapi tidak memiliki integritas, serta hanya pandai berbicara teori tanpa mampu menyelesaikan masalah nyata. Jadilah sarjana yang mampu menciptakan nilai di mana pun kalian berada,” ujarnya.
Menurut Geri, keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan yang dihasilkan. Perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menerapkan ilmu pengetahuan, menjawab tantangan zaman, dan memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.
Wisuda kali ini mengusung tema “Inspiring Change: Berkarya, Berinovasi, dan Menginspirasi”.
Tema tersebut menekankan bahwa kelulusan bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal bagi para sarjana untuk membuktikan kompetensi dan pengetahuan yang telah diperoleh selama kuliah.
Geri menjelaskan, berkarya berarti menjadikan ilmu pengetahuan bermanfaat bagi kehidupan bersama. Berinovasi membutuhkan keberanian untuk menciptakan nilai baru, sedangkan menginspirasi berarti memberikan pengaruh positif melalui tindakan dan keteladanan.
Di tengah persaingan dunia kerja, para lulusan diharapkan tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan. Mereka juga perlu mengembangkan potensi daerah, menciptakan peluang usaha, dan mengambil bagian dalam pembangunan.
Prosesi wisuda tersebut turut dihadiri pejabat pemerintah daerah, pimpinan LLDIKTI Wilayah XV, tokoh agama, pengurus Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa, dosen, serta keluarga wisudawan dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur dan luar pulau.
Dalam sambutannya, Geri juga memaparkan sejumlah perkembangan UNIPA selama enam bulan terakhir.
Di bidang pendidikan, tiga program studi disebut berhasil meraih akreditasi unggul, yakni S1 Manajemen, S1 Keperawatan, dan Program Profesi Ners. UNIPA juga membuka Program Pascasarjana Magister Manajemen (S2).
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya kampus meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi.
Pada bidang internasionalisasi, UNIPA menjalin kerja sama dengan Cavanis Educational Network di Eropa. Kampus tersebut juga membuka jalur pengembangan karier internasional bagi lulusan melalui kerja sama dengan LPK Bintang Indo Corpora dan LPK Musubu Bali.
Menurut Geri, sejumlah alumni UNIPA telah memasuki dunia kerja internasional, termasuk di Jerman dan Dubai.
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi bagian dari capaian yang disampaikan rektor.
UNIPA saat ini memiliki 22 dosen bergelar doktor. Selain itu, 22 dosen lainnya sedang menempuh pendidikan doktoral di dalam dan luar negeri, termasuk di Kansas University serta sejumlah perguruan tinggi di Australia, Denmark, dan Selandia Baru melalui dukungan beasiswa LPDP.
Di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, UNIPA memperoleh sejumlah pendanaan melalui program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA), Kosabangsa, Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP, serta penelitian mengenai permainan tradisional Bola Flores.
Capaian mahasiswa turut mewarnai perkembangan kampus. Dua mahasiswa Program Studi Psikologi lolos mengikuti program internasional di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan data science di The University of Tokyo.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Fisika berhasil merancang alat pemantauan cuaca berbasis Internet of Things (IoT) di Gunung Ebulobo. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNIPA juga berpartisipasi dalam Indonesian Future Leaders Camp.
Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan upaya pengembangan pendidikan yang mencakup penelitian, pemanfaatan teknologi, dan pengalaman internasional.
Dalam sambutannya, Geri juga mengangkat nilai budaya lokal Nian Tana Sikka melalui syair adat “O Ina Naga”.
Nilai filosofis tersebut diabadikan dalam nama Naga Natar Room, ruang rapat Rektorat UNIPA yang dimaknai sebagai simbol berkarya, berinovasi, dan menumbuhkan kesadaran eksistensial.
Geri menegaskan bahwa capaian yang diraih dalam enam bulan terakhir tidak menjadi alasan bagi UNIPA untuk berhenti berbenah.
“Ini merupakan capaian dan inovasi yang berhasil kita raih dalam enam bulan terakhir. Dan kita tidak berhenti di situ, kita akan terus melakukan inovasi,” katanya.
Bagi 708 wisudawan dan wisudawati, kelulusan menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus awal tanggung jawab baru.
Tantangan mereka setelah meninggalkan kampus adalah menerapkan ilmu pengetahuan, menjaga integritas, mengembangkan kompetensi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan rektor agar tidak menjadi sarjana kertas menjadi pengingat bahwa gelar akademik perlu disertai kemampuan nyata untuk bekerja dan menyelesaikan persoalan.
Dengan bekal pendidikan yang diperoleh, para lulusan diharapkan mampu mengambil peran dalam pengembangan potensi lokal dan pembangunan Nusa Tenggara Timur.
Sebagaimana ditekankan Geri, sarjana tidak cukup hanya memiliki ijazah. Mereka dituntut mampu menciptakan nilai melalui karya dan membawa perubahan di mana pun berada.
✒️: Albert Cakramento
